Untuk malam ini, penempatan makan malam keluarga diadakan di rumah Erika, tepatnya di kediaman milik Abas juga Fani. Entah apa tujuannya, tetapi Erika pun tidak tahu apa-apa. Padahal ia dan Bian baru saja berniat untuk tidak hadir pada makan malam berkala yang selalu dilakukan setiap bulan itu. Abas seakan tahu saja Erika merencanakan untuk tidak hadir sampai mengubah tempat.
Dan lagi yang membuat beda hal itu adalah, Abas memaksa Rachel untuk turut bergabung. Meski sudah berkali-kali menolak, atas bantuan dorongan Fani juga Sadewa, akhirnya Rachel mengalah. Bahkan lebih baiknya lagi, Sadewa mengatakan Rachel tidak masalah jika harus izin kerja malam ini setelah bekerja kemarin malam.
"Gue sih jujur males banget turun!" Erika bersuara ketus dengan tangannya yang masih sibuk memoleskan bedak pada wajah mulusnya.
"Harusnya gue yang dendam loh! Kok jadi lo yang dendam?" Rachel terkekeh pelan. Ia masih sibuk mengeringkan rambutnya sebelum mengenakan dress selutut hasil pinjaman Erika seperti biasa.
"Ya bagus dong! Seharusnya lo bangga punya sahabat yang lebih mentingin hidup lo--"
"Kan gue juga gitu," sela Rachel. "Lo lupa gue pertama kali keseleo gara-gara siapa?" tanyanya yang jelas bermaksud menyindir itu.
Erika berdesis pelan. "Kenapa kita gak bisa mentingin diri kita masing-masing aja sih!? Kenapa malah harus mentingin satu sama lain?" pikirnya.
"Iya juga." Rachel seketika sadar. "Tapi mungkin karena kita udah biasa mentingin yang lain kali ya? Jadi kalau mentingin diri sendiri tuh..., Ya aneh aja," susulnya.
Erika mengangguk menyetujui. "Lo mau make up sendiri apa mau sama gue?"
"Sendiri aja. Kalau sama lo bisa berubah jadi badut ulang tahun gue!" cibir Rachel terang-terangan.
"Gak aka—"
"Udahlah! Gue udah tau kebiasaan lo yang sering jadiin gue kelinci percobaan make up lo!" desis Rachel yakin. Ia kemudian mengambil pelurus rambut dan mulai mengubah model rambutnya itu. Kata Erika, ini hanya makan malam keluarga biasa. Tetapi entah mengapa ia sampai dipaksa untuk mengubah gaya penampilan dan berdandan layaknya akan pergi ke kelab malam.
"Kalau makan malam keluarga ngomongin apa aja, Er?"
"Udah, tenang aja! Kalau lo ditanya, gue yang jawab! Pokoknya kita boong sama-sama!"
"Tapi Bang Anta sama Raja pasti ikut alur aja 'kan?" Rachel was-was.
Erika mengangguk. "Bang Anta pasti anaknya mendukung keadaan. Kalau Raja, pasti bakal diem aja kok!"
Untuk kali ini, Rachel yakin saja dengan setiap ucapan Erika. Lagipula mana mungkin Erika berbohong padanya bukan? Kalau sampai nanti yang diucapkan Erika tidak terjadi, berarti Erika salah perkiraan, bukan berbohong.
~~~~
Langkah Bian mulai pasti setelah turun dari mobil Anta. Ia sudah membicarkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di meja makan nanti bersama Abangnya itu. Mulai dari pertanyaan tentang Rachel atau bahkan jika Raja mengajak ribut di meja makan seperti biasa.
Untungnya, Bian memiliki Abang yang cukup bisa diandalkan. Karena kalau tidak, mungkin ia akan kembali dibuat pusing dengan Anta setelah ia dibuat pusing dengan Raja.
"Karina ikut?"
Suara tenang Anta yang seketika menghentikan langkahnya itu membuatnya ikut memperhatikan arah pandang Anta. Ia pikir Anta hanya bertanya. Tetapi melihat Karina yang hadir dan baru saja turun dari mobil Raja, ia baru sadar, itu bukan pertanyaan.
"Si gila emang!" desisnya jengkel.
"Hai Bi! Hai Bang Anta!"
Sapaan lembut Karina yang disusul dengan kemunculan Raja dari sisi pengemudi membuat tatapan ramah Bian sama sekali tidak terlihat di wajahnya. Kalau begini, Anta memilih bersifat netral seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sinful (Tamat)
Fiksi Remaja"Seharusnya gue sadar, suka sama lo itu cuma nambah luka dalam diri gue." Kalimat yang keluar dari bibir Rachel itu adalah kesimpulan akan kehidupannya yang tergila-gila akan sosok Raja Pradipta. Sosok dingin tak tersentuh yang ternyata membawanya...
