Jeju island
-Taemin POV-
Jadwal seminar selesai dua hari sebelum kepulangan kami. Karena itu, selama dua hari aku dan beberapa karyawan harus menemani para klien dari luar negeri itu pergi berwisata ke tempat-tempat
yang memang merupakan tujuan wisata di Pulau Jeju. Aku membeli sebuah kartu pos yang warnyanya tampak pudar di toko oleh-oleh yang penuh dengan barang-barang dan pernak-pernik yang terlihat
mahal. Di kartu pos itu, terdapat foto yang menampilkan kuda-kuda yang sedang makan rumput dengan
latar belakang Gunung Halla.
Meskipun foto di kartu pos itu terlihat sedikit norak, entah mengapa aku
menyukai kartu pos itu.
Pada malam sebelum aku menyusul Naeun ke Ulsan, aku menulis di kartu pos. karena takut membuat kesalahan, aku menulis dengan pensil. Namun, karena berkali-kali aku menghapusnya, kertas kartu pos itu jadi rapuh. Berkat dulu sering berkirim surat dengan Naeun, kini aku merasa nyaman saat menulis
dengan tangan. Lalu, hal-hal yang biasanya tak bisa kukatakan langsung sambil bertatap muka jadi bisa
kutuangkan dan kutuliskan di dalam surat.
Aku berencana untuk menceritakan pengalamanku di Jeju secara langsung pada Naeun sebelum kartu pos ini tiba. Namun, untuk berjaga-jaga kalau nanti di hadapan Naeun aku malah lupa sehingga tak bisa berkata-kata, aku menuangkan apa yang ingin kukatakan kepada Naeun di kartu pos ini. kartu pos ini
akan menjadi penyelamatku jika aku tidak bisa berkata-kata di hadapannya.
Seperti pada masa sekolah
ketika kita terdiam di hadapan orang yang kita sukai da nada teman yang tiba-tiba mengatakan bahwa kita menyukai orang itu. aku memasukkan kartu pos itu ke kotak pos.
Sebelum naik ke dalam kapal, aku sempat berputar-putar di dalam toko yang menjual berbagai macam aksesoris. Rasanya gelang terlalu sering. Mungkin aku harus membelikannya kalung saja. Wajahku memerah dan memanas saat membayangkan aku memasangkan kalung di leher Naeun.
***
Ulsan
Pada akhirnya, hadiah yang kubawa adalah sekotak cokelat rasa jeruk khas Pulau Jeju.
Setibanya di depan rumah Tae Hee Imo, aku menyelipkan kotak cokelat itu di antara tangan dan bagian samping
tubuhku lalu memencet bel.
Aku merasa tegang. Jantungku pun berdebar-debar. Sama seperti waktu aku berdiri di depan rumah ini sambil membawa bunga dan melamarnya.
Aku ingin cepat-cepat melihat wajah Naeun. mungkin jika Naeun membuka pintu dan keluar, aku akan langsung memeluknya tanpa mau melepaskannya.
Namun, tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia di dalam rumah Tae Hee imo. Sepeda yang selalu diparkir di depan pintu masuk pun tak terlihat. Aku menggaruk kepala lalu memencet bel sekali lagi.
masih tidak ada jawaban. aku mencoba membuka pagar, tapi pagarnya juga terkunci.
Apakah mereka sedang keluar rumah? Aku merasa kecewa.
Ketika aku berbalik badan, tiba-tiba punggungku terasa dingin. Perasaanku pun menjadi tidak karuan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk berjalan mengitari rumah ini. lalu, aku mencoba memencet bel lagi beberapa kali. Lagi, lagi, tidak ada jawaban. aku pun memanjat pagar biru tua itu lalu masuk ke halaman.
“Naeun-ah! Imo! Anak-anak!”
Tak ada tanda-tanda kehadiran manusia meski aku sudah mencari ke sekeliling sambil berteriak. Aku pun berdiri di tengah-tengah ruang keluarga.
Suasana yang hening dan dingin yang terasa dari telapak kakiku perlahan merangkak naik. Setelah kuamati baik-baik, ada yang berbeda dari rumah ini. bukan, bahkan ada yang hilang. Barang-barang dan furniture yang ada di ruang keluarga kini sudah dibereskan.
Bahkan bagian dalam rumah itu kini sudah kosong sampai aku heran mengapa aku tidak menyadarinya lebih awal. Rumah bibi kini sudah kosong, seolah ia tidak akan kembali lagi ke sini.
Aku merasakan hawa dingin. Seperti sebuah adegan di film horror saat ada sesuatu yang merangkak naik di punggung tokoh utamanya. Aku berjalan di koridor sambil melihat ke sekeliling dengan wajah
bingung. Sampai di ujung koridor pun aku tidak melihat siapa-siapa. Aku berjalan kembali kea rah ruang
keluarga dengan langkah lemas. Tanganku pun gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
Fan-FictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
