Part 5

130 11 1
                                        

Cheongdam

Sebulan kemudian.

-Naeun POV-

Orang bilang selalu ada keseimbangan di alam semesta. Di sana hujan, di sini terik. Ada rezeki, ada musibah. Yin dan Yang. Hitam dan Putih. Apakah itu sebabnya di kala karierku tengah meningkat pesat, kehidupan percintaanku malah terjun bebas ke jurang dan hancur berantakan? Setelah di tolak mentah-
mentah oleh playboy cap kaleng seperti Myungsoo, sekarang Taemin seperti menghindar dengan halus
dariku. Kenapa juga Taemin harus membaca pesan di ponselnya Kai? Pertanyaannya, apakah alam semesta pula akan membantuku meluruskan masalah ini?

Argh!

Aku tidak mau kehilangan Taemin sebagai teman. Kalau memang harus kutelan bulat-bulat perasaan ini,
well, so be it. That is 1000 times than having to lose him completely. Kalau saja Taemin mengerti keputusan yang aku ambil ini, barangkali dia tidak perlu menghindar dan jadi terlihat awkward setiap
kali kami semua berkumpul.

Telepon berbunyi.

Taemin! Jantungku langsung berdegub kencang.

“Yeoboseyo, Naeun-ah,” sapanya. Dari dua kata itu saja aku tahu ganjalan di antara kami masih ada.

“Hi, sudah baca pesanku?” tepatnya 454 pesan yang belakangan ini kukirim tanpa ada balasan.

“Sudah, tapi aku tidak bisa bertemu sama kamu hari ini…”

“Taemin-ah, please please please. Bisa yaa, terutama untuk kali ini aja,” aku memohon dengan putus asa.

“Naeun-ah…”

“Please, Taemin-ah, ada banyak sekali yang ingin aku katakan sama kamu. Demi kita berempat. Please…” desakku cepat, di ambang air mata.

Taemin terdiam lama, lalu dia menarik napas, panjang sekali.

“Oke, tapi aku hanya punya waktu sebentar. Masih banyak yang harus aku review malam ini, oke?”

“Oke, tempat biasa? Sekarang?”

“See you.”

***

Suasana langsung terasa agak tegang ketika Taemin duduk di hadapanku. Ini sudah benar-benar tidak sehat.

Selama aku mengenalnya, tidak pernah sekali pun kami merasa tidak nyaman dengan satu sama lain.

“Taemin-ah…” dia melirik, sambil menatapku. “Kita berdua tidak perlu seperti ini ya,” taemin bersandar
sambil masih menatapku.

“Aku tahu, kamu sudah dengar tentang perasaanku lewat Krystal dan Kai. Tapi aku tidak mau kita jadi…
jadi… jadi… seperti ini.”

“Bisa kan, kita lupakan saja pesan itu? kita kembali ke posisi awal, dan biarkan aku deal dengan perasaanku tanpa harus mengubah hubungan kita?” mental baja yang sudah kutempa dari mingguan
lalu melemah juga melihat wajah Taemin tidak berubah.

Tapi, pelan-pelan kuperhatikan ekspresinya
melunak.

“Aku minta maaf, Naeun-ah. Memang aku yang keterlaluan menghindarimu sebulan belakangan ini. Honestly, I really didn’t know what to do with the whole thing. I didn’t know what to make of it. Aku sadar, menghindar seperti itu… well, it’s not a gentleman’s way. Harusnya aku yang berinisatif untuk
bertemu kamu dan menjelaskan apa yang aku rasakan. Tapi aku tidak mau menyakitimu or push you away. Aku… bingung.”

Aku tersenyum, sedikit sedih mendengarnya, tapi di luar itu, hati rasanya lega luar biasa.

“Aku sangat mengerti. Jadi, kita lupakan saja,oke? No hard feeling dariku. Really! Kamu sahabatku, lets
keep it that way,” kataku.

Dan Taemin tersenyum! Senyum kecil memang, tapi itu sudah cukup untuk membuat hatiku seperti dikucuri air segar. Leganya!

“Yeah, I think I can do that,” katanya. “Jadi apa yang baru dari dunia jurnalistik? Curhatan kamu yang dulu kan kepotong.”
Tanyanya sambil tersenyum. Aku langsung tahu, Taemin yang kukenal sudah kembali.

Langsung aku bercerita panjang-lebar tentang posisi baruku di kantor. Tentang Myungsoo yang ternyata
sudah di tolak mentah-mentah sama kembarannya Song Hye Khyo dan bagaiama dia sekarang mulai menebar pesona lagi padaku. Taemin tertawa keras.

“Tidak luluh lagi kan, hati kamu?” tanyanya waswas.

“Gila!. Aku masih punya pride ya,” timpalku langsung.

Kami end up obrolan asyik tanpa ada setitik pun ketidaknyamanan selama dua jam lebih, dan selama itu
juga perhatian Taemin, sahabatku, ada padaku.
Yap, seperti dulu.

***

-Krystal POV-

Hampir jam sebelas malam.
Agak kemalaman untuk bertamu sebenarnya. Tapi ini Taemin yang datang ke apartemen, langsung dari pertemuan dengan Naeun petang tadi. kedengarannya penting, dan aku juga penasaran dengan
ceritanya.

Cukup bangga juga aku dengan Taemin dan Naeun. tadinya kupikir mereka tidak mungkin bisa berteman lama seperti itu. mengingat terlalu banyak komplikasi cinta yang terjadi di antara kami. Tapi keraguanku terpatahkan oleh dua anak ini. Sungguh salut!

“Jadi, semuanya sudah beres?”

“Yeah, I think so. Menurutmu bagaimana? Solusi yang tepat, bukan?”

Aku mengacungkan dua jempol.
“Aku cukup excited waktu aku sadar Naeun suka sama kamu. Tapi juga khawatir, if things don’t work out, kita terancam pecah. Rasa suka di antara sahabat itu sangat tricky. Seperti mencoba salto di
jembatan yang rapuh. Aku jadi ingat bagaimana hubungan kita kita dulu, masih ingat kan kamu? Bagaimana…” sampai di situ aku berhenti, Taemin terlihat sedikit melamun.

“Taemin!” panggilku.

***

-Taemin POV-

Krystal menangkap aku melamun di tengah ceritanya.

“Hei, sorry, Krys, terus, terus? Tadi kamu cerita apa?” tanyaku. Krystal menatapku dengan aneh sesaat
sebelum melanjutkan.

“Tidak jadi…”
Krystal kembali berhenti bercerita, membuatku tersadar kalau barusan aku melamun lagi.

“Hei, Taemin!” serunya sambil tertawa. “Kamu mengantuk, ya? Kenapa pandangan kamu jauh begitu? ada apa?”

“Sorry, Krys. Aku tadi masih kepikiran waktu tadi ketemu Naeun.”

“Kepikiran apa? Apa masih ada yang mengganjal?” tanya Krystal, sambil menyipitkan mata.

“Tidak, bukan itu. hanya pikiran tidak penting saja, Naeun itu ternyata cantik juga ya? Coba aja, dia buka
kacamatanya dan rambutnya tergerai pasti semakin cantik. Memang begitu dari dulu? Heran, kenapa
aku baru sadar sekarang?” kataku sambil membayangkan situasi satu jam yang lalu ketika aku duduk dengan Naeun.

“Kamu sadar, tidak?” tanyaku sambil menatap Krystal.

Krystal terlihat kaget sekali, entah kenapa. Lama juga dia terdiam, sambil memandangi wajahku. Lalu dia
tersenyum misterius sambil menaikkan satu alisnya.

“What?” tanyaku heran.

“Welcome to the club, my friend. Aku janji, tidak akan bilang dulu ke Kai kali ini,” katanya sambil tertawa
terbahak-bahak.

TBC

Remember Me As A Time of Day✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang