54. Luka yang Semakin Dalam

6K 242 0
                                        

"Makan sedikit dulu, Chel...,"

Gelengan pasti seorang Rachel berhasil membuat Bian kembali menghela napasnya. Ia sudah meninggalkan nampan berisi makanan di nakas kamar Rachel sejak pukul enam sore, dengan harapan Rachel menyentuhnya barang sedikit saja. Tetapi nyatanya, di saat ia kembali setelah memberi ruang sendiri untuk Rachel selama satu jam, makanan itu utuh. Bahkan tidak ada sedikit bagian saja yang menunjukkan sudah tersentuh.

"Mau ke rumah duka lagi, Bian...," Rachel bersungut pelan. Kedua matanya sudah terbuka sejak dua jam lalu, dan selama itu juga yang ia pikirkan hanyalah rumah duka—rumah duka—dan rumah duka lagi.

Bian mengangguk pelan. "Boleh, tapi Bang Rungga nyuruh lo makan dulu baru boleh ke sana."

Rachel kembali mengerucutkan bibirnya. Napasnya sudah jauh lebih tenang sejak ia bangun dari tidur yang bahkan tidak ingin ia lakukan itu. Tetapi jangan harap pikirannya bisa setenang napasnya. Tidak mungkin sama sekali.

"Ada yang mau ketemu lo juga di bawah...," susul Bian pelan.

Rachel mengerutkan keningnya bingung. "Siapa?"

Bian menggeleng. "Kata Raja, temen Bokap lo," balasnya pelan.

Seakan kembali menerka-nerka siapa sosok itu, Rachel memainkan kembali jemarinya di atas balutan selimut putihnya itu. Perlahan, ada satu sosok yang mulai muncul di otaknya itu.

"Tante-tante?" tanyanya yang kemudian dibalas anggukan oleh Bian.

Pelan, Rachel menghela napasnya. Untuk apa sosok itu hadir di saat-saat seperti ini?

"Suruh naik aja. Tapi jangan bawa Raja atau Erika. Lo juga di bawah aja," susulnya kemudian.

"Emang dia siapa?" tanya Bian penasaran.

Rachel menarik napasnya pelan. "Selingkuhan Bokap," lanjutnya yang berhasil membuat Bian kembali terdiam beberapa saat.

"Gue suruh pulang aja apa?" Bian khawatir.

"Gak usah," tolaknya. "Suruh naik aja," ulangnya.

Mesti ragu, pada akhirnya Bian mengangguk menyetujui ucapan Rachel. Ia kemudian bangkit dari posisinya, berniat melakukan hal yang Rachel minta itu.

"Bi...," Rachel kembali bersuara pelan. "Gue gak mau ketemu Raja dulu," susul Rachel yang berhasil membuat ia mengangguk pelan. Sepertinya rasa sakit Rachel kemarin hari masih membekas juga sampai saat ini.

"Gue panggil sebentar ya," pamitnya sebelum benar-benar beranjak dari kamar cewek itu.

Ah, sekarang bagaimana caranya ia harus mengusir seorang Raja?

Di tempatnya lagi, Rachel meraih gelas berisi air mineral yang Bian berikan sejak beberapa jam lalu di atas nakasnya itu. Ia meneguknya pelan sebelum kembali menaruhnya. Tatapannya kembali tertanam pada piring berisi nasi putih juga sop jagung yang masih tersedia di atas nakasnya. Tidak. Ia tidak lapar. Sama sekali tidak.

Tangannya kemudian beralih pada gawainya yang berada di sisi kiri tempat tidurnya itu. Iya tersenyum tipis. Bahkan Bian juga memperhatikan sesuatu hal kecil seperti ini. Bian seakan tahu semua kebiasaannya, sampai cowok itu juga mengeluarkan gawainya dari tas selempangnya yang entah berada di mana saat ini.

Napasnya kembali melenguh pelan kala layar gawainya itu secara jelas menunjukkan berbagai macam pesan di sana. Tidak, matanya tidak sepenuhnya memperhatikan semua itu. Melainkan pada nama Raja Pradipta yang sudah memberikan banyak pesan di sana.

Raja Pradipta
Dmn, Hel?
Sorry gue gak bisa nemenin lo td.
Gue otw Jakarta.
Hel, dmn?
Gue otw rumah lo ya.

Sinful (Tamat)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang