Part 15

84 5 0
                                        


Gangnam

-Author POV-

Ketika cinta sejati menjadi dasar sebuah pernikahan, semua akan tersedia. Hubungan bermula dari debat kusir tentang apa makna idealis mencintai, pada akhirnya berujung manis.

Krystal menyandarkan kepala ke bahu kiri Kai yang langsung merangkul erat dan mengelus lembut punggung tangan kanan sang istri. Satu hal yang membuat Krystal semakin tahu sisi romantis Kai, kebiasaan yang membuatnya nyaman setelah mereka menikah.

Makan malam yang indah dengan keelokan kasih keduanya, sesekali Krystal menyuapkan makanan ke Kai yang begitu menikmati kemanjaan dari bidadari hati.

“Aku mau kita bulan madu lagi.” ucap Krystal tiba-tiba.

“Kemana Bee?”

“Praha.”

Kai tak menjawab hanya memandang kagum Krystal.

“Kenapa ?”

“Kota itu yang ada di kepalaku, juga hatiku selama ini.”

“Oh ya?”

“Namanya juga kita sudah jodoh, sengaja dipertemukan sehati, satu cinta seperti katamu.”

“Orang cerdas selalu punya dasar untuk memutuskan sesuatu. Menurutmu dulu kan begitu.”

“Masih ingat kamu!”

“Aku sejak dulu punya mimpi bisa ke Praha,sekalian bisa bulan madu dengan suamiku. Tapi, karena kemarin bulan madu kita sudah di atur orangtuamu, aku hanya bisa patuh. Dan kini, betapa
beruntungnya aku, begitu mudahnya mimpiku terwujud sayang.”

“Kekuatan pikiran sering menembus masa depan!”

“Praha adalah kota impian banyak wanita. Sangat romantis. Namun yang jelas bagimu tentu ada sesuatu
yang kamu cari sayang. Aku tahu itu.”

“Semoga.”

“Sayang, kita harus segera persiapkan sekarang.”

“Tentu.”

Krystal menatap lelaki yang bicaranya begitu halus namun juga tegas. Kai menatapnya sejuk, ada kedamaian yang dia rasakan setelah berhasil mengenal lebih jauh wanita yang selama ini begitu
mengganggu tiap malamnya.

Kai merangkul hangat Krystal yang begitu bersyukur malam itu merasa mendapatkan taburan cahaya bintang yang tak lagi temaram di hatinya, cinta yang membawa, cinta yang telah digenggam, selamanya, harapnya.

***

Praha

-Author POV-

Lelah berubah resah. Setelah selesai mandi, merapikan semua barang, Krystal tertidur lelap, tepatnya
tertidur saat Kai sibuk menelpon seseorang.

Kai menatap Praha dari kaca jendela kamar yang berembun karena buliran air hujan menerpanya. Kota yang dia cari, lama ingin didatangi, kota tua layaknya miniature Eropa abad pertengahan, kini telah hadir di depan mata.

“Kita akan ke sana, Bee,” Kai bergumam lirih setelah berbalik badan.

Keletihan telah membawa Krystal tidur nyenyak, membuat Kai enggan membangunkannya sore itu.
setelah mandi, menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya, memakai t-shirt hitam polos dan celana
jeans biru dongker, mengambil mantel, topi dan sarung tangan, dia lalu menatap lekat wajah istrinya
yang tertidur pulas.

Dia mendekat, membelai rambut-rambut kecil yang menutupi kening Krystal.

Sejenak dia menatap,
menyakinkan diri tentang wanitanya, lalu mencium hangat kening wanita yang telah berhasil mencuri
hatinya itu. segera dia selipkan di bawah guling Krystal, sebuah kertas dari buku notes hotel yang telah
dilipatnya rapi. Setelah itu dalam hitungan detik dia keluar dari kamar, menutup pintunya dengan pelan.

Karena telah menjadi satuan jiwa, ketika belahan jiwa menjauh, selalu akan terasa ada yang kurang, hilang.

Dalam hitungan menit setelah Kai keluar dari kamar, Krystal terbangun. Merasa ada keheningan yang sangat mencekam. Dia menatap tak ada Kai di sampingnya, melihat sekeliling kamar, lalu bangun dan mencari sang belahan hati.

“Kai? Sayang?”

Krystal mengobrak-abrik kamar luas itu, keluar masuk kamar mandi, seakan tak percaya dirinya sendiri berada di dalam kamar yang tiba-tiba terasa asing.

“Di mana kamu sayang? Kai! Kai! Ya Tuhan! Dimana dia? Kai?!”

Bantal dan guling serta selimut dia angkat, hanya kosong yang dia dapat, selain secarik kertas yang jatuh
menimpa kakinya.

“Kaiii!”

Hatinya bergejolak keras, lautan emosi mulai merambati. Segera dia membaca kertas dengan tulisan tangan Kai itu.

“Apa-apaan ini Kai! Kau permainkan aku!”

Kedua matanya hampir menangis setelah menahan panas karena emosi dari kepalanya. Tak percaya mambaca tulisan Kai.

Ku tunggu segera di Charles Bridge!

Kai

“Kai! Maksudmu apa? Tunggu Kai, aku punya perhitungan denganmu!”

Krystal hanya mencuci muka, segera keluar dari kamar, memakai sweater dan celana casual hitam. Lalu mengambil mantel, sarung tangan, topi hangat, tanpa make up. Segera dia menyambar hp dan tas
kecilnya setelah beberapa kali menghubungi HP kai yang aktif namun tak juga diangkat.

“Tega sekali, tidak diangkat! Maunya apa?!”

Matahari mulai terbenam. Namun beberapa pasang muda-mudi maupun tua saling memeluk, berangkulan hangat di tepi jembatan, menatap lepas aliran sungai Vltava dan menantikan bintang
raksasa benar-benar tenggelam menyisakan malam.

Krystal menutup rapat bibirnya, matahari mencari-cari sosok yang begitu menyiksanya. Harusnya sunset bisa mereka nikmati berdua, Krystal menyesalkan semuanya. Langkahnya semakin cepat, matanya mulai
menghangat, dia pun menangis dengan penuh amarah.

“Kai! Kai! Kaiiii! Di mana kamu?!”

Pada akhirnya Krystal memanggil nama Kai, tak peduli pandangan heran beberapa orang di sekitarnya.

“Kai! Where are you?!”

“I am here.”

Suara yang begitu dikenalnya itu tiba-tiba berada di sisi kanannya sembari menggandeng tangan kanannya yang langsung dia tepis.

“Kenapa kamu tega?! Maksudmu apa?”

Krystal menatap lekat penuh amarah pada Kai yang lalu mengajaknya menepi di tepi jembatan.

“Sini…. Lihat, Bee….”
Krystal menekuk wajah, baginya hal yang dilakukan Kai sangatlah tidak lucu! Dia memalingkan wajah ke
para penjual berbagai souvenir yang berjualan di sepanjang jembatan. Juga para musisi yang bermain
biola, bernyanyi, bermain gitar, membuat semarak malam di jembatan cinta. Beruntung telah berhenti rintik hujan salju yang turun sebelumnya, hanya tersisa angin malam, yang sesekali berhembus menusuk tulang.

“Bee, coba lihat.”

Kai menyentuh lembut pundak kiri Krystal yang terpaksa melihat apa yang sedang dipegang Kai. Hal yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.

Kai melirik Krystal, menyatakan wanita di sampingnya itu benar-benar melihat apa yang akan
dilakukannya. Segera dia menyalakan serangkaian kembang api yang lalu berlompatan apinya ke atas
jembatan, meliuk-liuk sekitar 5 meter di atas mereka, menarik perhatian semua orang, lalu dengan
indah membentuk tulisan I LOVE KRYSTAL bertaburan percikan apinya di atas sungai Vlatava.

Tak berapa lama terdengar jernih riuh rendah seruan bahagia dan tepuk tangan meriah orang-orang yang menatap haru tulisan penuh api itu.

Tangis Krystal tumpah dalam rengkuh pelukan Kai yang lalu mencium hangat kening wanita yang ternyata begitu dia cinta dengan caranya, cara yang selalu di luar akal.

“Kamu sering membuat jantungku mau berhenti Kai!”

“Baru kamu tahu caraku mengatakannya?”

“Hah?”

“Suka?”

“Suka!”

“Syukurlah.”

“Tapi aku kesal!”

“Kenapa begitu?”

“Kamu sempat membuatku mau mati tadi!”

“Bee!”

“Kamu tinggalin aku sendiri! Ini negeri orang! I’ts not funny!”

“Bukankah dulu kamu pernah bilang sudah terbiasa sendiri? Siapa takut!”

“Kamu! Itu dulu! sekarang sudah ada kamu, Sekeras-kerasnya perempuan, masih butuh laki-laki!”

“Akhirnya, mengaku juga kalau kamu keras kepala”

“Tidak lucu!”

“Kai memang bukan badut!”

“Udah, ya, aku malas kalau begini caramu!”

“Cinta itu menghargai, mengimbangi, ingat pesan ayahmu?”

“Ya, kamu selalu tak mau kalah! Tahu kelemahanku kalau sudah kata ayah”

TBC

Remember Me As A Time of Day✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang