35. Terluka.

14.3K 637 123
                                        

Hello everyone I'm back again👋👋
Sorry ya guys aku uploadnya agak telat soalnya tugas aku lagi numpuk😅

Budayakan vote sebelum membaca!
Typo bertebaran!

Happy Reading

*

*

*

_________________________________

Al berjalan keluar dari toilet, ia berlari kecil untuk menghampiri ziya seraya membawa bekal yang diberikan ziya tadi.

Ditengah perjalanan al mendengar sebuah teriakan, membuat orang disekitar menoleh ke asal suara termasuk dirinya.

Disebrang sana ia melihat chandra, hafizh, dan juga rio dengan wajah paniknya seraya menunjuk kesesuatu arah. Al melihat ke arah tunjukan tersebut.

Ia membulatkan matanya saat melihat sebuah pot berukuran besar akan terjatuh mengenai kepala ziya.

Al melempar bekal yang ia genggam kesembarang arah. Ia langsung berlari ke arah ziya dengan sangat cepat.

Al menarik lengan ziya dan langsung merengkuhnya. Ia sedikit membungkukan badannya dan menjadikan punggungnya sebagai pelindung untuk mereka berdua.

Brakk!

Ziya menutup kedua matanya rapat-rapat, ia masih syok dengan kejadian barusan. kejadian tersebut membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat dan membuat seluruh tubuhnya melemas.

Ziya membuka kedua matanya, ia mendongkak untuk melihat siapa yang telah menyelamatkannya.

Ia menatap dengan lekat kedua mata al yang berwarna hitam pekat tersebut. Ziya dapat melihat sebuah kepanikan didalam wajahnya.

Al melepas pelukannya kemudian ia memegang kedua bahu ziya.
"Kamu gapapa kan?" Tanya al khawatir. Ziya menganggukan kepalanya kemudian memeluk al dengan erat.

"Aww!" Rintih al pelan.

Ziya menyeringit heran dan melepas pelukan tersebut.
"Kakak kenapa?"

"Gapapa."

Tiba-tiba hafizh, chandra, dan rio datang ke arahnya. Karena geram hafizh langsung menoyor kepala al dengan kencang.
"Gapapa pala lo!" Cibir hafizh.

"Kita semua emang telat ngelindungin ziya. Tapi lo harus hati-hati juga dong! Liat tuh punggung lo berdarah." Sambung chandra.

Mendengar hal tersebut ziya langsung memastikannya. Ternyata benar! Al terluka dibagian punggung, mungkin karena terkena pot tadi.

Pantas saja saat ziya memeluknya al merintih kesakitan. Mungkin karena secara tidak sebfaja tangan ziya menyentuh luka tersebut.

"Kakak kenapa harus bohong sih!" Kesal ziya.

Al mengusap-usap kepala ziya dengan penuh kasih sayang.
"Aku gamau buat kamu khawatir. Lagipula ini cuma luka kecil bagi aku. Aku kan kuat!"

Ziya memutar matanya malas kemudian ia menarik lengan al dan membawanya ke uks untuk mengobati lukanya.

Chandra, hafizh, dan rio saling melihat satu sama lain, dari tatapan tersebut seolah-olah mereka berkata,
'Gue bukan bayangan. Tapi.. Rasa terkucilkan apa ini?'

ALDRIC [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang