22. X Y 🍂

624 67 0
                                        

—Salam Literasi—

-&-

Jangan pernah menyepelekan sesuatu yang nilainya kecil, terkadang sesuatu yang kecil berdampak besar.

-&-

   "Naya ...! Naya ...!" Dari lantai pertama hingga lantai tiga, cowok itu terus meneriaki nama gadis yang kemarin memberinya saran.

   "Kenapa, Yan?" tanya Naya keluar kelas setelah mendengar namanya terpanggil terus menerus. Sejenak dia mengatur napas, memberikan celah untuk berbicara. "Iya, nih lo mah heboh banget kayak katak mau lahiran," sahut Feila.

   Dia tidak mau jika semua orang mengetahui masalah ini. Rian memberi isyarat agar Feila pergi dulu.

   "Huft, syukurlah bocah itu udah pergi. Gue cuman mau ngasih tahu kalau orang gila itu malah ngasih surat di loker gue," ceritanya memberikan sebuah amplop bewarna pink. "Orang gila? Secret Admirer?" Rian mengangguk.

   Naya membukanya, kemudian gadis itu membaca dalam hati. Sungguh kalau membaca surat kayak gini, dirinya tergelitik geli meski tidak pernah menerima surat. Namun, tetap saja agak aneh rasanya.

Hai, Riansyah bolehkah aku bertanya? Bertanya tentang sebuah rasa yang pernah ada. Namun, entah kenapa melihatmu dengannya hatiku seakan mati rasa. Rasa itu perlahan sirna. Rasa cinta yang luar biasa kini terkesan biasa saja. Apakah aku yang terbiasa dengan semuanya. Mencintai tanpa harus dianggap ada. Merindukan tanpa sebuah balasan. Aku tahu diri ini yang salah telah berani mencintai seorang cowok famous yang begitu dipuja.

Kuharap ini bukan terakhir kalinya aku mengirim surat karena tiba-tiba duniaku runtuh. Kakiku tidak kuat untuk berpijak. Pendirianku goyah. Aku tidak mengenal rasa cinta. Kini yang ada hanyalah rasa dendam semata. Maaf, jika perlahan orang-orang di sekitarmu akan merasakan akibatnya.

Salam pisau berdarah.

    "Kok gue ngeri, ya, Yan. Benar-benar lo kayak diteror," ujarnya mengembalikan surat itu. Naya tidak ingin terlibat karena ini bukan rananya. Namun, bagaimana dengan Lian? Bukankah dia sahabat Rian juga? Dia tidak ingin melihat Lian kenapa-napa, tapi Naya bisa apa?!

    "Entar gue nanya Lian aja deh, mayan dapet ceramahan gratis." Rian hendak pergi, tapi Naya mencegahnya. "Mending lo jauhin Ria dulu, deh, Yan."

   "Kenapa?" tanya Rian seakan tidak mau, "demi kebaikan kalian juga, Yan. Baca baik-baik surat itu lagi." Naya juga merasa khawatir dengan Ria, karena rekan se-organisasinya itu juga dekat dengan Rian.

   "Gue usahain," jawabnya dengan cepat, Naya langsung menuruni tangga. Selain itu tadi bu Cahya memanggil, katanya mau minta bantuan untuk mangordinir barang-barang yang akan dibawa ke panti.

   Di ruang OSIS sudah ada bu Cahya yang mengintruksi beberapa anak OSIS lainnya, bu Cahya adalah seorang wanita tangguh dan penuh kedipslinan.

    "Jadi, setiap kelas diminta bantuan seikhlasnya terus dan juga diambilkan dari DANSOS yang setiap kamis dijalankan di setiap kelas," tuturnya meminta Belva—selaku sekretaris OSIS untuk mencatat.

   "Entar keterangannya bantuan untuk panti, ya Bu?" Bu Cahya mengangguk.

    "Amaya, tolong sediakan kardus buat tempat uang entar digilir tiap kelas." Naya mengangguk kemudian mencari ke gudang sekolah bersama Aya, siapa tahu di sana ada kardus yang masih layak dipakai. "Iya, Bu. Euhm, nama saya Anaya bukan Amaya."

   Mereka dibuat sibuk dengan persiapan lusa, sampai-sampai ada sebagian anak OSIS yang tidak mengikuti jam pelajaran guna mempersiapkan semua ini.

   "Jangan sampai membuat kesalahan yang fatal, karena acara ini sudah di masyarakat tempatnya." Mereka mengangguk. "Rian, kamu nggak ikut ulangan sosiologi? Mau ikut ulangan susulan?!"

   Rian yang sedang memeriksa daftar panti pun terkesigap, ternyata bu Cahya tahu kalau dia sedang menghindari ulangan itu. Siapa tahu dapat bonus, ya kan? Nilai tetap ada meski tidak mengikuti ulangan. Alasan Rian mencari-cari kesibukan dari tadi ya ini ... agar tidak kembali ke kelas.

   "I—iya, Bu. Saya kembali ke kelas dulu," jawabnya keluar ruangan. "Resha, Aulian ke mana?!"

   "Lian masih jaga koperasi, Bu."

   "Suruh dia ke sini, saya mau bicarakan dananya," pinta bu Cahya membuat gadis itu mengangguk. Segera dia menyusul Lian.

   ****

   Seorang cowok berpakaian serba hitam dengan slayer yang menutup mulut dan hidungnya itu menghampiri sebuah kumpulan remaja yang nongkrong di salah satu warung, dia menggunakan celana jeans dengan bagian lutut robek-robek. Matanya menyorot tajam setiap apa yang dilihatnya, sedangkan rambutnya ia biarkan berantakan sampai-sampai menutupi salah satu matanya.

   Semakin dekat dengan perkumpulan itu, semakin fokus pula dengan seorang laki-laki berkuncir satu di belakang. Laki-laki itu masih tertawa renyah, belum menyadari jika ada yang terus mengamatinya.

   "Gue perlu bicara sama lo," sarkasnya dengan tenang, terdengar suara berat. Setelah menunjuk Panca, cowok itu berlalu pergi meminta Panca mengikutinya.

   "Ngomong di sini kenapa elah?" ledek salah satu temannya membuat dia menghentikan langkah. "Kenapa? Lo takut bos lo gue habisi?!"

   "Hei!" Sontak semua berdiri termasuk Panca, sungguh laki-laki dengan tangan yang dimasukkan saku celana itu ingin sekali tertawa. Namun, dia hanya berdecih. "Lo pada banci? Bisanya mau keroyokan!!"

   "Okay, tenang guys. Gue kagak akan kenapa-napa sama tikus ini," katanya menenangkan teman-temannya kemudian mengiyakan ajakan laki-laki yang entah dari mana datangnya.

   "Lo siapa?!"

   "Lo nggak perlu tahu siapa gue, gue cuman mau ngingetin kalau lo berani lagi usik ketenangan dua sekolah. Lo akan habis di tangan gue," tukasnya tidak ingin basa-basi.

   "Ngancem lo?!"

   "Panca Panca, lo belum tahu siapa gue! Jangan macem-macem," katanya tersenyum sinis. "Xila? Buka slayer lo."

   Lagi-lagi dia menggeleng, saat Panca ingin membuka slayer dia mengelak. Terjadi perkelahian sebentar, sebelum Panca mampu ia kalahkan dengan mudah dengan strategi yang meyakinkan. "Kalau main pisau ngomong nggak diem-diem, bangsat."

   Darah mengucur dari pelipisnya, tadi Panca menggunakan pisau lipat untuk menyerangnya dengan tiba-tiba.

   Laki-laki itu segera menaiki motor dan memakai helm fullface-nya, dia menaikkan kecepatan motor. Panca hanya mampu menangkap gelang karet di tangan kiri cowok itu, ada sebuah gantungan huruf X dan Y.

   Di sisi yang lain, Belva sedang membalas chatting Lian meski hanya menanyakan sudah makan atau tidur saja hatinya senang bukan kepalang.

Aulian Bashira Ghayda

|Besok gue dianterin Papa, sekalian pesen tiket liburan sekeluarga

|Happy holiday

|Belum, Lian entar aja

|Wkwkwk, iya dah iya

|Jangan lupa oleh-olehnya

|Mau oleh-oleh apa?

|Apa aja kalau lo yang ngasih gue seneng

|Makasih, Yan

.
.
.
.
Selamat menebak-nebak riah🤡

AULIANAYA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang