Yonsei University
-Taemin POV-
Karena mabuk, aku melihat permukaan air danau yang bergolak layaknya lava.
Melihat hal itu, aku jadi ingin buang air kecil. Aku berjalan dengan sempoyongan dan masuk ke hutan.
Aku melihat ke sekeliling untuk mencari tempat yang cukup tersembunyi. Lalu, aku melihat sebuah bekas galian di bawah bukit yang tampak seperti gua. Setelah memastikan tempat itu tepat bagiku untuk buang air kecil, aku membuka risleting celana.
Saat itulah, terdengar suara kertak dari dalam lubang. Aku menggosok-gosok mata yang kering untuk menyadarkan diri, mungkin saja aku salah dengar karena masih sedikit mabuk. Namun, terdengar lagi
suara yang entah apa penyebabnya. Aku mencoba membuka mata lebar-lebar dan berusaha keras untuk
fokus di tengah pengaruh alcohol yang membuat penglihatanku buram.
Kemudian, aku melihat ke
dalam lubang tempat asal suara itu. Di dalam lubang itu, ada seorang wanita berpakaian terusan warna putih dengan rambutnya yang
terurai. Melihat penampakan yang mengerikan itu, aku membeku sambil memegangi celana. Wanita itu
sedang menggali tanah dengan sebuah sekop yang panjanganya kurang lebih sama dengan tinggi badannya. Di sampingnya, terdapat tumpukan buku yang mungkin hendak dikuburnya.
“Oh…”
Wanita yang sedang menggali tanah dengan sekuat tenaga itu akhirnya menyadari kehadiranku. Ia mengedip-ngedipkan mata karena terkejut juga.
Kemudian, di wajahnya yang terkena tanah, terlihat
pula sederet gigi yang putih.
Ia tersenyum dengan lebar. Wanita itu adalah Son Naeun, teman nya Kai dan Krystal yang dikenalkan padaku seminggu yang lalu. Aku sungguh heran. Aku pun merasa tak mabuk lagi.
***
Ketika aku tersadar kembali, kini akulah yang sedang menggali lubang dengan sekop.
“Padahal aku bisa melakukannya sendiri,” gumam Naeun di sampingku sambil berjongkok.
“Tidak apa-apa. Ini mau selesai kok.”
Aku tersenyum dengan canggung, kemudian lanjut menggali lubang untuk mengubur buku-buku itu.
entah seberapa keras aku menggali lubang, tubuhku pun dibanjiri keringat. Alcohol yang masuk ke tubuhku melalui minuman yang kuminum pun keluar melalui keringat dan pikiranku kini semakin jernih kembali.
Sementara itu, Naeun mengamatiku dari berbagai sisi dengan wajahnya yang jail. Setiap melihat Naeun
melakukan hal itu, aku pun merasa tak berdaya. Mengapa aku selalu melakukan hal yang tidak biasa di depan Naeun? seberapa pun kerasnya aku berpikir, aku tidak kunjung mendapatkan jawaban dari
pertanyaanku itu. aku menggeleng-geleng dengan kesal. Kemudian, aku kembali mengerahkan seluruh
tenaga dan kembali menggali lubang itu dengan sekop.
Setelah aku menggalinya sampai setinggi bahu dan tanganku mulai terasa sangat sakit, terbentuklah lubang yang kira-kira bisa menampung dua tong. Buku-buku yang dibawa oleh Naeun juga dikuburkan di lubang itu. setelah itu, aku mulai menutup kembali lubang itu dengan tanah. Ketika sedang
menguburkan buku-buku itu, aku tiba-tiba teringat sesuatu lalu berhenti mengeruk tanah.
Aku melepaskan cincin dari jari manis dan melemparkannya ke dalam lubang. Cincin itu menggelinding, lalu jatuh ke celah buku-buku itu. bersinar sendirian. Sejenak, aku memandangi cincin itu, kemudian mengeruk tanah kembali untuk menutup lubang itu perlahan-lahan. Cincin itu masih tampak bersinar
hingga akhirnya tanah mulai menutupinya. Cahaya yang terpancar dari cincin itu menyorot mataku. Aku
memejamkan kedua mataku sesaat. Aku menelan semua perasaan yang bercampur di dalam diri, kemudian mulai mengeruk lagi. aku mengangkat sekop lalu menutup rapat lubang itu dengan tanah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
Fan-FictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
