Diego's POV
"Kenapa kau tiba-tiba mempertanyakan itu, Sya?" tanyaku bingung dengan pertanyaan Diego barusan.
"Aku tahu, Diego. Kau seperti ini karena diriku, kan? Kau kecelakaan saat berusaha untuk mencariku dan kau menjadi lumpuh disebabkan karena kecelakaan yang hampir merenggut nyawamu. Disaat kau terbaring koma, aku malah asyik dengan duniaku sendiri dan tidak berada disampingmu untuk menjaga dan merawatmu. Bahkan aku juga tahu, kau sampai tidak dianggap anak oleh kedua orangtuamu karena kau tidak mau untuk mengkhianatiku dengan menikahi wanita lain." jawab Ulyssa yang langsung membuatku tersentak kaget.
"Siapa yang cerita tentang hal ini pada dirimu, Sya?" tanyaku.
"Bukankah itu tidak penting siapa yang memberitahuku, Diego? Yang terpenting sekarang aku ingin kau bisa kembali berjalan, Diego." jawabnya.
"Apa kau malu untuk bersama denganku yang lumpuh ini, Sya?" balasku curiga.
"Kau tahu, Diego. Aku lebih senang bila kau tidak bisa berjalan lagi selamanya. Karena dengan begitu, kau akan selalu dependent on me. Aku pastinya merasa lebih dibutuhkan olehmu sekarang daripada kau tidak lagi lumpuh. Tapi masalahnya bukan itu, Diego. Aku merasa bersalah saat melihat kondisimu sekarang, okay? Aku merasa seperti akulah yang membuat kau akhirnya jadi seperti ini. Rasa bersalah itu terus mengerogoti tubuhku layaknya penyakit, Diego. Aku mencintaimu hingga membuatku ingin menjadi penyebab keberhasilanmu, bukan hanya keterpurukanmu saja." ungkapku yang langsung membuatku tersenyum.
"Sayang, kau bukanlah penyebab kesengsaraanku. Ingat itu! Kau tahu kenapa aku bisa berhasil membangun perusahaan ini? Semua ini bisa aku dapatkan karena kau, Sya. Kaulah motivasiku untuk terus bertahan. Disaat kerugian melanda hidupku, satu hal yang membuatku bangkit lagi, dan itu adalah kau, Sayang. Membahagiakanmu adalah alasan kenapa perusahaan ini bisa berada ditahap ini. Jadi jangan merasa bahwa kau hanya membawa penderitaan untukku, Sya. Karena menurutku, kau tidak seperti itu." ungkapku.
"Kakiku seperti ini sudah jadi jalan Tuhan untuk diriku, sayang. Jangan merasa bersalah karena kecelakaan menghampiriku disaat aku mencarimu. Karena semua ini adalah kebetulan yang sudah direncanakan untuk jalan yang lebih baik, Sya. Bila aku tidak mengalami kecelakaan itu, mungkin sampai sekarang aku tidak bisa bertemu dengan dirimu. Aku bahagia sekarang. Aku tidak butuh kaki, aku cukup butuh kamu disampingku. Kau bisa jadi kakiku untuk berjalan, Sya. Jadi aku rasa aku tidak perlu untuk bisa berjalan. Toh kamu juga menerimaku apa adanya."
"Aku menerimamu dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kau punya, Diego. Tapi itu bukan berarti, aku tidak akan mendorongmu untuk berubah menjadi lebih baik. Kau masih bisa berjalan, Diego. Kau hanya perlu mempercayai hal itu. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Begitupun dengan kakimu. Walau kemungkinannya hanya kecil, namun tidak ada salahnya kita mencoba, Diego. Aku ingin kau bisa kembali seperti dulu lagi. Diego yang tidak pernah merendahkan dirinya."
"Seseorang yang cukup percaya diri bahwa dia itu bisa melakukan apapun. Aku ingin orang itu lagi ada ditengah-tengah diriku dan teman-temanmu, Diego. Kau mungkin takut untuk melalui semua ini sendiri, tapi kau harus ingat. Kau tidak lagi sendiri. Ada aku dan Alex yang siap membantumu. Aku akan menjadi penopangmu disaat kau terjatuh. Aku akan memberikan bahuku untuk menjadi sandaranmu saat kau sedih, Diego. Aku ingin berada disetiap momen kebangkitanmu. Biarkan aku melakukan itu, Diego. Biarkan aku akan membantumu, hmm?" ajaknya yang langsung membuatku tersenyum bahagia.
"Baiklah, jika itu kemauanmu. Aku tidak bisa menolak lagi jika kau sudah kekeh begini, Sya. Aku akan berusaha keras untuk bisa berjalan lagi, tapi aku tak ingin terlalu berharap. Karena aku tahu Sya kemungkinanku untuk bisa berjalan lagi itu sudah hampir mendekati 0%. Aku tak ingin berharap untuk sesuatu yang tak pasti. Aku takut untuk dikecewakan lagi, Sya." ungkapku sedih.
"It's okay, Diego. Aku mengerti. Aku sudah cukup senang kau ingin mencobanya demi diriku. Aku yakin kau pasti bisa berjalan lagi. Dan setelah itu, kita bisa berjalan sama-sama ke pantai bersama dengan Alex, menikmati sunset berdua. Atau kita bisa pergi ke Maldives untuk berekreasi bersama. Kurasa itu juga bukan ide yang buruk." lontar Ulyssa yang langsung tersenyum bahagia saat membayangkan nanti momen kita berdua setelah aku bisa berjalan lagi. Hal itu lantas sedikit membuat semangatku kembali berkobar. Serasa aku menemukan tujuanku lagi untuk bisa berjalan.
"Apapun yang kau suka, Sya." kataku sambil tersenyum pula.
"Karena aku sudah menuruti kemauanmu, maka sekarang kau juga harus memenuhi keinginanku juga, kan?" tanyaku sambil menaikkan alisku.
"Kalau apa yang kau inginkan bisa aku lakukan, maka aku dengan senang hati melakukannya untuk dirimu, Diego." jawabnya tanpa bimbang sama sekali yang membuat hatiku langsung berdegup kencang karena jawaban Ulyssa benar-benar menunjukkan bahwa dia telah mempercayaiku sepenuhnya.
"Maukah kau berkencan dengan diriku nanti?" tawarku.
"Tentu saja, aku mau untuk berkencan dengan dirimu, Diego. " jawabnya tersipu malu sambil mencium pipiku dengan rasa gugup yang begitu terlihat dari raut wajahnya.
"So cute!" gumamku sambil tersenyum saat melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound to Ex
Roman d'amour"Ditempat inilah aku menginginkan suatu permulaan hidup yang baru. Tanpa adanya masa lalu yang terus menghantuiku setiap malamnya. Namun sayangnya takdir menghendaki kita untuk kembali bersama. Disaat aku berusaha untuk pergi menghindar, aku malah d...
