Chapter 7

1.3K 221 263
                                        


Akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka Hyerin terpaksa mengiyakan permintaan Seokjin untuk bekerja di tempat itu setelah Seokjin berkali-kali memohon padanya untuk mengerti segala situasinya di sertai ancaman khas dari seorang Seokjin yang mengatakan tak segan untuk melukai Sang Ayah. Sangat egois bukan? ketika seseorang ingin di mengerti tapi tidak mencoba untuk mengerti.

Tak ada yang bisa Hyerin lakukan selain menurutinya, karena ancaman yang merupakan salah satu kelemahan Hyerin telah keluar dari ranum tebal milik Seokjin dan Hyerin sangat mengetahui bagaimana Seokjin, yang tak pernah bermain-main dengan segala ucapan yang keluar dari labium itu. Bahkan setelah Hyerin menuruti permintaannya, Seokjin langsung meninggalkan Hyerin sendirian di tempat itu. Benar-benar egois bukan?

Setelah berjuang untuk menahan bau alkohol serta asap rokok yang bercampur menjadi satu, yang sangat menyengat di indera penciumannya itu. Akhirnya Hyerin selesai mengakhiri pekerjaannya hari ini, kemudian mengganti kembali pakaiannya seperti semula. Dengan langkah cepat Hyerin berusaha keluar dari kerumunan orang yang tengah asik dengan setengah kesadarannya itu.

Hyerin semakin mempererat cardigan yang dikenakannya, dan berusaha sekeras mungkin untuk menutupi bagian depan tubuhnya dengan tas selempangnya. Langkahnya pun semakin ia percepat bahkan kalau Hyerin bisa melakukan teleportasi, ia akan melakukan hal itu sekarang. Birai Hyerin menyunggingkan sedikit senyuman saat berhasil menemukan jalan keluar, dan semakin menambah kecepatan langkahnya. Hingga tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan berhasil membuatnya tersungkur tepat di depan pintu keluar tempat itu.

"Hey! Apa kau tak punya mata?!"

Suara itu, suara yang cukup familiar di rungu Hyerin. Hyerin seperti merasa pernah mendengar suara baritone itu di suatu tempat, tapi entah dimana Hyerin lupa. Setelah membersihkan celananya yang sedikit kotor, Hyerin pun mengangkat kepalanya hingga netranya bertemu dengan manik seorang yang ternyata sedikit tak asing baginya.

"Yak! Kau?!!"

Hyerin mencoba untuk mengingat orang yang sepertinya mengenalnya itu. "Aku seperti pernah melihatmu, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Hyerin pada Pria yang kini tengah berdiri dengan angkuh di hadapannya. Dan jangan lupakan tatapan mematikan dari kedua manik pria itu, seperti ingin menelan Hyerin hidup-hidup. Membuat Hyerin sedikit bergidik ngeri karena ulahnya.

"Ah, jadi kau Jalang di sini?"

Tanpa pikir panjang satu tamparan keras berhasil dilayangkan oleh tangan mungil Hyerin dan berhasil mendarat di wajah pria yang dengan santainya berkata bahwa ia adalah seorang Jalang juga dengan tatapan yang berubah seakan memandang sangat rendah dirinya. Gadis mana yang terima jika dirinya dianggap sebagai seorang Jalang, oleh orang yang bahkan tak dikenalnya sama sekali.

"Tuan Taehyung, anda tak apa?" tanya seorang bodyguard berbadan besar yang datang menghampiri setelah melihat sesuatu yang tengah terjadi di antara mereka. Ya, pria itu adalah Ryu Taehyung.

"Beraninya kau?!!" tangan kekar Taehyung pun bersiap untuk melayangkan satu tamparan di wajah gadis yang lebih pendek darinya itu, bagaimana bisa seseorang berani menjatuhkan harga dirinya dengan memberikan satu tamparan di wajahnya yang sangat luar biasa berharga itu.

Melihat tangan kekar itu bersiap untuk mendaratkan satu tamparan di wajahnya, dengan seluruh kekuatan serta keberanian yang Hyerin punya. Tangan mungilnya itu berhasil menahan tangan kekar seorang pria yang dipanggil Taehyung itu.

"Kau tidak bisa seenaknya merendahkan orang lain, Tuan. Apalagi dengan menyebutnya seorang Jalang! Tanpa mengenal siapa ia sebenarnya!" Setelah berhasil mengatakan kalimat itu, Hyerin pun melangkah meninggalkan Taehyung yang sempat menatap tajam kedua maniknya dengan tatapan pembunuh sebelum akhirnya Hyerin benar-benar pergi dari hadapannya.

HEILERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang