Part 2

211 11 1
                                        


Cheongdam

-Taemin POV-

“Tenanglah, ini bukan berarti kiamat.”

Aku diam saja, terlalu marah dan tersinggung untuk mengatakan sesuatu.

Ia membaca semua isyarat itu di mataku, lalu membuang muka dan menatap langit.

“Sudah berapa tahun kita saling mengenal? Tiga?”

Aku masih membisu.

Ia menghela napas dalam-dalam. “Tiga tahun. Waktu yang panjang untuk sampai ke titik ini, bukan
begitu? aku mecintaimu. Apakah kamu mencintaiku? Sedikit saja? Apakah cintaku belum juga bisa mengenyahkan ketakutan di hatimu dan membuatmu percaya bahwa kamu akan baik-baik saja? Apakah
cintaku belum juga bisa membuatmu yakin bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu?”

Aku tidak menjawab. Kali ini kubiarkan ia bercakap-cakap sendiri. Aku masih sibuk membangun amarah, tembok, jarak dan kebringasan emosi yang entah mengapa, semakin sulit dibangkitkan.

“Coba lihat senja ini… bukankah sempurna, menurutmu? Begitu jelas menggambarkan diri kita, kamu dan aku. Bentangan langit yang kelabu tebal itu seperti dirimu, muram dan tertutup, begitu tebal dengan tembok-tembok yang kamu biarkan melindungimu dari luka dan kesedihan. Tapi kamu lupa,
tembok-tembok itu memang telah melindungimu. Tapi mereka juga memisahkanmu dari hidup dan kebahagiaan. Dari cinta…”

Ia mendesah. “Aku ini hanya matahari sekarat yang jauh dari sempurna. Bertahun-tahun aku berusaha menembus awan tebal yang menjadi tembokmu dan menyerukkan sinar-sinarku yang paling lembut dan
paling tidak menyilaukan ke baliknya dan aku tahu aku berhasil. Aku berhasil mengetahui apa yang kamu
sembunyikan di balik sana, aku mengerti seperti apakah wajahmu yang sesungguhnya…”

Ia tersenyum samar, tapi kemudian senyumnya redup.

“Hanya saja aku lupa, mungkin kamu tidak ingin dimengerti,
tidak ingin diraih, tidak ingin dikenal. Mungkin kamu memang memilih untuk tidak dicintai. Dan sungguh bodoh terus berkeras bertahan di sini dan menyaksikanmu menghapus warna-warna kehidupan dari wajahku sendiri.”

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Aku mencintaimu. Percayalah. Dan aku takkan pernah
meninggalkanmu, asal saja kamu mau memintaku tinggal, aku butuh sedikit saja pertanda bahwa kamu mencintaiku, bahwa cintaku memiliki sedikit saja makna bagimu…” ia menatapku lekat-lekat, namun aku
tak sudi memandangnya. Aku sibuk menyergah, menyangkal dan berperang dengan diriku sendiri. Aku tidak pernah belajar membaca harapan di mata dan hatinya, sehingga tidak mengenalinya.

“Baiklah. Tidak ada gunanya bagiku untuk tinggal lebih lama. Aku akan pergi. Aku mecintaimu, tapi aku tidak bisa begini terus…” dan ia pun berlari mengiris hujan yang mengguyur pergi senja itu.

Pada dasarnya aku ini memang lelaki pengecut. Kesadaran itu tidak begitu saja membuatku mencarinya.

Aku masih harus menumbuhkan keberanian di antara hari-hari yang datang dan pergi usai kepergiannya,
masih menunda waktu untuk merangkainya. Setahun lamanya aku menanti hingga keberanianku akhirnya tumbuh dan ketika suatu hari bekalku cukup, aku pun menelpon dan mengajaknya bertemu.

“Maaf, aku terlambat.”

Suaranya menyentakku, membuatku bergegas berdiri menyambutnya. Aku mengenali wajahnya, wajah perempuan yang penuh cinta yang serta-merta menyemikan kuncup-kuncup harapan di dalam dadaku.

Ia duduk

Aku duduk.

Ia mengulurkan tangannya dan menyentuhku lembut, senyum tak surut dari wajahnya. “Apa kabar?” suaranya hangat.

“Baik, baik. Kamu?”

“Tak bisa lebih baik.” Ia mengedarkan pandangan.
“Tempat ini indah sekali.”

Sambil menahan napas aku menunggu ia memuji senja sempurna yang kupesan untuknya. Tapi pujian
itu tidak muncul di bibirnya.
Atau mengintip di matanya yang mengilat senang. Ia bahkan seperti tidak
menyadari keberadaan senja yang telah menyihir tempat ini.

“Aku memesan senja ini khusus untukmu.”

“Oh ya?” sekali lagi ia mengedarkan pandang dan manggut-manggut.

“Senjamu. Senja kita…”

“Indah, indah…” kata-katanya tanpa makna.

Aku menatapnya. Apakah ia masih marah padaku? Apakah ia masih menyimpan kekecewaan itu dalam hatinya? “Aku… ada yang ingin kusampaikan padamu…”

Ia menatapku, senyum masih saja mewarnai wajahnya. “Aku juga.” Nadanya sehangat matahari barat yang kukenal.

“Kalau begitu, kamu dulu…”

“Aku jatuh cinta pada hujan,” bisiknya. “Hujan tebal yang luruh rapat hingga tidak menyisakan pandangan, yang membuatmu takut berlari menembusnya, takut di seberang sana tak ada apa-apa yang menantimu. Takut kamu tidak akan pernah berhasil mencapai tepiannya dan terperangkap di tengah
sengatan airnya yang menusuk kulit dan membutakan mata.”

Remember Me As A Time of Day✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang