-Taemin POV-
Sambil makan siang, aku mengecek ponselku. Daftar kontakku tidak banyak, ada nomor keluarga, beberapa karyawan, termasuk nomor rumah untuk menghubungi Naeun.
Aku pindah ke menu panggilan, melihat log dan menemukan yang terbaru adalah ke nomor rumah.
Panggilan yang tidak terangkat.
Layar ponsel tiba-tiba berubah. Mataku membesar. Tanganku sedikit bergetar.
Ada panggilan masuk.
Sederet nomor tak bernama.
Aku terdiam beberapa saat. Siapa pun di seberang sana, dia pasti menunggu sampai panggilannya terangkat.
Akhirnya, aku menyentuh ikon terima.
Ada suara gemeresak. Suara udara.
Namun, tak ada sapaan.
“Halo?”
Tak ada sahutan.
“Halo?” kataku lagi.
Tak ada balasan. Kali ini, bahkan suara gemerisik angin nyaris tak terdengar. Aku menjauhkan ponsel dari telinga, hampi menekan ikon untuk mengakhiri sambungan.
“ARGH!!!”
Sebuah teriakan.
Lalu, sambungan terputus.
Meninggalkanku yang terdiam, mematung memandangi ponsel hitam di tanganku.
Naeun.
Teriakan tadi benar-benar mirip suara Naeun. meskipun terdengar jauh, meskipun seperti dipotong atau
dihentikan paksa, itu suara Naeun.
Aku mencoba menghubungi balik. Naeun. Naeun dalam bahaya. Aku tidak bisa tenang. Aku tidak bisa
berpikiran jernih. Tentu saja telepon tersebut tak diangkat. Aku sudah tahu itu.
Rasanya sakit mendengar teriakan Naeun. rasanya sakit, setelah beberapa lama tidak mendengar suaranya, suara pertama yang ku dengar malah berupa teriakan.
Aku tidak bisa menerka Naeun sedang diapakan dari teriakannya. Aku tidak bisa menilai seberapa dalam
rasa sakit yang ia alami.
Seseorang harus membenci Naeun begitu besar hingga mampu melakukan itu, dan aku tahu siapa dia.
***
-Naeun POV-
Mengingat sesuatu yang sempat hilang dari sudut ingatan ternyata bisa terjadi begitu saja. Dengan merekaulang keadaan sekitar pada waktu tersebut, atau tanpa sengaja berdekatan dengan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa itu.
Seperti sebelumnya, kali ini ketika mencium bau toner yang didekatkan ke hidung, ingatan mengenai bau yang sangat kuat menyerbuku. Aku melihat kejadian hari itu berkelebat dalam pikiranku.
Pagi menuju siang, aku terbangun dari tidurku. Tak lama, Taemin pun terbangun.
Taemin menatapku dengan kesedihan yang terlihat jelas, lalu kami berpisah.
Ketika aku bangun membuka pintu, aku tahu kemungkinannya nyaris 100% bahwa itu akan menjadi kali
terakhir kami bertemu dan membicarakan soal perasaan terhadap satu sama lain.
Sekelebat, ingatanku berpindah pada kejadian dimana aku ada di taman RS Ansan.
Ketika aku berusaha menata pikiranku agar fokus saja ke jalanan yang aku lalui untuk kembali ke RS, aku
mencium bau kuat.
Tiba-tiba, hidung dan mulutku ditutup kain. Dalam kesadaran yang mulai berkurang, aku tidak bisa melihat orang-orang di depan.
Pengguna jalan yang berada di kendaraan pun sepertinya tak ada yang memperhatikan. Jika ada pun yang melihat, mereka hanya akan berpikir itu sebuah candaan.
Aku ingat, sebelum berhasil melihat pelaku, kesadaranku hilang.
aku berada di sebuah kamar dengan cat putih di setiap sisinya, jelas itu bukan rumah seketika membuatku sesak. Aku begitu penat dengan serbuan memori tersebut.
Aku keluar dan memicing melihat dari jendela kecil seseorang yang berjalan cukup jauh di ujung sana.
sekelebat, saat orang itu akan berbelok, aku melihat kilasan rambut hitamnya.
Kemudian, mendadak,
orang itu berlari.
“Taemin?” aku ikut berlari di sepanjang koridor, berusaha mengejar Taemin yang sepertinya mencoba
kabut dari sesuatu.
“Taemin!” panggilku lagi. namun, sia-sia saja.
Larinya begitu cepat. Pria itu sudah sampai di ujung koridor. Dibukannya pintu ke tangga darurat dan terus melesat. Taemin berada satu lantai di bawahku.
Tiba-tiba, sepasang tangan terulur dari belakang Taemin. Aku tidak melihat keberadaan orang itu tadinya. Entah dia baru masuk dari pintu darurat lantai lain atau tersembunyi di balik anak-anak tangga.
Kedua tangan itu mendorong Taemin dengan sangat keras hingga tubuhnya berguling-guling menuruni
tangga.
Aku sontak berteriak, sebelum bisa bergerak untuk menolongnya atau mengejar si pendorong laknat yang kini kabur.
Kerongkonganku terasa kering. Mataku berair.
Aku mengerjap.
Lalu mengerjap sekali lagi.
Aku tidak melihat Taemin.
Tidak melihat tangga darurat. Yang berada di hadapanku kini malah meja dengan penuh obat-obatan. Ini kamar perawatan. Tadi itu hanya mimpi.
Aku mengedarkan pandang, menyadari bahwa aku pasti telah tertidur barusan.
Namun, mengenai ingatanku soal bau-bauan, aku yakin itu nyata.
Mataku tertarik ke arah pintu. Ada kertas putih terselip di bawahnya. Aku beranjak, mengambil kertas
tersebut, dan baru sadar bahwa itu adalah amplop.
Seseorang meletakkan amplop putih di sana, ketika aku tertidur.
Tak ada cap atau prangko apa pun.
Aku membuka amplop itu, memandangi isinya, tetapi tidak yakin itu apa. Jadi, aku memasukkan jari dan
menarik sebagian isi amplop itu keluar. Sedetik kemudian, aku menyadari apa yang berada di peganganku dan kontan menjatuhkan semuanya ke lantai, berserta amplop tadi.
Helaian rambut berwarna hitam.
TBC
*setelah masalah amnesia ini selesai, kalian mau langsung end atau masih lanjut? Koment yaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
FanfictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
