Part 18

62 4 1
                                        


Cheongdam

-Jennie POV-

Embrace the unexpected surprise that life throws you every now and then.

Itu kalimat dari aplikasi kutipan motivasional di smartphone-ku tadi pagi.

Damn! Pagi tadi, itu sama
sekali bukan kalimat yang bisa memberiku motivasi.

Jelas tidak cocok dengan rencana meeting penting pagi ini. Saat harus presentasi di depan klien besar, kejutan adalah hal terakhir yang kuharapkan. Semua sudah harus dipersiapkan dengan matang, tidak boleh ada kejutan sedikit pun. Lagi pula, sejak dulu aku memang benci kejutan. Hidup itu direncanakan, sampai ke detail paling kecil.

Well, setidaknya itulah yang ada di pikiranku tadi. tapi sejauh ini, sampai meeting berakhir, sepertinya
semua berjalan lancar. Begitu lancar sampai-sampai proses negosiasi yang kuperkirakan baru akan selesai setelah dua-tiga pertemuan berikutnya ternyata beres hari ini juga.

“Baik, sajangnim. Terima kasih atas kepercayaannya.”

“Sama-sama, Jennie-ssi. Tentunya kami berharap banyak pada kerja sama ini."

“Tentu saja, kami akan berusaha sebaik mungkin.”

“Baiklah. Kita sama-sama tunggu terbitan produk terbarunya, kalau begitu.”

Akhirnya kerja sama ini berhasil! Pasti setelah ini Taemin oppa bangga padaku karena aku bisa membantunya menjalankan perusahaan, pikirku senang selagi berjalan menuju lift di gedung pencakar langit yang menjadi salah satu kantor pusat tertua di negeri ini.

Sebagai pemimpin redaksi di perusahaan periklanan yang sedang berkembang, mau tak mau tugasku memang sedikit lebih banyak. Aku bukan
hanya harus mengurusi isi iklan, tapi juga mempresentasikan ide-ide untuk mendapatkan klien baru.

Sejauh ini, kantor cabang Daddy memang lebih fokus melayani penerbitan produk internal perusahaan.

Menurut perhitungan bisnis, ini memang lebih menguntungkan dibanding terjun langsung ke dunia
periklanan umum yang persaingannya sangat ketat.

Sambil berjalan, aku menelpon kantor menanyakan perkembangan artikel yang seharusnya sudah dikumpulkan salah satu editor lifestyle sejak kemarin. Jangan sampai jadwal terbit terganggu hanya gara-gara satu editor itu.

Begitu sampai di mobil, aku juga langsung mengecek untuk sia hari ini. Jam 13.00 ada rapat redaksi. Jam 15.30 wawancara dengan narasumber untuk edisi dua bulan ke depan. Jam 19.00 makan malam di rumah bersama suamiku.

Sekarang jam 11.15. berarti aku harus segera kembali ke kantor, makan siang bersama Taeyong dengan cepat sambil melakukan persiapan akhir untuk rapat redaksi. Lalu merapikan daftar pertanyaan untuk wawancara narasumber yang semalam sudah kuketik di smartphone.

***

“Semua artikel untuk terbitan berikut sudah oke. Berarti rapat redaksi siang ini selesai,” umumku.

Orang-orang langsung membereskan notes dan berbagai kertas yang bertebaran di meja.

“Tapi… ada satu lagi pengumuman untuk kalian,” kataku sambil tersenyum. Semua mata langsung
tertuju padaku lagi. “Mulai bulan depan, kita semua akan punya tugas tambahan. Tadi pagi kita berhasil deal dengan klien. Produk kita akan terbit dua bulan lagi!”

“Keren, Jennie memang pemimpin redaksi paling oke,” kata sang sekertaris redaksi.

“Berarti akan ada kenaikan gaji ya?” komentar Jimin, art director paling berisik yang pernah kukenl sejauh ini.

“Kenaikan gaji itu urusan kakakku, tapi aku jamin ada asal kalian semua kerja yang benar,” jawabku ringan. Inilah enaknya bekerja di media, hubungan antarstaf selalu dekat, meskipun jabatanku lebih
tinggi daripada mereka.

“Pastilah… masa adik dari CEO kita tidak percaya dengan tim-nya sendiri?” Jimin bersuara lagi.

“Dan itu artinya, besok malam kita akan merayakan deal proyek ini. Aku undang kalian semua ke rumahku,” kataku, yang memicu seruan gembira dari para staf. “Asal kalian, tidak minta yang aneh-aneh
ya. Bisa bangkrut keluargaku,” tambahku seraya tersenyum. Komentar terakhirku kembali mendapat
reaksi heboh dari mereka.

Drrt… drrrt…

Ponselku bergetar. Setelah meminta tolong Jimin untuk mengurus semua detail acara besok, aku mengambil ponsel dan keluar dari ruang rapat. Ternyata dari kakakku.

“Yeoboseyo, eonni, apa kab…?”

“Yeoboseyo, Jennie-ah, Jennie? Ya ampun, akhirnya kamu angkat juga teleponnya. Dari tadi kamu kemana saja sih?” aku hanya tersenyum mendengar suara Yoona eonni. Kakak tertuaku memang begitu,sekali bicara langsung susah berhenti. “Aku mau minta tolong ya, Jennie. Penting. Dan kamu tidak boleh menolak.”

“Minta tolong apa?”

“Besok Mommy ulang tahun. Karena sekarang aku sedang tugas keluar kota, dan Taemin masih di rumah sakit menjaga Naeun dan baby-nya, kamu yang harus merayakan ulang tahun Mommy, kamu menginap di
rumah ya, temani Mommy.”

Ya ampun. Aku sama sekali lupa soal ulang tahun Mommy. Tapi, respon pertamaku sudah jelas. “Tidak mau. Lagi pula, kenapa bukan Mommy saja yang menginap di rumahku?”

“Ya ampun Jennie. Sejak Daddy meninggal, kamu tidak pernah mau menginap di rumah. Kamu hanya datang pagi, pulang sore. Tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa. aku sedang meeting dengan klien yang di luar kota,ini juga demi perusahaan Daddy, Jennie” jawab Yoona eonni, mulai kehilangan kesabaran.

Oke, itu memang benar. Memang sudah lama sekali aku tidak menginap di sana. padalal kami masih sama-sama tinggal di Seoul, tidak ada alasan khusus, that’s just the way it is. I think…

“Jennie-ah? Kenapa melamun, intinya kamu harus mau. Ajak juga Taeyong, Tidak ada alasan. Kasihan Taemin kalau harus pulang dan meninggalkan Naeun yang belum pulih, dan aku tidak mau Mommy
sedih di hari ulang tahunnya tidak ada salah satu anaknya di sampingnya. Kali ini aku pakai hak istimewaku sebagai kakakmu. Dan sebagai adik, kamu tidak bisa menolak.”

“Tapi, eonni… ini hari jumat. Berarti aku harus menghabiskan sepanjang weekend di sana? aku tidak
mau…”

“Memang kenapa kalau weekend di rumah? Ya sudah, aku harus meeting lagi.”

Klik. Belum sempat aku merespon, Yoona eonni sudah memutus telepon. Ini dia tidak enaknya jadi anak
bungsu. Kadang-kadang, kakakku suka sewenang-wenang memakai hak prerogatifnya.

Remember Me As A Time of Day✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang