Sesuai request dari salah satu pembaca, makannya malam ini aku update😇
Dan untung aja malam ini lagi moodnya update cerita Raja Kelas, yah karena janji ke diri sendiri juga😂
Selamat membaca :v
Retha melangkahkan kakinya ke belakang kantin sekolah, disana sudah ada Bima dan Kyle yang menunggunya.
Retha kira Bima dan Kyle tidak akan menunggunya di saat tetesan hujan yang sebentar lagi akan turun membasahi gedung sekolah SMA Trijayanda dan sekitarnya.
"Lama." Itulah kata pembuka yang di ucapkan Kyle sebagai ucapan sapaannya, memang gak ada hati.
"Biarin."
"Jadi, gimana penyelidikan lu selama seminggu?" Tanya Bima tanpa basa-basi.
"Gak ada tanda-tanda dari Sang Peneror, tapi surat di kolong meja Arthur setiap pagi tetap penuh dan itu hal yang lumrah."
"Kalau lu Ky?" Kini giliran Kyle yang di tanya Bima.
"Biasa aja, gak ada tuh yang aneh-aneh di kelas."
"Karena ada lu." Celetuk Retha
"Terus? Masalah bagi lu?"
"Kenapa harus gua permasalahin? Emang sikap lu kayak singa pada dasarnya juga."
Jika dilihat dari segi manapun memang sifat Kyle seperti singa, galak dan kejam. Bahkan, Retha sering mendengar gosip dari kalangan perempuan di SMA Trijayanda bahwa Kyle adalah penghalang terbesar mereka untuk menaklukkan Arthur.
"Kalau lu sendiri Bim?" Kyle mengalihkan topik pembicaraannya, mungkin ia sudah malas meladeni ucapan Retha.
"Gak ada yang aneh."
"Berarti semuanya sia-sia?"
"Yang namanya penyelidikan gak ada yang sia-sia, Ky." Dahi Bima terlihat bergelombang seolah-olah dirinya sedang menyimpulkan penyeledikan selama seminggu ini. "Menurut kesimpulan yang bisa gua ambil, Sang Peneror melakukan aksinya antara malam hari atau saat pagi buta dan gak memungkin juga kalau Sang Peneror lebih cerdas dari kita bertiga."
"Berarti kalau di perkecil lagi lingkupnya, Sang Peneror adalah orang yang penting di sekolah SMA Trijayanda." Jelas Kyle.
"Tapi, ada satu hal yang lu lupain. Orang yang bebas keluar-masuk sekolah di luar jam aktivitas sekolah adalah orang yang punya kunci gerbang sekolah, salah satunya Pak Wibowo." Ujar Retha menambahkan pernyataan Kyle.
"Sebenarnya gak cuman Pak Wibowo yang punya kunci gerbang sekolah, tapi Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Bendahara, dan Sekertaris Sekolah punya kunci gerbang sekolah." Tutur Bima. "Berarti dari kelima orang tersebut patut kita curigai dan selidiki."
"Lu yakin Bim pelakunya ada diantara mereka berlima? Masa orang tua yang udah mulai berumur bisa nulis surat begituan? Jadi geli gua kalau baca suratnya lagi."
"Siapa tau anak mereka yang nulis." Tukas Retha sembari menatap Kyle yang sibuk mengusap-usap tangannya untuk menghilangkan rasa kegeliannya.
"Tepat sekali!" Kejut Bima. "Yang gua curigain bukan mereka, melainkan anak dari mereka berlima."
Untuk orang tua yang mulai berumur tidak mungkin bagi mereka menulis surat yang melenceng dengan umur mereka. Namun, bukan hanya itu saja alasannya, melainkan tulisan yang digunakan pada surat tersebut tidak sama seperti tulisan sekitaran tahun 80-an.
Tulisan pada surat tersebut juga terkesan lebih ke arah zaman sekarang yang tidak menggunakan tegak bersambung, rapih, dan memiliki ciri khas yang menonjol.
Tulisan yang rapih pada umumnya hanya di miliki oleh kaum hawa dan untuk sebuah quote biasanya di peruntukan bagi kaum adam.
Pada zaman sekarang quote dari kaum hawa umumnya di gunakan untuk menyindir kaum adam ataupun menyadarkan kaum adam.
Lalu, bagaimana dengan quote dari kaum adam? Umumnya quote dari kaum adam hanya untuk menjelaskan keadaan mereka, dan selebihnya tidak ada maksud lain.
"Anak perempuan dari salah satu mereka berlima, maksud lu Bim?"
Bima menggangguk mengiyakan, pasalnya siapa lagi jika bukan perempuan yang menulis surat tersebut? Laki-laki? Tidak mungkin.
"Tapi, mana mungkin ada perempuan yang berani ke sekolah malam-malam? Gua aja gak berani."
"Lemah!" Ledek Kyle sembari memandang rendah Retha.
"Yang pasti mereka gak sendiri, tapi berkelompok dan diantara mereka pasti ada orang dalam yang ngasih tau letak meja Arthur."
Tidak mungkin bagi seorang perempuan berani memasuki gedung sekolah yang gelap di malam hari dan tidak mungkin juga ada perempuan dari luar SMA Trijayanda yang mengetahui letak meja Arthur, terkecuali ada sangkut-pautnya dengan orang dalam.
Arthur memang tidak hanya terkenal di dalam kandang, melainkan di luar kandang pun juga terkenal. Wajar saja, karena yang menyebar informasi tentang keberadaan Arthur adalah para kaum hawa SMA Trijayanda.
"Oke, gua punya rencana. Untuk malam Minggu gua sama Kyle bakalan ke sekolah buat melakukan penyelidikan, sedangkan untuk Retha, gua mau lu melakukan penyelidikan pas Minggu pagi." Rencana yang Bima lakukan sebenarnya ia lakukan dengan spontan, tanpa memikirkan resiko sebenarnya dari rencana tersebut.
"Kenapa gak Sabtu pagi?" Tanya Retha yang terkesan seperti meminta penawaran.
"Jawabannya simpel. Karena ekstrakulikuler."
"Gak ada pertanyaan lagi kan? Kalau gak ada, gua sama Bima mau balik duluan, hujannya juga udah semakin gede." Kyle mengajak Bima melenggang pergi meninggalkan Retha.
"BENTAR DULU!!!!" Hadang Retha.
"Apa lagi?!"
"Gua boleh minjam HP lu gak, Ky? Kalau gak mau berarti salah satu dari kalian harus nganterin gua pulang sampai rumah." Desak Retha dengan memikirkan pilihan yang sulit di tolak.
Kyle hanya bisa berdecak kesal dan dengan berat hati harus meminjamkan HP-nya. "Nih, cepetan, jangan lama-lama."
Retha mengambil ponsel dari tangan Kyle, kemudian mengetikkan nomor telepon Papahnya dan menyuruh Papahnya untuk menjemputnya di sekolah.
"Papah jangan lupa jemput Retha di sekolah."
"Iya nanti di jemput."
"Oke, Pah. Di tunggu jemputannya."
Retha memutuskan sambungan teleponnya, baru saja ingin memberikannya secara baik-baik, tiba-tiba Kyle mengambilnya dengan seenak jidat. Wajar yang punya.
"Terimakasih." Ketus Retha.
"Sama-sama." Sengit Kyle tak kalah ketus.
Bima dan Kyle, kemudian melangkahkan kakinya, di ikuti Retha yang berada cukup jauh di belakang Bima dan Kyle.
Sudah di bilang bukan? Bahwa seorang perempuan tak akan mampu mensejajarkan langkah kakinya dengan laki-laki. Hanya laki-laki yang mampu mengejar seorang perempuan.
Ngejar satu aja ribet, apalagi dua? Lebih buruknya lagi yang ngejarnya perempuan, ya makin capek.
Bagaimana menurut kalian untuk part ini?
Kira-kira kapan cerita Raja Kelas update lagi?
Secepatnya? Atau semaunya Author? Tentukan pilihannya dengan baik dan benar.
Salam FSR,
*****
About me?
Follow Instagram: basztian11.2
KAMU SEDANG MEMBACA
Raja Kelas
Fiksi RemajaKisah cinta anti-mainstream antara selembar kertas putih polos dengan setetes darah biru dingin yang tidak sengaja saling bertemu. Pertemuan tersebut membawa mereka ke dalam takdir cinta. Hanya takdir yang bisa menyatukan Arthur dan Orly. Jangan per...
