"SIALAN!" Kyle memukul tembok kantin belakang sekolah yang sepi dengan keras membuat Retha reflek terlonjak kaget.
Bagi Retha ini merupakan pemandangan tak biasa melihat seorang laki-laki mengamuk di dekatnya, secara tidak langsung membuatnya gelisah dan takut.
Bahkan Papahnya yang sebagai seorang kepala keluarga di rumahnya, tidak pernah memarahinya ataupun berkata kasar kepada Retha. Yang ada Papahnya malah memeluknya sambil menasihati dengan pelan-pelan. Emang the best.
Apakah tangan Kyle baik-baik saja setelah memukul tembok dengan begitu kencang? Pasti sakit.
Anggap aja gak liat. Jelas batin Retha berusaha menenangkan rasa gelisah dan takut yang menghantuinya untuk sesaat.
"BIM!" Panggil Kyle dengan sorot mata tak bersahabat. "LU PASTI TAU ISABEL ADA DIMANA, IYA KAN?!"
Kyle kira Isabel tidak akan dengan mudah lepas dari cengkeramannya sebelum menjelaskan semuanya dan pemikiran Kyle salah.
Isabel dengan mudah meninggalkan semuanya tanpa memberitahu kemana dia pergi? Kenapa? Dan sejak kapan dirinya mempersiapkan rencana untuk keluar dari SMA Trijayanda?
Kata orang menangkap belut di sawah sangatlah sulit, namun yang benar-benar menyulitkan adalah menangkap seorang manusia licik, pandai berbohong, dan terencana. Auto nyanyi lagu I Surrender.
Bima menggelengkan kepalanya. "Temen-temen sekelasnya gak ada yang tau Isabel pindah sekolah kemana dan malam itu adalah malam terakhir dia di sekolah, sekaligus petunjuk buat kita."
Bima masih dengan jelas mengingat perkataan Isabel yang terakhir kalinya sebelum pergi entah kemana, rasanya telinganya selalu berdengung ketika mengingat ucapan yang keluar dari mulut Isabel, "Jagain Arthur dan bilang ke dia harus lebih hati-hati, karena ada beberapa orang yang sedang merencanakan sesuatu."
"Terus sekarang kita lanjut atau enggak?" Tanya Retha angkat suara.
"LANJUT!" Bentak Kyle.
"La-lanjut?" Beo Retha. "Terus rencana kita harus nyari Isabel ke setiap sekolah di kota ini?"
"Kita tetep lanjut, tapi bukan dengan saran rencana dari lu yang melelahkan." Sambung Bima. "Dan syaratnya kalian berdua beri gua waktu antara 2-3 minggu buat melakukan penyelidikan lagi."
Retha mengusap-usap dadanya, padahal yang dilakukan Retha hanya bertanya dan mencoba menebak rencana Bima selanjutnya bukan menyarankan atau memberi masukan tentang rencana ke depannya!
Ya, mana Retha tau kalo Bima udah punya rencana sendiri, emangnya dirinya Scarlett Johansson yang bisa membaca masa depan seseorang dengan menempelkan kedua jari telunjuknya di dahi orang lain.
"Kenapa harus nunggu antara 2-3 minggu buat melakukan penyelidikan lagi?" Entah apa yang ada di pikiran Bima hingga membuat Retha selalu ingin bertanya-tanya, kenapa pria di depannya ini tak pernah blak-blakan dalam mengemukakan rencananya? Bukankah itu mudah?
"Sekarang kita bakalan fokus ke pemantauan. Dan kenapa gua minta waktu antara 2-3 minggu, karena gua bakalan fokus buat sesuatu. Nanti juga lu tau."
"Jadi, gua sama Kyle bakalan ngelakuin pemantauan berdua?"
"Iya."
Mulut Retha seketika terbuka sempurna. Kaget. Kenapa dia dan Kyle harus melakukan pemantauan berdua? Bahkan ketika Retha membayangkan dirinya dan Kyle melakukan pemantauan berdua rasanya seperti akan terjadi film real life dari serial film kartun Tom & Jerry. Gak pernah akur.
"Kenapa?" Kyle menatap Retha dengan sebelah alis dinaikkan dan nada bicaranya menjadi ketus.
"Itu Tom & Jerry real—" Retha seketika membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya, Retha merutuki kebiasaannya yang sering keceplosan ketika terlalu berlebihan kaget.
Astaghfirullah, kenapa harus keceplosan coba? Ucap Batin Retha.
"HAH?!" Kyle meninggikan suaranya membuat Retha sadar.
"Gak usah lebay, biasa aja kali." Ujar Retha kembali seperti dirinya yang biasa ketika berbicara dengan Kyle. Di judes-judesin, walaupun tetap kalah telak sama dua cowok di depannya.
"Aneh."
"Biarin."
"Lu berdua gak keberatan kan, kalo gua nyerahin pemantauan ini ke kalian?" Bima melirik Kyle dan Retha, tidak ada yang mau angkat suara. Gengsian. "Demi Arthur dan Orly." Lanjut Bima dengan ucapan andalannya.
"Iya mau!" Jawab Kyle dan Retha serempak, detik selanjutnya mereka saling menatap, kemudian membuang muka.
"Satu lagi. Gua gak ada maksud menyatukan kalian berdua, jadi kalo kalian berdua menyatu, mungkin tulang rusuk lu udah ketemu kali, Ky." Ini merupakan pemandangan yang tak pernah Bima lihat, kenapa rasanya ingin sekali tertawa dengan keras menyaksikan Tom & Jerry di dunia nyata.
"Tulang rusuk gua masih lengkap dan gua gak mau menyatu sama orang kayak dia."
"Siapa juga yang mau. Ge'er amat. Gua juga gak mau ngasih tulang rusuk gua buat dia, apalagi mikirin menyatu sama orang kayak lu." Jelas Retha dengan muka jengkel yang ditujukan untuk Kyle.
"Lu berdua tuh harus akur, karena besok lu berdua bakalan jadi partner."
"Enak aja gua—" dengan sepersekian detik mulut Retha langsung dibungkam dengan sebelah tangan Kyle.
Lepasin! Berontak Retha di dalam batinnya seraya berusaha memukul-mukul tangan Kyle yang membungkam mulutnya, agar terlepas.
"Bim, lu balik duluan aja, gua ada urusan sebentar sama nih betina." Perintah Kyle mengusir Bima secara halus.
"Oke, lu kalo mau pulang jangan lupa bawa tulang rusuk." Bima melenggang pergi dari hadapan Kyle dan Retha yang berada di belakang kantin sekolah.
Setelah kepergian Bima, Kyle membuka bungkaman mulut Retha. "Tuh udah gua buka, mau ngomong apa?"
"Pengap!"
"Yang gua bungkam mulut lu doang dan hidung lu kagak gua bungkam. Emangnya lu napas pake mulut?"
"Tau akh! Langsung intinya aja, gua lagi pengen buru-buru pulang. Soalnya gua takut di terkam sama singa, nanti tulang rusuk gua yang berharga di ambil."
"Gua cuman mau bilang. Selama lu dan gua jadi partner, gua gak mau ada kata 'cinta', apalagi karena lu dan gua sering ketemu jadi menyebabkan timbulnya suatu ikatan spesial." Untuk masalah ini Kyle benar-benar serius. "Walaupun sifat lu, gua akui ngegemesin, tapi itu hanya berlaku untuk cowok di bawah rata-rata, sedangkan gua cowok di atas rata-rata."
Ngegemesin? Entah kenapa tiba-tiba jantung Retha berdegup kencang ketika Kyle memujinya. Oke, Retha, ingat! Harus judes sama orang kayak begini.
"Ge'er amat!" Ketus Retha sembari berkacak pinggang. "Dah gak ada lagi yang di bahas, kan? Kalo gak ada gua pulang."
Retha perlahan meninggalkan Kyle di belakang kantin sekolah dan Retha juga tidak lupa untuk mengucapkan kata 'bye' dengan nada datar dan wajah yang judes.
Kyle menatap punggung Retha yang segaris lurus meninggalkannya, tanpa sengaja sebuah kata terucap keluar begitu saja dari mulut seorang Kyle Reinaldo Kenan. "Gemesin."
Untung gak kedengaran sama orangnya.
Kalo menurut kalian part ini jelas atau gaje? Jangan lupa tulis komentar kalian.
Untuk kalian yang gak sabar dengan part selanjutnya, author cuman mau bilang mohon bersabar ini ujian😂
Karena Raja Kelas cuman bisa update antara 1-2x dalam seminggu, itu pun bisa update 2x dalam seminggu karena tergantung keadaan.
Salam FSR,
*****
About me?
Follow Instagram: basztian11.2
KAMU SEDANG MEMBACA
Raja Kelas
Teen FictionKisah cinta anti-mainstream antara selembar kertas putih polos dengan setetes darah biru dingin yang tidak sengaja saling bertemu. Pertemuan tersebut membawa mereka ke dalam takdir cinta. Hanya takdir yang bisa menyatukan Arthur dan Orly. Jangan per...
