Suara dentuman music yang sangat keras terdengar hingga mengganggu rungunya, lampu warna-warni yang berkelip hingga membuat netra Hyerin terasa sakit saat melihatnya, orang-orang yang sibuk menari tak tentu arah di lantai dansa dengan sedikit kesadaran yang mereka miliki, juga bau alkohol dari seluruh isi ruangan yang sangat menyengat di indera penciumannya. Hyerin tersentak setelah menyadari dimana saat ini ia berada.
Rasanya Hyerin ingin segera berlari, melarikan diri dari Seokjin. Entah hal apa yang ada di dalam pikiran juga apa yang akan dilakukan Seokjin padanya, hingga membawanya ke tempat terkutuk seperti ini. Apa mungkin Seokjin akan menjualnya pada seorang mucikari dan memberikan tubuh yang sangat amat ia jaga itu pada pria hidung belang yang beberapa kali tertangkap penglihatannya tengah melakukan hal di luar akal sehat manusia pada umumnya dengan beberapa gadis, ah bukan! Tentu mereka bukan gadis lagi kan?
"Oppa!! Lepaskan AKU!! Apa yang ingin kau lakukan? Apa kau ingin menjual tubuhku?" tanya Hyerin dengan suara dan juga tubuh yang bergetar karena menahan rasa sesak di dada juga cairan bening yang sudah siap mengalir kapan pun ia mau dari pelupuk matanya.
Jujur saat ini rasa takut yang luar biasa menghampiri Hyerin, mengingat beberapa kejadian lalu, segala perlakuan kasar yang Seokjin berikan padanya. Jangan salahkan pikiran buruk yang terus menyerang pikiran Hyerin saat ini, karena bukan tidak mungkin jika saat ini Seokjin benar-benar nekat menjualnya pada seseorang hingga membuatnya kehilangan sesuatu yang sangat berharga dan selalu Hyerin jaga.
"Ikuti perintahku! Maka aku tidak akan berbuat kasar padamu. Mengerti?!!"
"Perintah apa!! Oppa sadarlah!!! Ku mohon!!!"Dan akhirnya pertahanan Hyerin pun runtuh seketika bersamaan dengan cairan bening yang meluruh dari kedua pelupuk matanya, bahkan saat ini tubuh Hyerin telah menyentuh dinginnya lantai ruangan sambil memeluk erat kaki Seokjin. Memohon agar Seokjin bisa mengurungkan niat buruk yang sedari tadi menggerayangi pikiran Hyerin.
"Oppa... ku mohon.. jangan lakukan ini padaku." Tubuh Hyerin saat ini terasa benar-benar sangat lemah hingga tak bisa ia gerakkan selain memeluk kaki Seokjin sambil terus memohon. Sentuhan kedua tangan di bahunya membuat Hyerin kembali mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Hyerin menatap sendu kedua manik Seokjin dengan sorotan mata yang terlihat agak kabur karena tertutup sepenuhnya oleh air mata.
"Bangunlah Hyerin! "
Hyerin cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Seokjin. Dekapan ini, dekapan hangat yang selama ini sangat Hyerin rindukan. Tangis Hyerin semakin menjadi ketika Seokjin semakin mendekap begitu erat tubuhnya.
"Hyerin-ah. Berhentilah menangis!" ujar Seokjin lagi, kali ini Seokjin melepas dekapannya pada Hyerin lalu tangannya beranjak menyentuh wajah cantik Adik perempuannya yang sudah basah karena air mata, ibu jarinya bergerak menghapus jejak air mata Hyerin yang masih saja terus mengalir dari kedua manik indah itu.
"Oppa... ku mohon,"
"Hyerin-ah, dengar! Aku ini Kakakmu, Aku tak akan mungkin melakukan hal di luar batasanku. Aku tidak akan menjerumuskan Adikku sendiri. Saat ini, aku hanya butuh bantuanmu."
"Apa sebenarnya yang Oppa inginkan dariku? Bantuan apa yang Oppa maksud?"
"Aku hanya ingin kau bekerja di tempat ini Hyerin. Bukan sebagai pemuas nafsu pria hidung belang yang ada di sini karena sampai kapan pun aku tak akan pernah melakukannya, tapi sebagai pelayan di sini sama seperti pekerjaan yang sering kau lakukan."
Hyerin tersentak mendengar perkataan Seokjin. "Tapi Oppa, kenapa harus di tempat seperti ini? Bahkan aku sudah punya pekerjaan. Bagaimana dengan pekerjaanku itu? Aku tidak bisa meninggalkannya, aku pun tidak mau bekerja di tempat ini, Oppa. "
KAMU SEDANG MEMBACA
HEILER
FanfictionSebaik dan sekeras apapun usaha untuk menutup sebuah luka, pasti akan terlihat juga. Aksara dari labium mengalun bahwa semuanya baik-baik saja, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Tak ada yang tau seberapa dalam luka yang telah bersemayam dan tak a...
