1. MOS

94.5K 9.8K 541
                                        

Area lapangan terlihat ramai saat ini. Berlari-larian untuk mempersiapkan diri untuk pembukaan MOS di SMA Cakrawala. Tak hanya anggota OSIS yang sibuk. Para peserta didik baru pun berkali-kali meneliti penampilanya.

Gadis cantik rambut sepunggung bewarna coklat itu berjalan tenang memasuki gerbang SMA. Alisnya sedikit mengernyit heran kala melihat perlengkapan mereka yang sedikit berbeda denganya.

Atau mungkin perlengkapan miliknya yang salah? Pemikiran itu langsung ditepis dari otaknya. Secara yang memberikan informasi mengenai MOS adalah kakak perempuanya sendiri yang tergabung dalam anggota OSIS.

Gadis itu sesekali menampilkan senyumnya saat banyak yang menatapnya canggung dan aneh. Kakinya terus melangkah tak tentu arah di lapangan yang sangat luas ini.

"Hai,"

Gadis itu menampilkan senyuman saat seorang perempuan berambut sebahu menghampirinya.

"Hai," balas gadis itu ramah. Tanganya ia sodorkan untuk berkenalan yang langsung disambut antusias.

"Gue, Yara," ujar perempuan tadi.

"Dira, Andira," jawab Dira ramah.

"Mau ikut nggak?" tanya Yara. Tanganya menyeret tangan Dira untuk mengikutinya.

"Eeh kemana," tanya Dira kaget.

"Ketemu temen gue, temen baru juga," ujar Yara menoleh ke arah Dira.

Dira mengulum senyum. Setidaknya hari pertama memasuki sekolah dirinya sudah mendapat teman baru kan.

"Guys!" panggil Yara ke dua orang perempuan yang sedang duduk lesehan dipinggir lapangan.

"Sini!" ujar salah satu dari mereka.

"Ini?" tanya mereka bingung melihat Dira.

Dira tersenyum manis. "Dira," ujarnya antusias.

"Oh hallo, gue Desi," ujar perempuan yang mempunyai lesung pipi.

"Gue, Winda."

"Sini duduk,"

Dira mengangguk, mulai mendudukan dirinya dipinggir lapangan. Tempat yang dipilih mereka sangat sejuk karena banyak pepohonan dibelakangnya. Dan tidak panas tentunya.

"Lo nggak pake ini?" tanya Winda menunjuk salah satu perlengkapan yang melekat ditubuhnya.

"Ha?" jawab Dira bingung. "Nggak, gue taunya cuma pake ini," lanjut gadis itu setelah memahami.

"Yaudahlah,"

"Kapan mulainya sih ini?" tanya Yara. Pasalnya sedari tadi tidak dimulai pengenalan perserta didik baru.

"Nggak tau, lama amat perasaan." keluh Desi.

"Ganteng-ganteng ya?" ujar Winda berbinar.

Mereka mengikuti pandangan Winda yang menuju kearah 5 orang laki-laki yang duduk santai dibawah tiang bendera. Sayang, pakaian yang dikenakan terlihat mereka berandalan.

"Nakal itu," cibir Dira.

"Lihat yang paling pojok, paling ganteng," ujar Yara memberi intruksi.
"Dia bukanya pake almameter OSIS deh," ujar Yara yang memang dibetulkan oleh mereka.

Mata Dira terus menatap kearah orang itu, terlebih yang memakai pakaian paling rapi dari lainya. Tampan, satu kata yang pantas didapatkan.

Dira tersentak kaget dan langsung mengalihkan tatapanya saat mata mereka tiba-tiba bertubrukan. Mata Dira masih sesekali melirik orang yang menatapnya tajam itu.

"Kepada peserta didik baru, harap kumpul dilapangan."

Mendengar teriakan itu mereka langsung bergegas berdiri dari duduknya. Berkumpul menjadi satu ditengah lapangan. Menjadi satu seperti itu membuat mereka terlihat sangat banyak.

"BARIS SEMUANYA!" teriak salah satu anggota OSIS melihat mereka masih berkumpul tak aturan.

"BISA BARIS GAK!!" suara berat itu membuat mereka tersentak kaget.

Laki-laki itu kini berdiri diatas podium dengan muka dinginnya. Mereka semua langsung membentuk barisan rapi saat melihat tongkat baseball yang setiap saat bisa menempel ke tubuhnya secara kasar jika tak menurut.

Dira sendiri tak berkedip, tempatnya dipojok membuat dia sedikit tau siapa yang sedang berteriak. Dia laki-laki yang menatap tajam kearahnya tadi.

"YANG PALING BELAKANG!!" laki-laki itu menunjuk barisan paling belakang menggunakan tongkat baseball nya.

"Name tag lo mana?" suara dingin dan tajam itu membuat mereka menoleh kesudut kanan paling belakang.

Dira sendiri menoleh bingung kearah mereka. Kemudian menunduk takut saat tatapan mereka mengarah padanya.

"Saya kira nggak pake itu kak," cicit gadis itu lirih.

"Mata lo buta hah?" tanya laki-laki itu marah. "Nggak bisa baca pengumuman?"

"Maaf kak," cicit Dira lirih. Matanya melirik teman barunya yang menatap kasihan kepadanya.

Cowok itu berdecih, "ikut gue," ujarnya kemudian berlalu begitu saja.

Dira dengan gamang mengikuti laki-laki itu. Terlalu malu jika menoleh ke belakang, banyak yang masih menatap kearahnya.

Mata Dira melirik ke penjuru arah. Lapangan basket.

"Lari 25 putaran, bersihin sampahnya!" titah cowok itu dingin.

"Tapi kak.."

"Cepet!"

Dira terpaksa menyanggupi. Kakinya mulai berlari pelan memutari lapangan yang sangat luas ini. Mulutnya mendesah pelan melihat dedaunan kering serta sampah plastik yang berhamburan di lapangan.

"Kakak," lirihnya pelan saat melihat seorang yang sudah sangat dikenalnya.

Disana, seorang perempuan memakai almameter OSIS tersenyum sinis dengan tubuh yang ia senderkan ditembok koridor. Melihat rencananya yang berhasil. Korban yang sedang berlari mengitari lapangan.

Dara menahan hatinya untuk tak mencaci maki. Matanya memanas namun setelahnya bibirnya tersungging senyum manis. Langkah kakinya berlari semakin cepat mengitari lapangan. Berharap hukuman yang didapat cepat selesai.

Lapangan basket yang berhadapan langsung dengan ruang OSIS membuat setiap gerak gerik Dira terawasi oleh satu orang. Orang yang membawa Dira ketempat ini tentunya.

Cowok itu semula sempat mengernyit bingung melihat wajah murung gadis itu. Tapi setelahnya menjadi raut datar saat Dira mempercepat larinya.

_ _ _

Jangan lupa vote dan comennt ya.

Next gak?

SENIOR LOVETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang