Part 43

55 6 0
                                        


-Naeun/Lena POV-

Malam itu begitu cerah, bintang-bintang berpendar bagai permata, aku memandang dari jendela kamar.

Aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku beruntung bisa melihat bintang dilangit malam tanpa awan, membuat hatiku tenang dan nyaman.

Bintang-bintang itu ada yang berkelompok. Aku berusaha
menebak bentuk-bentuk yang mungkin dirangkai gugus bintang itu. tapi sejauh ini aku hanya bisa melihat satu kelompok bintang yang berbentuk seperti layang-layang. Setelah puas mengamati, aku
menutup tirai kelambu.

Aku sudah di ranjang kemudian mengalihkan pandang pada kotak musik besar di meja rias, di sebelah vas bunga yang penuh berisi mawar putih segar yang aku petik dari taman. Aku mengamatinya sebentar sebelum akhirnya membuka kotaknya, sekedar membuatku melakukan sesuatu untuk mengisi waktu luang.

Dua orang penari dansa berputar-putar. Aku menikmati melodinya yang indah sambil
memandang pasangan dansa itu, agak melamun, terbuari alunan musiknya yang lembut. Setelah agak lama, suaranya menjadi tidak teratur dan sumbang.

“Kenapa ini?” gumamku bingung lalu mengguncang-guncang kotak music di tanganku, berharap suaranya menjadi jelas kembali. Namun tampaknya tidak berhasil.

Aku bermaksud mengecek baterainya. Mengamati sisi kotak itu dengan seksama,mencari-cari di mana
letak baterainya. Aku mengangkat kedua penari itu, otomatis bagian dasarnya ikut terangkat. Yang mengejutkan adalah bahwa di dalamnya tidak hanya terdapat baterai tetapi tersimpan buku harian
kecil.

Aku ragu-ragu mengambilnya, menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri seolah takut ada yang memarahi.

Aku tidak tahu apakah bijaksana membiarkan diriku membaca buku harian orang lain. Bukankah aku sekarang Naeun. setidaknya buku harian ini bisa membantuku mengetahui segala sesuatu tentangnya, pikirku. Aku membuka-buka sekilas.

Ternyata Naeun tidak menulis setiap hari, hanya mencatat hal-hal penting yang terjadi atau menulis curahan perasaan dan pemikirannya. Beberapa tulisan yang menarik
perhatianku adalah sebagai berikut.

Bibi… aku sangat merindukanmu, aku ingin bersamamu. Tenang dan aman dalam pelukanmu, tidak
perlu mengkhawatirkan apa pun, tidak perlu berpikir apa-apa. Bibi tahu benar bagaimana harus menghiburku dan menenangkanku.

***

Aku bermimpi buruk malam itu. di hadapanku berdiri seorang laki-laki, aku tidak dapat melihat dengan jelas siapa pria tersebut karena sosoknya gelap, seakan membelakangi arah datangnya cahaya. Sosok itu mulai berbalik dan berjalan menuju cahaya itu, berusaha mengejarnya. Dia sudah semakin dekat sekarang.

Tunggu! Tunggu dulu, teriakku. Aku sengaja berlari sampai paling tidak mendahului pria itu dengan
maksud untuk menghadangnya supaya jangan pergi. Aku sudah selangkah di depannya sekarang, aku berhenti tepat di depannya dan menatap pria itu dengan disinari cahaya dari belakang. Sosok itu dengan cepat berganti menjadi serangga raksasa seukuran manusia, sungutnya yang panjang bergerak-gerak,
kakinya yang beruas-ruas bergerak-gerak hendak menjangkauku. Aku memekik ngeri, melangkah mundur dan menjerit sekuatku.

“TIDAKKKK! Auw!” Aku menjerit disusul bunyi debum keras dan pekik kesakitan, aku terjatuh dari ranjang. Aku bangun sambil memijat-mijat belakang kepala yang terbentu dan melihat selimut menggulung tak beraturan di lantai. “Auw sakit!”

Aku memandang jam mini di meja. Pukul 07.00. aku bangun kesiangan, ku lihat seleret cahaya matahari menembus kelambu jendela kamar. Aku bangkit dengan badan pegal-pegal setelah jatuh, berjalan ke arah jendela dan menyibak kelambu. Sesaat cahaya di luar jendela menyilaukan mata sehingga aku buru-buru menjauh.

Aku melangkah ke kamar mandi dalam keadaan kacau, masih memakai piyama dan belum merapikah tempat tidur. Mimpi itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Dengan suntuk aku membuka pintu kamar mandi, mengambil pasta gigi dan mulai menggosok gigi sambil menatap bayanganku yang masih mengantuk di cermin tanpa kusadari ada orang lain yang sudah lebih dulu berada di sini.

Tirai panjang bergemerincing disertai bunyi pancuran yang dimatikan, Taemin balas memandangku dari tirai yang terbuka. Aku menolehkan wajah sesaat tampak tidak mengerti ketika memandang wajahnya,
aku kembali memandang cermin, untuk beberapa detik dan kemudian tersadar. Aku memandang kembali wajah Taemin, mataku terbelalak kemudian berteriak, busa pasta gigi berhamburan keluar dari mulutku, ucapanku tidak jelas.

“WAAA!!” Aku segera membalikkan badan menghadap tembok, dahiku membentur dinding saking cepatnya aku berbalik. “Auw!”

Aku tidak berani melakukan hal lain, yang ada di pikiranku hanyalah menutup mata rapat-rapat, sebelah
tanganku masih memegang sikat gigi, bertanya panik

“Apa yang kau lakukan di sini? Hah?”

“Aku sedang mandi, kamu yang tiba-tiba masuk. Lagipula, ini bukan pertama kalinya kamu melihatku seperti ini, ingat kita sudah punya anak. Sudah, sekarang kamu boleh balik”

Aku berbalik takut-takut, mengusap sisa busa pada mulut. Taemin berusaha menyibak rambutnya yang
basah ke belakang, aku memberanikan diri membuka mulut.

“Pintunya tidak dikunci, aku masih mengantuk jadi tidak dengar bunyi showernya,” jelasku, setelah memandangku sejenak, Taemin keluar tanpa mengucapkan apa-apa, membuatku semakin bersalah.

Setelah Taemin menghilang dari pandanganku. Aku buru-buru menutup dan mengunci pintu. Aku masih
berdiri menyandar pada pintu, yang barusan terjadi, jantungku berdebar kencang sekali. Kedua tanganku menekan dada seakan jantungku setiap saat akan keluar.

“Siapapun pasti akan serangan jantung kalau dikejutkan seperti ini,” gumamku, yang sekarang sedang menepuk-nepuk kedua pipi untuk menyadarkan. Aku bangkit, membuka keran air dan membasuh muka
berkali-kali. Hampir saja, pikirku, untung aku belum melihat terlalu jauh.

Kemudian aku melanjutkan
kegiatan menggosok gigi yang tadi sempat terhenti seakan tidak terjadi apa-apa. Aku keluar beberapa menit kemudian, hendak menuju kamar.

“Hari yang sial, belum apa-apa sudah ketemu serangga raksasa, kepala sakit, ditambah lagi Taemin yang
muncul tiba-tiba di sebelahku sampai tidak sengaja menelan busa. Nanti apa lagi kira-kira,” gerutuku.

“Naeun-ah, ayo kita makan sama-sama,” bujuk Mommy dari meja makan begitu melihatku keluar dari kamar mandi.

“Iya, sebentar lagi,” jawabku. aku menutup pintu kamar berganti pakaian secepat kilat, menyisir rambut, merapikan tempat tidur dan buru-buru keluar kamar bergabung dengan yang lain.

“Kelihatannya sibuk sekali, ada rapat?” tanya Mommy kepada Taemin. Ia menyeruput the hangatnya dan menatap putranya dengan serius.

“Iya, ada rapat besar dengan calon klien kita jam 1 nanti.” kata Taemin.

Taemin bangkit, meraih gagang telfon lalu mengobrol. Lima belas menit kemudian, semua orang tambak buru. Taemin menyambar jasnya dan segera pergi keluar rumah.

“Sampai nanti,” kata Taemin sambil mengacak rambutku begitu aku melintasi hendak menutup pagar.

Aku hanya bisa terdiam.
Hanya aku yang tampaknya tidak dikejar-kejar waktu namun aku tidak keberatan.

Kemudian seperti yang sudah di rencanakan, aku mandi, bersiap-siap pergi ke sekolah anak-anak. Dalam perjalanan
menuju dapur, aku melihat file yang tadi sibuk dibaca Taemin tertinggal di meja.

Aku memandang jam dinding kemudian meraih file di meja.

“Dasar ceroboh!”

***

Ansan

-Author POV-

Setiap dokter pasti punya pasien favorit. Apalagi jika dokter itu masih dalam tahap belajar. Ketika idealisme masih bergejolak di dada.

“Eonni, aku merasa ini semua tidak benar.” Ujar Eunji ketika berbicara dengan Hyesun

“Apa maksudmu?”

“Kita tidak bisa terus-menerus menyembunyikan kenyataan ini…”

Ketika itu, tak sengaja Seulgi yang sedang berkunjung ke rumah sakit untuk menemui dokter Hyesun mendengar perkataan Eunji, ia berhenti dan menguping percakapan mereka.

“Aku pun sama sepertimu, tapi apa daya kita, kita di kendalikan”

“Tapi, aku merasa sangat bersalah padanya, aku punya firasat bahwa semua ini tidak akan berjalan mulus…”

“Eunji, selama kau tetap diam dan tidak mengatakan apapun tentang fakta ini kepada siapapun, kita akan aman.” Hyesun menyakinkan.

“Aman? Bagaimana hatimu bisa sekeras batu seperti ini eonni? Kau lupa apa yang sudah Naeun korbankan demi menyelamatkanmu dan anakmu 2 tahun lalu…”

“Aku jelas masih mengingatnya, lalu apa yang harus aku lakukan? Kau mau aku mengakui bahwa Lena
itu adalah Naeun yang hilang ilangatan setelah 2 tahun koma? Kau mau aku mengatakan itu semua, itu lebih membahayakan dirinya sendiri, wanita kejam itu pasti akan kembali menyusun rencana untuk kembali membunuh Naeun, kau mau itu yang terjadi?”

Seulgi yang mendengar itu semua tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, memejamkan mata untuk mengendalikan amarahnya setelah mendengar semua itu. dia kembali memfokuskan diri
untuk mendengar kelanjutan percakapan mereka.

“Tapi, dengan seperti ini pun, kita telah melakukan kesalahan, aku takut wanita kejam itu pasti akan
menjadikan Naeun sebagai boneka untuk menghancurkan keluarga sendiri dan jika Naeun sudah sadar siapa dirinya yang sebenarnya, dia pasti akan sangat hancur. Dan jika, wanita kejam itu tahu tentang semua ini, nyawa kita dalam bahaya eonni”

Seulgi hendak melangkah menghampiri mereka, tapi tertahan dia kembali mundur “Jadi, dia benar-benar Naeun, dan aku yang kembali menyatukan mereka. Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku harus melakukan sesuatu. Baiklah, Aku tidak akan membunuh kalian atau pun Naeun, tapi aku akan membuat
hidupnya lebih menderita daripada di neraka.”

Seulgi segera berbalik dan pergi dari rumah sakit itu.

TBC

Remember Me As A Time of Day✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang