"Jelaskan padaku sekarang apa yang sebenarnya terjadi tadi." tegasku saat kita sudah berada didalam mobil perjalanan pulang.
Sebenarnya ada alasan mengapa kami memilih hari ini sebagai saat yang tepat untuk membongkar segalanya. Karena hari ini Alex sedang tidak akan ada di rumah selama beberapa hari kedepan. Dia telah kuizinkan untuk mengikuti study tour yang mengharuskannya jauh dari rumah selama 4 hari 3 malam. Akupun jadinya tidak khawatir untuk meninggalkannya di rumah sendiri tanpa penjagaan siapapun.
Seperti yang kukatakan sebelumnya, setelah perusahaan Diego mengalami kerugian yang cukup besar bulan ini akibar rumor yang tidak mengenakan tentang dirinya, aku telah memotong pengeluaran kita dengan memecat seluruh pelayan dan bodyguard yang selama ini bekerja untuk Diego. Hanya tersisa beberapa bodyguard setia Diego yang kupertahankan. Meski mereka pastinya sudah terlatih untuk menjaga seseorang terlebih anak kecil seperti Alex, tapi tidak berarti aku tidak cemas meninggalkan Alex pada mereka.
Aku takut salah satu dari mereka akan menculik Alex demi kepentingan bisnis atau sebagainya, Mungkin karena peristiwa sebelumnya dimana Rebecca ternyata seseorang yang dikirimkan William untuk memata-matai perusahaan Diego, aku sepertinya menjadi susah untuk mempercayai orang-orang yang tidak begitu kukenal. Walau Diego sudah menjamin bahwa mereka tidak mungkin adalah mata-mata yang mungkin akan disuruh untuk melakukan itu tapi tetap saja itu tidak berhasil meredam kepanikanku saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk saat aku membiarkan bodyguard kepercayaan Diego menjaga Alex.
"Sabar, Sya. Baru sampai di mobil dan kau sudah mencercaku dengan permintaan itu. Berikan aku waktu untuk bernafas dan merayakan keberhasilan kita dulu, okay?" pungkas Diego.
"Tidak usah banyak alasan. Jelaskan atau tidak..." ancamku.
"Kalau tidak, kenapa? Kau tidak mau memberiku jatah? Atau tidak mau tidur denganku? Ancaman itu tidak akan mempan lagi untuk diriku, Sya. Kau tahu sendiri, selama kita bersama kau juga tidak memberiku jatah. Tidur denganmu saja aku harus meminta Alex untuk membantuku. Tapi itu juga tidak membuatmu bersikap romantis dengan diriku. Maka dari itu, aku rasa kau harus mengeluarkan senjatamu yang lain agar bisa mempersuasiku untuk memberitahumu." potong Diego santai.
"Jahat! Pacar sudah penasaran begini, masih terus dibuat penasaran. Aku-kan cuma ingin tahu bagaimana caramu merencanakan ini. Lagipula bukankah kita sudah berjanji tidak ada lagi rahasia diantara kita. Tapi sekarang kau malah merahasiakan sesuatu yang sangat penting dariku. Aku kecewa padamu karena kau sama sekali tidak percaya kalau aku bisa memegang rahasia. Kau pastinya merasa hatiku akan tergoyah dengan rasa bersalahku pada William dan menghancurkan rencanamu, kan?" rengekku berusaha bersikap seolah-olah aku benar-benar kecewa dan membuatnya merasa bersalah supaya dia mau memberitahuku.
"Tenang saja, Diego. Aku punya seribu cara untuk mendorongmu mengikuti kemauanku. Aku sudah mengenalmu cukup baik bahwa kau pastinya tidak suka kalau misalnya aku menangis atau kecewa pada dirimu. Itulah yang sekarang kupergunakan untuk memaksamu. Hehehe... Maafkan maksud jahatku ini, Diego. Tapi kau sendiri yang membuatku mau tak mau harus menggunakan cara ini. Oopps! Lebih tepatnya sorry not sorry." kataku dalam hati.
"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, Sya. Maaf kalau sikapku menyebabkan kau salah paham. Tapi ini semua terjadi diluar dugaanku. Kemarin Ji Min menelponku, dia mengatakan dia punya rencana yang lebih baik daripada rencana awal kita. Aku sebenarnya ingin menolak usulannya karena aku tidak ingin menyakiti hatimu. Toh yang merencanakan semuanya dari awal juga kamu dan kita-kan sudah setuju untuk mengikuti seluruh idemu." jelasnya.
"Tapi kau merasa ide Ji Min lebih bagus, maka dari itu kau memutuskan secara sepihak untuk menganti rencanaku dengan rencananya tanpa berdiskusi dulu dengan diriku?" tanyaku.
"Aku sebenarnya ingin langsung memberitahumu tentang hal ini kemarin tapi kau sudah tertidur tadi malam, Sya. Aku juga tidak ingin membangunkanmu hanya untuk membicarakan tentang masalah ini. Maka dari itu karena waktunya sudah kepepet, aku-pun akhirnya setuju untuk menggunakan rencananya untuk besok. Bukan karena ide yang lebih bagus atau apa, hanya saja kita tidak bisa terlalu mengandalkan pada satu orang saja, Sya."
"Aku tahu kau berusaha untuk membuatnya senatural mungkin sehingga William tidak sampai curiga bahwa semua ini memang rekayasa. Tapi aku tidak bisa mempertaruhkan keberhasilan kita hanya demi untuk menjaga hati pelaku. William saja tidak peduli dengan bagaimana kehidupanku nanti setelah usahaku bangkrut, Sya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan juga bagaimana caranya untuk merebutmu dariku. Sehingga aku-pun berpikir bahwa tidak ada gunanya memikirkan perasaan orang itu bila dirinya saja tidak." ungkap Diego.
"Aku mengerti posisimu, Diego. Kau hanya ingin semuanya berjalan sesuai rencananya kita. Tapi yang aku kesal-kan adalah biarpun kemarin kau tidak memberitahuku, harusnya tadi pagi kau bisa-kan menjelaskan hal itu pada diriku sehingga aku tidak merasa terlalu kaget dengan perubahan rencana yang tiba-tiba Aku tidak marah kalau kau merasa ideku tidak jauh lebih bagus dari usulan Ji Min jadinya kau memutuskan untuk menganti seluruh rencana kita. Hanya saja aku merasa kau seperti berusaha untuk menutup-nutupi hal itu dariku." ungkapku.
"Tadi pagi aku benar-benar lupa untuk memberitahumu, Sya. Aku minta maaf....." ucapnya.
"Just kidding." candaku sambil tertawa saat melihat raut wajah menyesal Diego.
Dia sungguh berpikir aku tersinggung dengan sikapnya tadi. Padahal aku-kan tidak begitu memusingkan mengenai hal ini dan hanya ingin menganggunya sedikit. Lagipula beberapa waktu ini, pembicaraan kita selalu saja mengenai hal-hal yang serius dan aku ingin mencairkan suasana diantara kita yang seakan menjauh karena masalah ini. Bukan menjauh sampai dirinya mengabaiku tapi sikap canda dan cerianya seolah menghilang begitu saja. Yang tersisa dalam dirinya hanyalah sikap serius dan professional yang dulunya jarang dia tunjukkan pada diriku saat kita berada dirumah.
Meski aku tidak begitu masalah dengan melihat sisi lain dari dirinya ini, namun tak bisa dipungkiri apabila ada sedikit kerinduan diriku melihat tingkahnya yang menggodaku dengan kemesumannya. Aku akui, memang ada sedikit rasa kesal dalam diriku saat mengetahui bahwa Diego tidak memberitahuku rencananya, tapi hal itu tidak membuatku sampai berpikir bahwa dirinya tidak percaya dengan diriku jadinya dia tidak memberitahuku karena dia takut akan membeberkan rencana kita. Sebab sebenarnya bila dia ada pemikiran seperti itu, maka sedari awal aku pastinya tidak akan dibiarkan ikut mengambil andil dalam diskusi mereka.
"Kau mengangguku?" tanya Diego sambil berbalik kearahku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound to Ex
Storie d'amore"Ditempat inilah aku menginginkan suatu permulaan hidup yang baru. Tanpa adanya masa lalu yang terus menghantuiku setiap malamnya. Namun sayangnya takdir menghendaki kita untuk kembali bersama. Disaat aku berusaha untuk pergi menghindar, aku malah d...
