Dira menghapus peluh yang membasahi dahinya. Hanya tinggal membersihkan sampah yang berserakan dilapangan. Pandanganya menoleh kearah ruang OSIS.
"Nggak ada kerjaan apa ya tu orang," cibirnya pelan saat masih melihat laki-laki yang menghukumnya berdiri menyender ke pintu dengan mata menyorot tajam kearahnya. Tak ada raut yang ditunjukkan, datar dan dingin.
30 menit berlalu, Dira tersenyum penuh arti saat kerjaanya selesai. Langkahnya membawa ke ruang OSIS untuk melapor.
"Apa?" bingung Dira saat laki-laki itu menyodorkan minuman botol dingin. Tapi kemudian meraihnya dengan canggung. "Makasih kak,"
"Hmm," cowok itu hanya bergumam, kemudian masuk ke ruang OSIS. Mengambil kertas serta pulpen kemudian menuliskan sesuatu secara cepat.
"Ini?, gue nggak minta tanda tangan sama kakak," ujar Dira bingung melihat apa yang dituliskan. Sebuah kertas berisi tanda tangan yang langsung disodorkan kearahnya.
Walaupun laki-laki didepanya ini tampan, sangat tampan. Tapi Dira tak mau mempermalukan dirinya dengan meminta tanda tangan cowok itu.
"Balik kumpul," ujar laki-laki itu dingin kemudian berlalu masuk ke ruang OSIS.
Dira masih terlihat bingung, tapi gadis itu tetap menuruti. Melihat mereka yang sudah hampir membentuk barisan rapi membuat Dira segera bergegas.
"Disuruh ngapain?" tanya Yara saat Dira sampai dan berbaris disebelahnya.
"Nanti aja, nggak liat mata mereka tajem banget," ujar Dira pelan. Tanganya masih memegang kertas berisikan tanda tangan tadi.
"YANG MERASA NGGAK DAPET TANDA TANGAN MENYINGKIR!" teriak salah satu anggota Osis membuat Dira mengernyit.
Banyak siswa yang menyingkir karena tak mendapat tanda tangan. Tidak dengan Dira yang masih bingung.
"Tadi disuruh ngapain?" tanya Dira pada Yara.
"Oh, suruh ngumpulin tanda tangan Osis. Tapi harus mikir, mana yang Osis mana yang bukan karena mereka nggak pake almameter Osis." jawab Yara yang membuat Dira menahan senyum bangga.
"Jadi tadi gue dibantuin ceritanya," gumamnya pelan. Gadis itu tak menyingkir karena merasa mendapatkan tanda tangan.
"Lo kan nggak ngumpulin ya?" tanya Yara mengingat temannya habis dihukum.
Dira tersenyum. Kemudian kertas yang berisi tanda tangan ia sodorkan ke depan Yara membuat gadis itu kaget. "Kok bisa?" tanyanya bingung.
"Bisa dong," ujar Dira antusias.
Para anggota Osis mulai memutari barisan satu per satu. Mengambil tanda tangan dari pada siswa-siswi. Setelahnya mereka diperbolehkan istirahat sejenak sebelum memulai kegiatan baru lagi.
_ _ _
"Dir, sumpah beruntung banget lo dihukum kaya gitu," ujar Winda membuat Dira memukul kepala teman barunya itu menggunakan sendok.
"Orang dihukum kok beruntung, bego lo?" tanya Dira ketus.
"Emang tau, ganteng banget sumpah." tambah Desi yang membuat Dira memberengut kesal.
"Iya, dia itu cowok yang paling diidam-idamin disini. Ganteng, tajir, apalagi sikap dinginya itu loh. Bikin tambah keliatan auranya." ujar Winda menjelaskan.
"Dia ketua Osis?" tanya Yara.
"Hooh, padahal temenya brandalan semua." ujar Desi antusias.
"Kok tau banget?" tanya Dira tetap memakan siomay didepanya.
"Yeu, nggak cuma gue yang tau. Lo tanya anak SMA lain pun mereka bakal tau siapa dia," ujar Desi yang dibalas anggukan Winda.
Saat ini mereka sedang berada di kantin untuk mengisi perut setelah kegiatan yang berlangsung melelahkan. Terlebih Dira.
"Dia itu, Erlan Anggara. Tau kan? Ganteng, banyak tuh fansnya. Tapi dingin banget. Jadi nggak ada yang berani deketin," jelas Winda.
Dira hanya bergumam.
"Dir, gue bingung deh, lo kan dihukum. Kenapa bisa dapet tanda tangan?" tanya Yara membuat mereka berfikir keras.
"Iya, ampe lupa gue mau nanyain itu," tambah Desi.
"Itu tanda tanganya si ketua Osis,"
"Ih sumpah?"
"Tuh kan gue bilang, lo tu beruntung banget tau nggak,"
"Anjir keselek gue,"
Dira langsung menyodorkan minuman ke arah Yara. Astaga, responya gitu amat. Padahalkan cuma tanda tangan.
"Pengin deh gue," ujar Winda mengandai-andai. Sepertinya gadis macam Winda adalah penghalu yang berat.
"Jijik," ujar Dira melihat kelakuan temanya.
"Tuh mereka dateng," ujar Desi yang membuat mereka menoleh ke pintu kantin. Kantin yang awalnya tenang pun menjadi ramai.
"Itu geng nya kak Erlan? Astaga ganteng banget,"
"Ya allah suami gue,"
"Suami gue,!"
"Si Allard sama Erlan ngapain diem mulu deh."
"Eh buset. Si Rio manis banget anjir."
"Erlan tuh, cool banget"
"Ngakak gue, liat Naresh sama Lintang debat mulu kerjaannya."
"Si Andra ngapa dah?!"
Mulut Dira menganga. Bukan, bukan karena terpesona. Tapi karena respon siswa siswi yang diluar dugaan. Bahkan lebih alay daripada Winda maupun Desi.
"Kedip njir!" teriak Dira kesal melihat temanya yang masih asik menatap keenam orang itu sampai mereka duduk di bangku paling pojok.
"Ganteng banget, ya ampun,"
"Mata gue tiba-tiba nggak bisa kedip,"
"Masa depan gue ternyata udah di depan,"
"Astaga," desah Dira pelan. Ucapanya bahkan tak dihiraukan. Mereka lebih asik memuji kelima orang itu. Dira akui mereka memang tampan. Tapi ayolah, jangan kaya orang yang nggak pernah liat cowok ganteng aja.
"Gila gue lama-lama," keluh Dira pelan.
Matanya juga ikut-ikutan melirik arah kelima cowok yang sekarang menjadi pusat perhatian itu.
"Mereka juga nggak peduli," gumamnya.
"Gila beneran gue, ngomong sendiri."
_ _ _
Beneran gila.
Next?
KAMU SEDANG MEMBACA
SENIOR LOVE
Teen FictionErlan Anggara, ketua osis di SMA nya sendiri, SMA Cakrawala. Dingin, bermulut pedas, itu yang mereka kenal dari Erlan. Satu lagi, tampan. Semua wanita yang melihatnya akan tergila-gila, tapi tak ada berani yang mendekatinya. Erlan tak bisa tersentuh...
