Ulyssa's POV
"Sejujurnya, aku tidak pernah ingin memisahkan kalian berdua, Diego. Aku juga menginginkan Alex untuk mendapat keluarga yang utuh seperti teman-temannya yang lain. Walau Alex adalah anak yang begitu pengertian, tapi bukan berarti dia juga tidak pernah iri saat melihat teman-teman bermain bersama ayah mereka."
"Terkadang dia selalu bertanya kepada diriku "Kapan Papa pulang?" "Kok Papa jauh banget kerjanya?" "Kalau Papa melakukan semua ini untuk membelikan Alex mainan, lebih baik Alex tak punya mainan daripada tidak punya Papa.". Hal itu yang akhirnya membuatku berpikir untuk menghubungimu dan mengatakan yang sebenarnya. Tapi sampai saat itupun, aku masih belum punya keberanian untuk jujur bahwa aku telah melahirkanmu seorang anak." jelasku.
"Dan pada saat kau kembali datang dan menhancurkan semua rencana yang sudah aku buat selama ini. Aku juga semakin takut apabila kau mengetahui tentang Alex, kau akan menolaknya karena anak ini adalah hasil hubungan haram kita. Aku tahu tentang reputasimu sebagai pengusaha, Diego. Dan dengan adanya kami berdua, itu akan merusak citra yang kau bangun selama ini. Aku tidak mau menjadi penyebab dirimu hancur."
"Jadi aku berusaha untuk menyembunyikannya darimu. Tapi tidak pernah memikirkan perasaan Alex yang selama ini sudah tumbuh tanpa sosok ayah. Aku lupa dengan dirinya yang selalu mengidam-idamkan kita kembali bersama. Dan aku tidak ingat, bahwa anak sekecil dia tidak mungkin bisa menerima cemoohan orang yang mengatakan dia anak haram ataupun hasil hubungan gelap. Aku terlalu egois memikirkan perasaanku dan dirimu. Sampai aku lupa aku hampir saja mengorbankan anakku dalam prosesnya." racauku.
"Kalau begitu kembalilah bersamaku, Sya. Ayo kita menjalin hubungan dari awal. Jika memang dulu hubungan kita sudah tidak bisa diperbaiki lagi, maka disini kita memulai semuanya dengan awalan yang baru. Kita sama-sama tutup lembaran lama itu dan kita tidak lagi perlu mengingatnya, Sya." ajaknya yang membuatku hanya bisa terdiam membisu karena bingung harus menjawab apa.
Di satu sisi aku ingin memberikan keluarga untuk Alex, tapi disatu sisi lainnya, hatiku masih belum sembuh untuk kembali disakiti oleh orang yang sama. Aku masih trauma dengan hubungan kita yang dulu yang berakhir dengan cukup menyedihkan. Dan aku belum bisa untuk jujur tentang alasan mengapa aku memutuskan untuk pergi darinya. Aku masih tak mampu untuk mendengar kenyataan bahwa aku dulu memang hanyalah mainan untuk dirinya. Jika mendengar dirinya mengatakan itu pada orang lain saja sudah mampu untuk membuatku menjadi semengenaskan ini, apalagi bila perkataan itu benar-benar dia ucapkan untuk diriku.
Bagaimana aku bisa menanggung rasa sakit itu? Rasa sakit seperti seseorang telah mematahkan 20 tulangmu secara serentak. Rasa sakit bisa kau rasakan secara fisik dan mental. Apakah nantinya aku masih bisa menatap wajah Diego dengan senyuman setelah mendengar pengakuan itu? Atau mungkin ingatan buruk itulah yang terus bermunculan tak berhenti saat dirinya berada didekatku.
"Aku tidak bisa, Diego. Aku telah berusaha untuk lepas dari masa lalu yang mengikat kita berdua tapi tanpa kusadari sampai sekarang, aku masih terjebak dalam masa lalu. Aku serasa tidak bisa menemukan jalan untuk keluar dari mimpi burukku itu." ungkapku.
"Bila kau tidak melakukan itu demi aku, maka lakukan itu demi Alex. Aku tidak bisa melihat anak sekecil itu harus rusak karena kesalahan kedua orangtuanya. Kau tahu sendiri bagaimana masyarakat memandang anak yang broken homeataupun anak dari hasil hubungan diluar nikah. Mereka langsung mencap anak kita sebagai anak yang tidak benar, Sya."
"Anak yang tidak memiliki didikan yang baik karena hanya memiliki 1 orang tua saja. Aku tidak apa-apa jika kau tidak ingin berpacaran ataupun menikah denganku. Aku tidak akan memaksamu untuk merubah keputusanmu, tapi kau juga harus bisa mengerti." lontarnya.
"Apa lagi yang aku mengerti, Diego? Aku tidak bisa langsung menikahimu hanya untuk Alex. Aku bukannya egois disini. Tapi bukankah Alex juga tidak akan bahagia bila dia mengetahui bahwa ibunya harus berkorban demi kebahagiaannya? Kita sudah berpisah, Diego. Itu sebuah fakta yang harus kau terima." tegasku.
"Walau memang itu kenyataannya, tapi sampai sekarang Alex belum tahu akan perpisahan kita, Sya. Dia masih menganggap kita adalah pasangan suami-istri. Itulah yang selama ini kau tanamkan pada dirinya. Dan kau tidak bisa serta-merta mengubah pandangan itu karena dirimu yang tidak lagi mau bersama denganku. Kau tidak mau status yang ingin kuberikan. I'm fine with that."
"Tapi kau juga tidak boleh egois dengan melarangku memberikan status yang legal untuk Alex, Sya. Kau tidak bisa memaksaku untuk bersikap seolah aku tidak pernah tahu mengenai keberadaan Alex. It's something that I cann't do, okay?" tegas Diego.
"Ada alasan kenapa aku memutuskan untuk pergi darimu. Dan alasan itu harusnya kau sendiri yang menyadarinya, bukan aku yang harus mengungkapkannya, Diego. Bila kau tidak pernah sadar akan kesalahanmu, itu sama artinya kau juga tidak akan pernah menunjukkan usaha untuk memperbaiki kesalahanmu dulu." ungkapku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound to Ex
Romance"Ditempat inilah aku menginginkan suatu permulaan hidup yang baru. Tanpa adanya masa lalu yang terus menghantuiku setiap malamnya. Namun sayangnya takdir menghendaki kita untuk kembali bersama. Disaat aku berusaha untuk pergi menghindar, aku malah d...
