Bersandarlah lebih lama lagi, agar aku mengerti. Mungkin kamu akan memberikan aku kehidupan yang lebih berwarna. Dan warna tersebut ada di dalam dirimu.
-Arthur-Orly menatap arloji berwana pinknya yang baru di belikan Mamahnya kemarin. Sudah 30 menit Orly menunggu kedatangan Mamahnya dan sudah ratusan murid pulang melewati gerbang sekolah SMA Trijayanda. Lalu, bagaimana dengan Orly? Orly hanya bisa menunggu di depan gerbang sekolah SMA Trijayanda, menunggu kedatangan Mamahnya.
Orly menengok ke kanan dan ke kiri, kedua tangannya memainkan ikatan tali ranselnya, dan kakinya terasa pegal. 30 menit menunggu berarti sudah 30 menit Orly menunggu dengan keadaan kedua kaki tegak lurus, menopang berat tubuhnya.
"Ikh, Mamah kemana sih? Kok, jemput Orly lama banget." Keluh Orly bermonolog. "Retha juga kenapa akhir-akhir ini sering ngilang melulu pas pulang sekolah?"
Jika ada Retha pasti Orly sudah pulang ke rumahnya dan bermain dengan Puspus, kelinci kesayangannya.
Orly sengaja menamai kelincinya seperti nama kucing, karena sama lucunya dengan kucing. Orly tidak ingin memelihara kucing karena takut dengan kuku kucing yang panjang seperti harimau, apalagi sama kucing garong. Ngeri.
Tapi yang pernah Orly dengar dari orang-orang, buaya darat katanya lebih menyeramkan dari apapun. Untung Orly tidak ada keinginan memelihara buaya darat. Buaya air saja sudah sangat mengerikan.
Entah kenapa tiba-tiba di dalam benak Orly muncul wajah Arthur. Detik selanjutnya, Orly memiliki ide cemerlang. Sebuah ide yang bisa membawanya pulang kerumahnya secara gratis tanpa di pungut biaya!
Tutorial pulang tanpa di pungut biaya ala Orly akan segera dimulai: (1) Orly harus ke perpustakaan bertemu Arthur, (2) Orly harus merengek meminta Arthur mengantarnya seperti waktu itu, dan (3) Kalo Arthur gak mau, balik lagi ke pernyataan nomor 2. Itulah tutorial singkat yang disusun Orly secara dadakan, semoga berhasil!
*****
Arthur mendongakkan kepalanya, sekilas. Arthur melihat seorang perempuan dengan rok putih-abu berjalan menghampirinya dengan tindak-tanduk seperti seorang anak kecil yang sedang ingin mengadu ke orangtuanya seraya memanggil namanya berkali-kali.
Perempuan di depannya duduk dengan wajah yang kusut sembari mengerucutkan bibirnya ketika Arthur menulikan indra pendengarannya untuk tidak mendengarkan semua perkataan yang keluar dari indera pengecap perempuan di depannya.
"Arthur!!" Seru Orly setengah teriak memanggil namanya.
Arthur menghentikan aktivitas rutinnya. Membaca. Matanya menatap dingin dan menusuk ke arah mata Orly. "Apa?" Tanya-nya singkat.
"Nah gitu dong! Bukannya dari tadi nanya kayak begitu, kan Orly jadi seneng." Ujar Orly seraya tersenyum manis karena rencananya berhasil membuat Arthur sedikit tertarik. "Pulang, yuk!" Ajak Orly to the point.
Arthur sudah menduganya, hanya perkataan yang tidak penting ketika menanggapi perempuan di depannya. Arthur menundukkan kepalanya, melanjutkan membaca kata yang ada di halaman buku tersebut.
Senyum di wajah Orly yang manis tanpa adanya gula langsung berubah masam ketika Arthur kembali menggubrisnya.
"Ikh, nyebelin! Padahal Orly pengen nebeng di mobil Arthur sampai rumah Orly." Orly mengamati Arthur. Tak ada respon. "Boleh, ya?" Tanya Orly dengan nada sumringah.
"Gak."
"Nyebelin! Nyebelin! Nyebelin! Mamah Orly belum ngejemput, siapa tau aja Mamah Orly lagi main di rumah Arthur."

KAMU SEDANG MEMBACA
Raja Kelas
Teen FictionKisah cinta anti-mainstream antara selembar kertas putih polos dengan setetes darah biru dingin yang tidak sengaja saling bertemu. Pertemuan tersebut membawa mereka ke dalam takdir cinta. Hanya takdir yang bisa menyatukan Arthur dan Orly. Jangan per...