Part 10

101 5 0
                                        

Alurnya sengaja maju mundur ya guys, biar syantik :)

3 tahun yang lalu

Yonsei University

-Taemin POV-

Aku dan Seulgi masuk ke sebuah kafe kecil di area pintu masuk kompleks universitas. Suasana kafe
sangat sepi, mungkin karena saat ini adalah siang hari pada akhir pekan. Mahasiswa yang sedang bekerja
sebagai pelayan paruh waktu itu terlihat seperti mahasiswa senior. Ia menjaga kafe sambil membaca
sebuah buku yang tebal. Aku dan Seulgi duduk berhadapan sambil meminum kopi, tanpa berbicara sepatah kata pun.

Mungkin ini pertama kalinya kami bertemu kembali setelah empat minggu atau mungkin satu bulan. Ah, empat minggu dan satu bulan itu kan sama saja. Hal yang pasti adalah sosok Seulgi tidak berubah meskipun kami tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama.

Seulgi selalu menyunggingkan senyum yang cantik seperti bunga lili. Maka dari itu, seulgi selalu terlihat
seperti sekuntum bunga. Jika aku berada bersamanya, tercium aroma bunga dari dirinya. Aku pun merasa aroma bunga yang menyenangkan itu akan melekat juga di tubuhku.

Aku berusaha melepaskan
diriku dari aroma lembut yang menyelimuti dan menatap tangan Seulgi. Kuku jarinya dihias dengan cat
kuku berwarna merah jambu. Jemarinya yang sedang menyelimuti gelas kaca terlihat sangat cantik.

“Apa… kau menungguku?” akhirnya, Seulgi pun memecah keheningan di antara kami.

“Ah… iya,” Saat itulah aku melepaskan pandanganku dari jari-jari Seulgi dan menatap wajah Seulgi dengan malu-
malu. Tiba-tiba, terlihat rasa sedih dari mata Seulgi yang sedang memandangku. Aku pun menatap Seulgi dengan sedih, seolah seluruh perasaan yang selama ini tertahan di dalam diriku meluap keluar.

Aku merindukannya. Aku merindukan matanya yang menatapku dengan lembut. Tiba-tiba, Seulgi meneteskan air mata.

“Seulgi-ah…” aku pun panik dan tak tahu harus berbuat apa.

“Maaf..”

Air mata mengalir dari mata Seulgi yang sipit seperti mata anak anjing. Air mata itu terus mengalir menuruni pipinya. Pemandangan itu terlihat indah seperti sebuah adegan di dalam film. Namun,
pemandangan itu juga membuat hatiku terasa sangat sakit.

“Tidak, Seulgi-ah. Mulai sekarang, aku benar-benar akan menjadi lebih baik lagi.”

Aku pun mengulurkan tangan hendak mengusap air mata yang mengalir di pipi Seulgi.

Namun, Seulgi memundurkan kepalanya agar tanganku tak bisa mencapai pipinya. Aku menarik kembali tanganku dan
memandang Seulgi dengan terkejut. Tiba-tiba, mata Seulgi yang tadinya basah oleh air mata dan terlihat
seperti mata seekor anak anjing berubah menjadi dingin.

Seulgi mengeluarkan selembar saputangan dari tasnya dan menghapus sendiri air matanya. Setelah itu,
ia mengeluarkan bedak dan memperbaiki riasan yang terhaspus oleh air mata. Ia pun memulas kembali
bibirnya dengan lipstick.

Setelah selesai merias kembali wajahnya, ia tersenyum kearah cermin.

Kemudian, ia menatapku dengan dingin dan tajam. Aku terkejut akan duri yang tiba-tiba terulur
kearahku dan hanya bisa mengamati tindakan Seulgi.

“Aku pergi dulu.”

“Kenapa?” tanyaku dengan bingung kepada Seulgi yang tiba-tiba berubah sikap.

“Sepertinya, kau tidak mengerti.”

Mendengar jawaban Seulgi yang singkat, kepalaku pun terasa pusing.

“Sekarang, kau tidak perlu menungguku lagi.” akhirnya, Seulgi menembakkan duri dari mulutnya.

“Ke-kenapa..?”
Entah kenapa aku benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura tidak tahu. Aku mengerahkan sekuat
tenaga agar duri yang dilemparkan Seulgi tidak menancap di diriku.

Sepertinya Seulgi tidak peduli lagi padaku. Matanya yang sipit mengirimkan sinyal peringatan dengan tajam.

“Sepertinya ini adalah naluriku untuk bertahan hidup.”

Seulgi berkata dengan tenang dan wajahnya tampak seperti anak kecil. Duri yang tadinya kutahan dengan telapak tangan pun menembus dan menusuk dadaku.

“Aku punya firasat, kau malah akan menjadi penghalang dalam hidupku.”

Bibir yang berkilau karena lipstick itu lagi-lagi menembakkan duri tajam ke arahku.

***

Setelah seulgi pergi, aku masih berada di tempat itu selama beberapa waktu. Aku hanya bisa termenung
sambil memandang bekas lipstick di bibir gelas kaca di hadapanku. Akhirnya, pekerja paruh waktu itu
mengusirku karena sudah waktunya ia menutup kafe. Aku pun berpindah ke bar yang ada di sebelah kafe dan minum minuman beralkohol tanpa makanan kecil. Aku minum sampai aku tidak ingat lagi apa yang terjadi dan apa saja yang dikatakan oleh Seulgi tadi. dalam keadaan mabuk, aku kembali ke kelas.

Ketika aku membuka pintu kelas, Kai terdiam dan membeku. Di samping Kai, tampak Professor Cho
dengan ekspresi yang mengintimidasi.

“Hei, hei! Sadarlah!”
Aku masuk ke kelas dengan sempoyongan, kemudian mendengar suara Kai yang memegangiku saat aku
terhuyung karena menabrak meja.

“Selamat malam, Professor.”

Remember Me As A Time of Day✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang