Gangnam
-Krystal POV-
“Kamu gila!”
“Ini yang terbaik untuk kita, Kai. Aku tahu cintamu hanya untuk Jennie. Bertahun-tahun kamu menunggu saat ini tiba, kan?” aku melanjutkan walaupun rasanya pahit, “Aku percaya hanya Jennie yang
ditakdirkan menjadi cinta sejati kamu.”
Kai mondar-mandir di depanku. Wajahnya gusar. “Ini tidak benar. Kamu salah, Krystal!”
Aku menunduk. Meremas-remas bantal sambil meringkuk di sofa merah marun favoritku di ruang tengah apartemen Kai.
Dugaanku benar. Bahkan sekarang pun Kai tak memanggilku Bee, panggilan
kesayangannya.
“Kai, aku tidak mungkin menikah dengan orang yang mencintai orang lain,” jelasku lirih. Kali ini aku tak kuasa lagi memandang wajahnya.
Tiba-tiba Kai menarikku hingga berdiri dan memaksaku memandangnya. “Krys, please, pernikahan kita sebentar lagi dan semua sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Kita tidak mungkin membatalkan
semuanya!”
Aku menarik napas panjang, “Tentu saja mungkin. Apalah artinya kehilangan uang sebanyak itu demi kebahagiaan di masa depan? Sudahlah Kai, tinggalkan aku. Kejar Jennie. Dia lebih pantas untukmu.
Kalian mempunyai passion yang sama, pasti seru bisa berbagi hal yang sama-sama kalian mengerti. Tidak seperti aku.”
Kai melepaskan pegangannya di pundakku. Dia menghela napas dan berjalan menjauhiku.
“Kamu tidak memikirkan perasaanku sama sekali.”
“Ini justru karena aku memikirkan kamu.” Aku berusaha keras menahan air mata. “Aku mau kamu
menjalin lagi hubunganmu yang terputus dengan Jennie,” pintaku lirih. Selama beberapa menit Kai terdiam, hingga akhirnya dia menghampiriku.
Suaranya mantap dan tegas saat berkata, “Oke, aku akan mendekati Jennie lagi seperti saran kamu. Tapi, jangan batalkan semua persiapan pernikahan kita. Satu bulan lagi aku akan menemui kamu untuk mengatakan apa arti cinta sejati itu!”
Tak kusangka aku begitu terluka mendengarnya. Kai menuruti saranku. Berarti dia benar-benar masih mencintai Jennie. Apakah yang kulakukan ini salah? Atau sebaliknya?
Tak ada yang pernah tahu, yang kutahu hanyalah dia terlihat begitu bahagia saat Jennie hadir. Apakah aku tega membuatnya bersedih?
Itu jahat namanya. Kuturuti permintaannya dan selama satu bulan ke depan aku tidak akan bertemu atau mencari tahu kabarnya. Aku lalu meninggalkan apartemen Kai dengan perasaan gamang yang
menggelayut, menolak tawarannya untuk mengantarku pulang.
***
Setengah bulan ini merupakan masa-masa terberat dalam hidupku. Menyelenggarakan peragaan busana, memamerkan senyum di depan semua orang dan mendapatkan kehormatan diliput salah satu majalah terkenal di Korea tanpa Kai yang memandangku dengan penuh kebanggan atau meneleponku
sebelum tidur hanya untuk berdoa bersama.
Sekarang semuanya kujalani sendiri. Puluhan kali aku menyesali keputusanku melepas Kai, tapi ratusan kali pula aku menyakinkan diri sendiri bahwa mencintai itu artinya membiarkan orang yang kita cintai bahagia. Sayangnya, baik Yena maupun Naeun tak setegar dan serela aku.
Mereka seperti paparazzi
yang selalu mengawasi ke mana pun Kai pergi dan pedihnya, selalu ada Jennie yang berjalan di sampingnya. Makan malam, nonton bioskop, bahkan kegiatan belanja yang dulu sangat tidak disukai Kai.
Tak kusangka Kai tiba-tiba punya waktu luang yang jauh lebih banyak ketimbang saat berpacaran denganku.
Naeun menguasai ponselku karena gemas aku tak melakukan apa-apa untuk mempertahankan tunanganku. Dari postingan instagram Jennie yang selalu ter-update, dia jadi tahu apa saja yang dilakukan Jennie dan Kai setiap hari. Yena malah lebih parah. Suatu waktu dia menunjukkan foto mereka yang dia ambil diam-diam. Tampak Kai tersenyum ketika Jennie menyuapinya sepotong kue. Air mataku berlinang melihat foto itu. kamu terlihat sungguh bahagia, Kai. Aku benar-benar tidak mungkin membuat kamu bersedih lagi. kuyakinkan diriku bahwa perjanjian satu bulan itu takkan berakhir, Kai tidak boleh terbebani janjinya untuk menikahiku.
“Eonni, tidak mau pulang sama aku aja?” ajak Yena, melongokkan kepala dari dalam mobil birunya.
Aku menggeleng. “Aku tunggu taksi aja, Yena. Sebentar lagi juga lewat.” Kuulaskan pandangan ke sepanjang jalanan Gangnam di depan butikku. Yena kemudian melambaikan tangan dan mobilnya berlalu meninggalkanku.
Lima belas menit kemudian, saat belum ada taksi kosong yang dapat kunaiki, mobil silver dengan nomor
polisi yang kuhafal mati, menepi di depan trotoar tempatku berdiri, jendelannya diturunkan dan tampaklah seulas senyum, “Naik, Bee.”
Aku menggeleng. “Aku masih dalam waktu rehat untuk tidak bertemu kamu, Kai.”
Terdengar tawa dan Kai turun dari mobil. Dia bergegas menarik tanganku, sedikit memaksaku masuk ke mobilnya. Tak lama kemudian mobil berjalan menuju arah yang sangat kukenal. Restoran Ramen. Kulirik jam di dasbor. Sudah jam Sembilan malam.
“Iya, memang sudah jam segini, tapi aku rindu sekali makan ramen. Tidak apa-apa, kan?” tawa renyah khas Kai membahana.
Maka duduklah kami saat ini, berhadapan ditengahi meja kayu khas restoran ramen.
“Dan sebelum ramen ini dingin. Aku mau bicarakan beberapa hal. Tolong jangan dipotong ya, Bee.”
Aku berhenti mengaduk ramenku dan ragu-ragu menatapnya. Cahaya mata Kai tampak redup dan itu membuat jantungku berdebar. Saatnya sudah tiba, dia bahkan tidak butuh waktu sebulan untuk memikirkan keputusan itu.
Kai meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Tangannya terasa dingin hingga membuat jantungku
semakin berdegup kencang.
“Bee, please hentikan semua ini, ya. Jangan siksa aku terlalu lama dengan permainan yang kamu ciptakan. Beberapa hari tanpa kamu sudah seperti neraka untukku!” desis Kai.
Napasku tercekat. “Kai?”
“Bee, aku sama sekali tidak mencintai Jennie. Kalaupun dulu aku pernah tergila-gila padanya, masa itu sudah lewat. Tapi terima kasih, paling tidak kesempatan yang kamu berikan ini membuatku sadar bahwa tak ada selangkah pun jejaknya di hatiku. Yang tersisa hanya jejak Krystal Jung seorang."
Air merembes dari sudut-sudut mataku. Apakah yang Kai katakan benar?
“Jadi, jangan tinggalkan aku lagi ya, Bee. Kalau memang pernikahan kita bisa dipercepat, aku mau saat
ini juga kamu sudah menjadi istriku!”
“Bagaimana dengan perasaan Jennie? Dia mencintai kamu, Kai.”
Kai mengangkat kedua tangannya, “So what? Dia memang mengaku menyukaiku dan terus-terusan minta maaf karena dulu pergi tanpa pesan. Tapi kenapa kita harus memedulikan dia?”
Aku menarik napas panjang. Keraguan masih memenuhi benakku. “Apakah kamu benar-benar mencintaiku, Kai?”
Kai ikut-ikutan menarik napas panjang. Perlahan dia menyentuh mangkuk ramennya.
“Aku tidak suka makan ramen kalau sudah dingin. Jadi tidak perlu kujawab, ya, Bee. Biar kamu saja yang menilai, aku sungguh-sungguh mencintai kamu atau tidak.”
Rasanya beban lepas dari dadaku. Beban yang sebenarnya kuciptakan sendiri.
Sayup-sayup terdengar
lagu yang diputar di restoran ramen. Kai berceloteh di tengah kunyahan ramennya, “Restoran jepang,
kenapa lagunya yang diputar lagu barat. Tidak nyambung.”
Aku tersenyum dan kami tertawa bersama, semakin keras.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
FanfictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
