FLASHBACK ON
Daerah perbatasan Ulsan dan Busan
2 tahun yang lalu
-Author POV-
Pada mulanya, ia hanyalah kobaran api.
Wanita itu merasakan kobaran api di kaki dan paru-parunya.
Api yang mengoyak setiap saraf dan sel dan tubuhnya.
Seperti itulah ia terlahir kembali, muncul dari dalam panas dan kegelapan yang
menyesakkan. Terlahir dalam kesakitan. ia paksakan langkahnya menembus ruang-ruang gelap dan
basah yang dipenuhi suara dan bebauan aneh.
Ia berlari dan ketika ia tak sanggup lagi berlari, berjalan terpincang-pincang.
Ketika tenaganya tak sanggup lagi melakukannya, ia merangkak maju, sedikit demi sedikit, mencengkeram tanah dengan kuku-kuku jemarinya, laksana cacing kecil yang merayap di atas belantara yang teramat lebat asing dan
aneh.
Entah sudah berapaa jauh ia berkelana di hutan dan entah berapa lama ia berlari kian dalam dan jauh ke dalam hutan, ketika ia sadari bahwa ia terluka. Ia yakin, setidaknya ada seseorang yang berhasil menembaknya saat ia berusaha menghindar dari kejaran. Sebutir peluru menyerempet samping
tubuhnya, tepat dibawah ketiaknya dan kausnya pun bersimbah darah. Namun, beruntungnya. Lukanya
tidak dalam. Bagaimanapun, darah yang bertetesan dan kulit yang terkelupas itu membuat segala sesuatunya terasa begitu nyata, tempat asing, pepohonan yang tumbuh menjulang di mana-mana, apa
yang telah terjadi dan apa yang telah ditinggalkannya.
Apa yang telah direnggut darinya.
Perutnya kosong melompong, tapi ia tetap saja muntah. Terbatuk dan memuntahkan cairan kuning di atas dedaunan tipis berkilau di samping kanan dan kiri.
Burung-burung berkicau ramai di atasnya.
Seekor hewan datang untuk mengamati, lalu cepat-cepat berlari menjauh kedalam jalinan kusut pepohonan.
Ia lepaskan kausnya, merobek kelimannya dan membalut erat dadanya dengan bagian kain yang paling bersih agar lukanya tertekan dan terhenti pendarahannya. Ia sama sekali tak tahu di mana ia berada
atau ke mana ia akan pergi.
Yang bisa ia pikirkan hanyalah bergerak dan terus melangkah, menjelajah
lebih dalam lagi, menjauh dari kejaran itu.
Suami.
Tidak. Suaminya ada di sini. Ia harus membayangkannya. Hanya dengan pikiran itu ia bisa kuat.
Selangkah demi selangkah, ia menerobos semak duri, lebah dan nyamuk. Ranting-ranting tebal nan lebar menampar wajah dan tubuhnya, sementara sekawan binatang penyengat dan kabut menari-nari
di udara. Ketika akhirnya ia berhasil mencapai sungat, tubuhnya begitu lemah dan nyaris saja terbawa arus.
Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Dinginnya menusuk hingga ke tulang, membuayku
meringkuk di sela-sela akar pohon yang amat besar, sedangkan di sekitarnya, hewan-hewan yang tak
tampak mulai menjerit, terengah-engah dan menggertakkan gigi dalam kegelapan malam. Ia terlalu
takut untuk memejamkan mata ataupun tidur. Kalau ia tidur, ia akan mati.
Langkah demi langkah kemudian, sedikit demi sedikit.
Merangkak, dengan perut tergulung menjadi gumpalan debu dan mulut yang hanya mampu merasakan aroma asap.
Merayap dengan kuku-kuku jari, satu demi satu, bagai cacing.
Ketika ia tak sanggup lagi melangkah maju sesenti pun, ia rebahkan kepala di tanah dan menunggu ajal menjemput.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
FanfictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
