Cheongdam
-Jennie POV-
Sudah hampir sebulan aku bekerja di Revolution Advertising. Dan nyaris setiap pagi aku datang
lebih pagi ke kantor, jaga-jaga supaya jangan sampai terlambat. begitu juga pagi itu. aku memasuki lift
yang masih kosong. waktu pintu hampir menutup, tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Wajahku jadi
malas saat melihat yang masuk adalah “Pagi, Taeyong-sii.”
“Pagi, Lee Biseo,” jawabnya tegas.
Lalu kami diam. Lift hampir sampai lantai 20. Aku menghitung dalam hati sampai…
BRUK! Lift tiba-tiba
berhenti di lantai tujuh belas. Aku melongo menatap angka itu. lalu memejamkan mata rapat-rapat.
Benar-benar tak bisa dipercaya, aku terjebak di dalam lift lagi. sekarang malah lebih sial, karena hanya berdua dengan Taeyong.
Meskipun akhir-akhir ini dia tak pernah marah-marah lagi, buatku dia tetap saja menyebalkan. Aku mendengar laki-laki itu menghela napas.
Dia pasti juga kesal. Dia menekan tombol darurat, bicara pada petugas dan akhirnya tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain
menunggu.
Meskipun kenal, kami sama-sama diam lama sekali. Sampai akhinya dia memecah keheningan. “Jadi, kamu sudah dekat dengan Taehyung?”
Aku mengangkat wajah. Bingung mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba dan langsung itu.
“Memangnya kenapa?”
“Hati-hati,” katanya pendek.
“Memangnya kenapa?” ulangku, mulai kesal.
“Dia bukan laki-laki baik.”
Aku mendengus. Tanpa bisa ditahan, tiba-tiba aku menyembur, “Kenapa anda selalu ketus begitu? apa
anda memang biasa mencampuri urusan pribadi karyawan di kantor?”
“Kenapa memanggilku seperti itu?”
Aku melongo, “Memangnya harus memanggil apa? Sajangnim, Tuan?”
Dengan dingin Taeyong berkata, “Taeyong saja.”
Aku hanya bisa melongo mendengarnya. Untungnya beberapa menit kemudian liftnya mulai bergerak
lagi. kalau tidak, aku bisa gila.
Sesaat kemudian memasuki ruangannya, Taeyong menoleh padaku dan berkata lagi, “Lee Biseo? Aku serius tentang Taehyung. Berhati-hatilah. Aku tidak mau kamu sakit hati.”
Aku tidak tahu harus merespon bagaimana. Akhirnya aku hanya diam dan berjalan ke mejaku.
Dalam perjalanan ke sana, aku berpapasan dengan Jisoo.
“Hi, Jennie-sii.”
“Hi, Jisoo-sii.”
“Kenapa lemas?”
“Aku terjebak lagi di lift.”
Jisoo meringis, “Lagi?”
Aku mengangguk, “Kali ini sama Taeyong. Berdua saja.”
“Hah? Serius?”
Aku mengangguk lagi. lalu aku putuskan bertanya kepada Jisoo, “Jisoo-ssi, Taeyong itu memang suka ikut campur urusan pegawainya, ya?”
Kening Jisoo berkerut, “Maksud kamu?”
Aku bercerita ucapannya di lift tadi dan tanggapan Jisoo membuatku terkejut. “Aku tidak tahu Taehyung
yang mana, tapi yang membuatku heran adalah Taeyong. Selama ini dia tidak pernah memperhatikan
pegawai sampai segitunya.”
“Serius?”
“I swear!”
Kami sama-sama diam, berpikir. Lalu Jisoo berucap, “Jangan-jangan…”
“Jangan-jangan apa?”
“Dia suka sama kamu. Makanya dia begitu. sampai merhatikan Taehyung yang mendekatimu terus itu.”
Aku mendelik, tapi mau tak mau wajahku memerah. Tetapi, rasanya itu tidak mungkin.
Apalagi mengingat sikap Taeyong yang selalu kaku dan ketus padaku. Untuknya obrolan ngawur itu tidak
berlanjut lebih lama karena Kim Sajangnim memanggilku.
***
Aku menunggu Taehyung di lobi. Sekarang kami makin sering pulang bareng. Kami memang belum jadi
pasangan atau semacamnya, tapi sepertinya hubungan kami makin dekat.
Sesekali aku melihat jam. Sudah lima belas menit, Taehyung belum juga datang. Aku telepon dan mengirim pesan, tapi belum ada respon sama sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di
coffe shop kecil di lobi.
Tempatnya strategis, aku bisa langsung melihat kearah lift. Jadi begitu Taehyung
keluar, aku juga langsung bisa melihatnya.
Namun, sepuluh menit dan segelas cappuccino kemudian, datang pesan dari Taehyung.
Dia tidak bisa pulang bersamaku karena harus mengantarkan temannya yang sakit. Antara kesal dan kecewa, aku berdiri dan cepat-cepat keluar coffe shop untuk pulang sendiri.
Sialnya, di pintu aku berpapasan dengan Taeyong. Dia kaget melihatku, aku juga. Mau tak mau aku menyapanya, “Malam, sunbae.”
“Malam juga. Kenapa kamu masih di sini? Bukannya kamu sudah turun hampir setengah jam lalu?”
Lagi-lagi dia ikut campur, pikirku dalam hati. “Iya, sunbae. Tadi saya menunggu teman. Ternyata janjinya
batal.”
“Taehyung?” tanya Taeyong lagi, tiba-tiba nada suaranya berubah ketus.
Aku hanya mengangguk. Lalu aku berjalan pergi. Lebih baik pergi cepat-cepat daripada emosiku
terpancing Taehyung lagi.
Namun, baru tiga langkah aku berjalan, Taeyong memanggilku. “Jennie-ssi?”
Aku menoleh ke belakang. “Iya?”
“Kamu mau saya antar pulang? Ini sudah malam. Saya hanya perlu beli kopi sebentar, untuk diminum di mobil.”
“Tidak perlu, sunbae. Saya bisa pulang sendiri.” Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan cepat ke
luar gedung. Meskipun sikapnya tadi lumayan baik, aku tidak bisa membayangkan harus semobil dengan Taeyong.
Bagaimana kalau sifatnya yang menyebalkan itu tiba-tiba muncul? Bisa rusak hariku.
***
Keesokan paginya, aku melihat sendiri alasan yang membuat Taehyung membatalkan janjinya semalam.
Aku hampir memasuki lift ketika kulihat pemandangan menyebalkan itu: hanya ada dua orang di dalam lift. Salah satunya Taehyung.
Satunya lagi wanita cantik yang berambut panjang. Mereka mengobrol akrab dan bergandengan tangan! Pada saat terakhir sebelum pintu lift menutup, Taehyung melihatku.
Tapi dia langsung membuang muka. Saking kagetnya, aku bahkan tidak berusaha masuk ke lift. Entah berapa lama aku tertegun di depan lift.
“Kenapa melamun?”
Aku tersentak. Suara itu membawaku kembali ke kenyataan. Aku melihat Taeyong menatapku. Aku tidak
tahu sudah berapa lama ia berdiri di sana. aku segera menggeleng. Tak lama, lift kembali terbuka, lalu
aku dan Taeyong masuk. Kami berdiri bersebelahan.
“Sudah lihat buktinya, kan?”
Aku menoleh pada Taeyong.
“Bukti apa?”
“Bukti kalau Taehyung itu brengsek. Kamu tadi lihat siapa yang di lift, kan?”
Aku hanya diam. Ternyata Taeyong juga melihat apa yang kulihat. Dalam hati aku setuju dengan perkataan Taeyong. Tetapi dia tak perlu tahu itu.
Dan… BRUK!!! Lift berhenti di lantai sepuluh. Aku menganga.
Tidak tahan, aku pun mengomel, “Dasar lift
bobrok! Sumpah! Kalau sampai kejebak lagi, aku akan naik tangga saja setiap hari!!”
Tiba-tiba Taeyong tertawa. Aku menoleh. Ada dua alasan. Pertama, aku ingin tahu kenapa dia tertawa dan kedua, baru kali ini aku melihatnya tertawa.
“Kamu lucu juga kalau sedang marah.”
Mataku menyipit, “Lucu? Terjebak untuk ketiga kalinya di lift sama sekali tidak lucu.”
Dengan santai Taeyong menekan tombol darurat. Lalu ia duduk di lantai sambil berkata, “Sudah, duduk saja. Siapa tahu petugas maintenancenya masuk terlambat.”
Meski sebenarnya gengsi, akhinya aku duduk juga.
“Kamu suka sama Taehyung?”
Aku melotot, kaget mendengar pertanyaannya. Kenapa dia suka sekali ikut campur urusanku?
“Untungnya belum terlalu. Sunbae tahu dari mana dia brengsek?”
“Reputasinya sudah terkenal di sini. Di antara para lelaki, setidaknya.”
Aku mengatupkan mulut. Taeyong berkata, “Untung kamu tahu sekarang, sebelum kamu kena rayuan mautnya.”
Aku memutar bola mata. Namun dalam hati, aku memang bersyukur. Setelah itu, lift kembali bergerak.
Untung rusaknya tidak terlalu lama. Begitu kami keluar, Taeyong memanggilku.
“Lee Biseo?”
Aku menoleh.
“Nanti mau makan siang bareng aku?”
Sontak wajahku memerah. Bukan karena ajakannya, tetapi karena suaranya yang tidak lagi jutek serta sinis. Lalu Taeyong tersenyum. Senyum tulus, membuat wajahnya jadi semakin menarik.
“Jennie? Kenapa melamun? Mau, kan?” pintanya.
Aku masih berpikir, tapi Taeyong keburu berkata lagi, “Saya belum punya teman makan.”
Benakku melayang kembali ke siang itu, waktu Taehyung mengajakku makan siang dan Taeyong menatapku tajam waktu melewati kami. Ucpaan Taeyong barusan sama persis dengan ucapanku ke Taehyung siang itu. belum punya teman makan.
Berarti waktu itu pun Taeyong sudah memperhatikanku?
“Please?”
Reflex, aku mengangguk dan tersenyum.
“Okay then, it’s a date,” kata Taeyong, lalu berjalan masuk ke kantor kami.
Dan sekali lagi, aku hanya bisa terheran-heran melihat sikapnya yang berubah drastis ini.
Ternyata terjebak di lift tidak terlalu buruk.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
FanfictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
