Cheongdam
-Yoona POV-
Kalau semua yang tak suka memang harus lenyap, biarlah terjadi. Biarlah.
Termasuk hubunganku dengan Changwook. Aku tidak bilang bahwa aku tidak serius dengan dia. Sejak pertama, aku bahkan bilang padanya: usiaku kini sudah tidak muda lagi.
tentu jika yang kamu harapkan adalah kata-kata sayang yang semeriah gulali atau pelukan yang membara di sembarang tempat, masaku sudah lewat. Hubungan ini hubungan masa depan yang akan bersangkutan dengan hal-hal yang
lebih matang, seperti jumlah tamu undangan, jumlah anak, hingga pilihan asuransi yang paling menguntungkan.
Anehnya, Changwook menyambutnya dengan anggukan yang tenang. Aku mengharapkan penolakan, namun itu tidak ditunjukkannya. Changwook memang orang yang tenang, setenang perjalanan kariernya yang kini telah melesat, melebihi teman-teman seangkatannya untuk prestasinya itu, ia bahkan sampai pernah diwawancarai sebuah majalah terkenal. Satu halaman penuh dan satu baris yang aku ingat hingga sekarang adalah jawabannya yang lugas ketika ditanya tentang kunci suksesnya.
“Saya menunggu segalanya dengan sabar. Setiap orang, baik atasan maupun anak buah, punya cara bertumbuh masing-
masing. Saya hanya perlu memperhatikan dengan seksama.”
Aku mengingatnya, bahkan sempat menulisnya di buku harianku, tentu bukan dengan rasa bangga, tapi
dengan rasa gelisah.
Changwook teramat beda dengan diriku, dia bisa menerima ajakanku untuk menjalani hubungan ini dengan serius. Padahal, sesungguhnya aku setengah mengancam. Kini semakin jelas, alih-alih mengancam Changwook, ancaman itu justru berlaku untuk diriku: sungguh, kamu mau
nikah sama dia, Yoona?
Di saat pertanyaan ini menggema, aku menenggelamkan diri lebih dalam lagi.
***
Pagi ini, Changwook menelpon.
“Yoona-ah, aku sudah bilang pada orangtuaku. Mereka tanya rencana kita. Aku tidak bisa memutuskan sendiri, kujawab begitu. jadi, menurutmu, apakah kita akan menikah tahun ini, atau lebih baik tahun depan sekalian?”
“Aku belum tahu. Aku setuju, tahun ini tentu lebih menguntungkan.”
“Aku tidak masalah, tahun ini atau tahun depan.”
“Tentu saja. Ini bukan tentang kamu, ini tentang aku dihadapan teman-temanku.”
“Okey, okey. Aku ikut saja dengan pertimbanganmu.”
“Aku boleh minta sesuatu?”
Dengan hati-hati, aku bilang pada Changwook bahwa aku butuh waktu khusus untuk
mempertimbangkan ajakan nikah tersebut. Aku minta waktu 1 minggu penuh, tanpa ada interaksi antara aku dan dia.
Aku bilang padanya, bahwa perempuan memang sangat sensitive tentang hal-hal
seperti ini. Mereka ingin jeda yang cukup untuk menyambut fase baru dalam hidupnya.
Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, lagi-lagi Changwook setuju. Bahkan, ia menanyakan apakah
waktu 1 minggusungguh-sungguh cukup untukku, mengapa tidak 1 atau 2 bulan sekalian. Aku jadi tidak enak.
Aku punya rencana sendiri untuk waktu 1 minggu itu. untuk terakhir kalinya, aku mau bertemu Seunggi.
***
Setelah mengatur tiket dan segala macam, aku pun langsung ke US. Seunggi mengatur pertemuan kita di
sebuah kafe kecil dekat workshopnya. Ia bilang, di kafe tersebut, ia bisa meluangkan waktu hingga
berjam-jam, dengan hasil yang sudah mencapai jutaan. Film documenter terakhir garapannya berhasil meraih penghargaan dan itu dibuat di kafe ini.
Seunggi juga menyarankan supaya aku tidak terlalu lelah berdandan, sebab ia sendiri hanya bercelana
pendek. Bahkan, ia mengaku hari-hari ini, ia tidak sempat mandi. Mandi pertama di minggu ini adalah
pagi ini dan itu bukan untuk diriku, melainkan untuk kenyamanan pengunjung kafe lainnya. Baiklah, Seunggi, terserah kamu saja.
“Hi, Yoona!”
“Seunggi!”
Kami bersalaman dengan hangat. Seunggi tidak banyak berubah. Aku tahu Seunggi masih di ambang 30-
an. Namun kuakui, itu sama sekali tidak membuatnya kelihatan tua.
“Sudah pesan sesuatu?”
“Sudah. Hot chocolate.”
“Oh ya, kamu menginap di mana, Yoona?”
“Aku menginap di hotel seberang jalan, sebenarnya sudah sejak minggu sore aku tiba. Kemarin aku sengaja jalan-jalan dulu, ke kampus kita dulu, nostalgia.”
“Ya ya. Kita sudah semakin tua, hingga akhirnya kita berhak memakai kata tersebut. Nostalgia…”
“Yaa. Entah itu positif atau negative.” Kataku sambil menyeruput secangkir cokelat panas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Remember Me As A Time of Day✅
FanfictionTidakkah kau rasakan waktu berlalu begitu cepat? Ia hampir saja membuatku melupakan satu hal yang paling menyakitkan tentang dirimu. Tentang kau yang tiba-tiba hilang seakan ditelan bumi. Tentang lenyapnya impian yang pernah kita rangkai bersama. Hi...
