21. Bunuh Diri

464 25 2
                                    


Retha dan Orly yang sedang berjalan mengelilingi Sekolah yang sepi saat seluruh murid SMA Trijayanda telah pulang ke rumah masing-masing.

Orly yang saat itu meminta Retha untuk mengajaknya berkeliling Sekolah sambil menjelajahi ruangan-ruangan di SMA Trijayanda.

"Orly, gak mau pulang?" Tanya Retha sambil memandangi Orly yang sedang melihat Laboratorium Kimia dari jendela.

"Enggak mau, soalnya Orly masih penasaran sama ruangan lainnya." Jawab Orly sambil menjinjitkan kakinya ke jendela Laboratorium Kimia.

"Emangnya Orly gak takut?"

Orly memandangi Retha sambil menggenggam kedua tali bahunya. "Enggak, soalnya ada Retha." Tambah Orly, "Retha, kan selalu ngelindungin Orly dan Retha juga baik sama Orly.

"Orly sekarang mau kemana?"

"Orly mau liat buku-buku sejarah yang ada di Perpustakaan terus pengen ke atap Sekolah." Ujar Orly.

"Bukannya Orly udah punya banyak buku sejarah?" Tanya Retha sambil mengingat-ingat lemari kaca yang berisi seluruh buku sejarah di kamar Orly.

"Iya, tapi Orly cuman penasaran aja."

"Oke, Retha anterin. Tapi, Retha mau nanya satu hal lagi. Kenapa Orly mau ke atap Sekolah?"

"Tuh, Orly pengen ngeliat itu dari atas loteng Sekolah." Orly menunjuk awan-awan yang menggumpal sambil melayang di langit biru menuju sore hari.

Retha yang paham dengan kemauan Orly langsung mengajaknya pergi ke Perpustakaan terlebih dahulu, sesuai dengan urutan permintaannya.

Orly dan Retha masuk ke dalam Perpustakaan yang berisi satu orang laki-laki sedang membaca buku di meja paling ujung.

"Retha, masa ada dia lagi." Rengek Orly sambil menunjuk Arthur yang sedang membaca.

"Udah gak apa-apa." Ucap Retha sambil menenangkan Orly yang sedang merengek di dalam Perpustakaan.

Retha yang tidak tinggal diam langsung mengajak Orly berkeliling mencari buku sejarah yang berada di rak buku Perpustakaan.

Satu-persatu Orly mencari buku sejarah yang letaknya berada paling ujung, namun seluruh buku yang berada di rak buku Sekolah telah Orly miliki dan baca sampai akhir halaman.

"Retha, masa buku sejarahnya dikit banget. Terus semua buku yang ada di rak ini udah pernah Orly baca." Kata Orly sambil mengambil buku sejarah dan menaruhnya kembali.

"Wajar aja, kan Orly selalu beli buku baru setiap hari Minggu dan Orly juga selalu baca buku sejarah. Kalau dirumah." Ujar Retha sambil ikut membantu mencari buku sejarah.

"Kalau gitu, Orly mau pergi ke atap Sekolah, tapi gak mau lewat situ. Soalnya, ada Arthur. Nanti Orly dimarahin sama Bima dan Kyle." Orly melangkah pergi melewati sela-sela rak buku, sementara itu Retha membuntuti langkah kaki Orly dari belakang.

Orly dan Retha berjalan keluar dari Perpustakaan yang hanya terdapat Arthur, sedangkan Arthur yang berada didalam Perpustakaan hanya fokus membaca buku dengan matanya yang kecoklatan.

Orly dan Retha berjalan menaiki tangga lantai 2, kemudian mereka menaiki satu tangga terakhir untuk menuju ke atap Sekolah yang berada di lantai 3.

Selama mereka melewati lantai 2 tidak ada satu orangpun yang mereka temui, yang mereka temui hanyalah pintu dan jendela yang sudah tertutup rapat.

Orly dan Retha menginjakkan kaki mereka di atap Sekolah yang luas, sesekali angin menghembuskan rambut mereka yang terurai lurus dan bergelombang.

Namun, tanpa sengaja mata Orly melihat seseorang wanita dengan rambut panjangnya sedang duduk di atas tembok penghalang sambil menaruh kedua lengannya di sisi

Raja KelasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang