Hongdae
-Kai POV-
Selepas rapat seharian, aku harus pergi di sepanjang jalan untuk mencari sembarang café, ya, sembarang café, karena aku hanya mau ‘mencuri’ wifi, sementara ponselku belum bisa kupakai.
Aku meninggalkan pesan pada Jennie via SNS, mengajak bertemu. Tapi, karena terlalu buru-buru, tidak sempat mengecek lagi. apakah Jennie membalas? Jangan-jangan Jennie belum mau ketemu? Atau, jangan-jangan Jennie sedang bersama kekasihnya?
“Tuan..?”
“Iya? Oh, iya, maaf.” Tak sadar, di hadapanku sudah berdiri pelayan café. Aku segera meraih daftar
menu dan mencari apakah ada teh atau squash.
“Tidak minum kopi?” tanya pelayan tersebut. Aku mengangguk, dengan jari telunjuk terus merayapi
daftar minuman.
“A lemon tea, Mr Kai?” seru seorang perempuan di belakangku.
Aku menoleh: Jennie! Aku tidak menyangka, ternyata Jennie sudah di belakangku.
Aku buru-buru berdiri, menyambutnya dan menumpahkan seluruh perasaan dalam sebuah pelukan hangat. Jennie
buru-buru minta maaf pada pelayan café, dan menyakinkan dia bahwa kami akan memesan lagi dalam 5 menit.
“Duduk, Jennie…”
Jennie duduk di depanku, dan tangannya dengan terampil membebaskan ikatan scarf cokelat tua di lehernya. Antara poni dan gugusan rambut di belakang, melintang sebuah penjepit rambut berwarna merah marun. Manis sekali.
“Kenapa bisa tahu aku di sini?”
“Sembilan dari sepuluh orang yang penat akan pekerjaannya, pasti melipir ke sini.”
“Sembilan dari sepuluh orang itu pasti sama-sama mencari wifi gratis, ya?” sahutku.
“Ya, dan orang kesepuluh sebenarnya juga mencari wifi, hanya saja handphone-nya sudah dicopet orang
tepat ketika turun dari bis.”
Kami tergelak bersamaan.
“Iya, aku pernah baca, bahkan di Eropa, problemnya sama dengan di Korea, turis dicopet, turis ditipu
juga sering terjadi,” kataku.
“Benar, salah kita juga, terlalu merasa udik. Kita selalu merasa pencuri hanya ada di Korea.”
“Klasik. Dipikirnya,pekerjaan orang-orang kulit putih selalu jadi businessman. Seperti di film-film Hollywood.”
“Benar, aku jadi ingat, nenekku pernah punya pembantu.”
“Sebentar, nenekmu yang di Belanda?”
“Iya, kamu masih ingat?”
“Iya, Taemin sering cerita.”
“Nah, kamar-kamar di rumah nenekku sering dipakai untuk homestay, atau guest house, kebanyakan adalah para turis. Nenekku sering sekali menegur pembantunya untuk tidak berlebihan menyalani para
turis yang menginap.”
“Misalnya?”
“Kata halmonie, pembantunya terlalu sering membungkuk-bungkuk. Lalu, apa saja diambilkan, teh,
pakaian kering, air putih. Sampai suatu ketika, pembantu itu bahkan rela berpanas-panasan jam 12.00
mengayuh sepeda untuk membelikan makanan untuk salah satu tamu turis. Berlebihan kan?”
“Wow.”
“Yaa!” seru Jennie dengan bersemangat. “Parah ya, tapi mungkin sekarang sudah lebih baik. Di mana-mana, orang punya handphone dan langsung terkoneksi dengan internet. Mereka bisa cari informasi
lewat google.”
“Exactly, pada akhirnya, information sets us free. Jadi, orang-orang seperti pembantu nenekmu itu bisa
tahu bahwa tidak semua Turis itu kerja dengan mobil terkenal. Ada juga Turis yang pembantu rumah tangga.”
“Toast untukmu!” seru Jennie sambil mengangkat gelas. Aku menyambutnya sambil tertawa.
“Sekarang ini, wifi, gadget, smartphone, sudah jadi kebutuhan mendasar ya Kai. Back to our days, kalau
kita ketemuan dulu, kita saling bertukar novel atau majalah, bukannya update status atau foto-foto
makanan.”
“Iya-iya. Atau bercerita tentang ending drama yang kita tonton semalam,” timpalku.
“Dulu, jangankan punya handphone, bisa minum cocacola saja sudah senang.”
“Hahaha, iya, kamu suka nangis kan, minta aku traktir.”
“Enak aja!” Jennie mencubitku.
Tawa kami meledak.
Aku tersenyum mendengarnya tertawa. Sengaja aku meraih gelasku dan minum seteguk untuk menyembunyikan kecanggunganku. Aku tahu Jennie sedang memandangiku, seolah dengan perasaan
yang sengaja dipendam, sejenak diam.
“Jennie, kamu tinggal di sekitar sini, kan?”
“Oh, ya benar. Aku di apartemen dekat sini”
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
FanfictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
