Erlan menghentikan motornya didepan sebuah gerbang yang menjulang tinggi. Membuka helm full face miliknya. Matanya menatap datar satpam yang berjaga. Menunduk hormat padanya.
Gerbang terbuka, memperlihatkan rumah mewah keluarga Anggara. Erlan kembali menaiki motornya. Menyelipkan helm diantara tanganya. Kemudian melajukan kembali ke dalam.
Rumahnya sepi, sangat. Hal itu membuat Erlan mendengus. Ia membenarkan tas yang tersampir disalah satu pundaknya.
"Erlan.." suara lembut itu tak dihiraukanya. Ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Erlan! Hei!" wanita paruh baya itu mencekal lengan Erlan yang langsung ditepis kasar oleh cowok itu.
"Najis!" umpat Erlan lebih mempercepat langkahnya.
Rika, wanita itu menggeram marah. "Anak sialan!" teriaknya lantang yang dibalas dobrakan pintu kasar Erlan.
Erlan menghembuskan nafas lelah. Kepalanya ia telungkupkan kedalam bantal. Tubuhnya remuk, capek.
Dering ponsel membuat cowok itu menggapai ponsel miliknya. Nama Lintang yang tertera, hal itu membuat Erlan mengangkat nya dengan satu tarikan.
"Hm," gumamnya.
"Ham hem mulu lo! Kesini cepet!" suara Lintang terdengar kesal disebrang sana.
"Ke?"
"Yee, si pikun! Kesini cepet, dicariin si Allard lo nya." Erlan mengernyit mencerna kalimat Lintang. Kemudian mengangguk pelan.
"Ya," ujarnya sebelum sambungan diputus sepihak oleh Erlan.
Erlan bangkit, mengganti baju seragam yang melekat dengan kaus hitam polos. Juga jaket kulit hitam.
Setelah selesai, cowok itu keluar kamar. Hal pertama kali yang dilihatnya adalah gadis cantik yang tersenyum merekah terhadapnya.
"Kak!"
Erlan mengabaikanya, cowok itu menuruni tangga dengan cepat. Matanya mendapati Rika yang sedang duduk diruang tengah. Bermain ponsel sesekali berfoto narsis. Hal itu membuat Erlan berdecih.
"Shasa, sayang!" gadis yang dipanggil Shasa itu menoleh kearah Rika. Senyumnya sumringah kala Mama tercintanya itu memperlihatkan kalung berbandul liontin sangat indah.
"Kak! Cantik nggak?" tanya Shasa kepada Erlan. Ia memakai kalung itu kelehernya.
"Cantik?" ujar Erlan meremehkan. Cowok itu berlalu tanpa memberikan jawaban.
Hidup disini membuatnya muak, sangat muak. Dan Erlan tak pernah sudi untuk melakukan hal itu.
_ _ _
Suara bising kendaraan lebih mendominasi disini. Ditambah suara teriakan heboh para laki-laki. Erlan turun dari motornya. Berjalan kearah Allard dan yang lain.
"Lelet!" Erlan membuang muka mendengar ucapan Allard. Cowok yang sedang merokok itu menatap tajam kearah Erlan.
"Bacot lo!" balas Erlan setelahnya. Ia meraba saku jaketnya. Mengambil bungkus rokok serta korek api didalamnya.
"Mama lo Lan?" tanya Andra.
"Nggak mampir," jawab Erlan singkat, tapi itu membuat mereka mengerti dalam sekejap.
"Yang main siapa?" tanya Rio. Matanya menatap kearah Cakra yang sedang tertawa bersama teman-temanya.
"Gue, sama Erlan," jawab Allard. Erlan mengangguk menyetujui.
"Songong bat dah tu orang," komentar Naresh terhadap Cakra yang kini tersenyum miring kearah mereka.
"Mulai sekarang?"
"Hem," dehem Erlan membuang putung rokok. Menginjaknya.
"Lo duluan lah! Gue belakangan," ujar Allard setelahnya.
Erlan tak menjawab, melainkan menaiki motornya. Menjalankan maju ketempat yang akan digunakan untuk balap liar.
Cakra juga sama, cowok itu maju menjalankan motornya. Ramai orang yang datang, laki-laki atau perempuan. Tempat seperti ini memang cocok untuk mereka-mereka yang sudah terlalu terjerumus dalam dunia malam.
"Siap?" Cakra menatap Erlan tersenyum miring.
Erlan hanya diam, tak menjawab. Pandanganya beralih kedepan. Seorang wanita memegang bendera kecil.
"1..2..3," tepat dengan kata nomor 3 diucapkan. Erlan mengendarai motornya cepat yang disambut teriakan heboh para wanita disana.
Cakra hanya beberapa langkah dibelakangnya. Tapi Erlan dengan kesetanan mengendarai motornya. Diam-diam cowok itu tersenyum miring. Ini dunianya. Dunia yang membawanya kedalam arti tak diharapkan. Ya, dia tak pernah diharapkan kan?
Didepan sana sudah banyak yang mereriakinya heboh. Erlan menenangkanya. Hal itu membuat Cakra mendengus tak suka.
"Jadi? Siapa yang kalah?" ujar Erlan meremehkan. Langkah kaki cowok itu maju mendekati Cakra.
"Jangan sok!" kata Erlan tajam sebelum sebuah bogeman mentah hinggap diwajahnya.
"Eh, si anjir! Santai woi. Kalah ya kalah aja!" Naresh berteriak keras melihat Erlan yang tersungkur ditanah.
Erlan berdecih. Ia mengusap darah yang mengalir disudut bibirnya.
"Cupu!" ujarnya keras-keras.
Cakra yang tak terima mendekat kearah Erlan. Juga dengan anak-anak kumpulanya yang lain.
"Siapa yang cupu?!" Cakra memegang erat baju Erlan.
"Lo," ujar Erlan datar. Matanya menajam.
Bugh!
Cakra tersungkur, pukulan dari Erlan memang tak main-main.
"Lard woi! Pada gelud itu!" Andra berteriak panik melihat Erlan yang dikeroyok anak-anak Cakra.
"Bentar, rokok gue belum abis," jawab Allard santai. Cowok itu menghisap rokok yang masih setengah.
"Eh! Anak sultan sialan! Kaya! Belagu lagi!" Lintang menarik kasar tangan Allard agar bangun.
Keadaan sudah mulai ricuh. Tawuran tak bisa dihindarkan. Saling melawan, memang bayak yang berada dipihak Erlan. Tapi tetep ramai kan jadinya.
"Ck, ah!" Allard menatap tajam teman-temanya. Astaga! Yang bisa bela diri bukan cuma dia doang woi!
"Buruan!" titah Allard. Oke, mereka memang terlalu santai menangani masalah ini.
Erlan tak peduli teman laknatnya itu membantunya atau tidak. Erlan hanya fokus menangkis pukulan-pukulan mereka. Tapi matanya berhenti pada satu objek.
"Akh!" teriakan itu masuk ke telinga Erlan.
Sialan! Ngapain dia disini?
Bugh!
Satu pukulan Cakra mengenai rahangnya saat Erlan tak fokus. Erlan tak peduli, toh ada Allard yang mengambil alih. Ia malah berjalan menjauhi Cakra dan Allard.
"Sama perempuan?" ujar Erlan sinis. Tanganya merengkuh pinggang gadis yang sedang menangis ketakutan. Lebam baru terdapat dimukanya.
"Kenapa? Dia yang berani sama gue," jawab cowok itu. Ia kembali melayangkan pukulanya. Tapi dengan Erlan.
Erlan sendiri masih melawanya menggunakan satu tangan. Satu tangan yang lain melindungi tubuh bergetar gadis itu.
"Ck, gitu doang?" kaki Erlan menendang keras perut laki-laki yang tersungkur dibawahnya.
Dengan sedikit tertatih, dia menuntun gadis yang ia temui tadi siang kepinggir jalan. Menjauh dari keributan.
"Kenapa kesini?" ujar Erlan dingin.
"Anu.. Kak-"
"Malem! Dan lo nggak tau bahayanya kan?" potong Erlan membuat Dira menunduk.
"M-makasih Kak," cicit Dira lirih.
Erlan hanya menatapnya tak balas menjawab.
_ _ _
Vote dan komenya ya
Salam sayang
❤
KAMU SEDANG MEMBACA
SENIOR LOVE
Teen FictionErlan Anggara, ketua osis di SMA nya sendiri, SMA Cakrawala. Dingin, bermulut pedas, itu yang mereka kenal dari Erlan. Satu lagi, tampan. Semua wanita yang melihatnya akan tergila-gila, tapi tak ada berani yang mendekatinya. Erlan tak bisa tersentuh...
