"Pak, saya di depan ruangan bapak
Bapak dimna?"
"Di kelas"
"Pak, saya sekarang sudah di kelas
Tapi bapak ngga ada."
"Saya sudah di ruangan saya."
"Bapak dimana sih?
Saya sekarang di depan ruangan bapak, tapi bapak nggak ada, saya capek lo pak dari t...
Setelah membantu mama memasak Jeje mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan, jika dia meminta tolong kepada Pak Bayu itu sangat mustahil karna Pak Bayu telah memiliki pacar, Jeje hanya takut nanti timbulnya kesalah fahaman lalu jika Jeje jujur tentang yang sebebarnya mama pasti akan marah padanya.
Jeje berjalan ke arah ruang keluarga sambil berfikir dan di sana Jeje melihat sang papa sedang menonton televisi.
"Je, je, je," ucap Bagas.
"Apa pa?" ucap Jeje.
"Tadi papa liat ibu-ibu kecopetan di depan," ucap Bagas.
"Kok nggak papa bantuin?" ucap Jeje.
"Papa nggak bisa bantuin," ucap Bagas.
"Lah kok Nggak bisa?, emngnya di depan mana?" tanya Jeje penasaran.
"Disitu, ucap papa sambil menunjuk televisi.
"Oh, buang aja tv nya pa," ucap Jeje kesal sedangkan Bagas tertawa melihat kekesalan sang anak.
Sabar je orang tua
Nggak tau orang lagi panik ni papa
Jeje kembali ke pemikiran awalnya yaitu tentang apa yang harus di lakukanya. Ketika asik dengan pemikiranya sendiri handphonenya berbunyi menandakan pesan masuk. ________________________________ Dosen
Dosen Yang kemaren itu adek kandung saya Kamu bisa ke rumah saya sekarang?
________________________________ Mata Jeje melebar ketika membaca pesan yang di kirimkimkan dosenya tersebut, setelah itu timbulah beberapa pertanyaan di otaknya. Apa maksud Pak Bayu mengirimkan pesan seperti ini?
Jeje mau terbang tolong...
Jeje segera pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap pergi ke rumah Pak Bayu, Setelah siap Jeje berpamitan kepada Amika untuk pergi keluar.
"Mau kemana kamu je?" Tanya Amika penasaran.
"Mau ke kampus," ucap Jeje berbohong
"Kok wangi banget, mau mengharumkan nama universitas ya je?" ucap Amika
Setelah berpamitan Jeje langsung ke rumah Pak Bayu dengan berjalan kaki karna rumah Pak Bayu sangat dekat denganya rumahnya, lagi pula dia malas untuk menyetir.
Merepotkan
Setelah sampai di rumah Pak Bayu Jeje mengetok pintu rumahnya kemudian mengucapkan salam.
"Hai kak Jeje." sapa Karen tiba-tiba keluar dari suatu ruangan yang Jeje duga itu adalah kamar karen.
"Eh hai Karen," ucap Jeje
"Lok kamu kenal dek?" ucap Shinta.
"Kenal dong," ucap karen, kemudian Karen membisikan sesuatu kepada Shinta dan hal tersebut berhasil membuat Jeje menjadi sangat penasaran.
"Ouh jadi Jeje calon menantu tante," ucap Shinta meenggoda Jeje, Jeje terkejut mendengar penuturan dari tante Shinta, dan ketika Jeje ingin menyela papanya Pak Bayu telah duluan berbicara.
"Ma jangan lupa angkat jemuran, soalnya mau hujan," ucap Febri.
"Siapa yang mau hujan pa?" ucap Shinta
"Langitnya," ucap Febri
Ketika Shinta mengangkat jemuran Karen mengajak Jeje ke suatu tempat, Jeje mengikuti Karen dengan terpaksa karna dia tidak enak untuk menolak.
Ternyata Karen membawa Jeje ke taman belakang rumahnya, di sana Jeje melihat rumah minimalis dari kayu yang sangat bagus dan juga unik.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Itu rumah siapa Karen?" ucap Jeje
"Rumah Karen, masuk yok kak," ucap Karen
Ketika ingin masuk ke rumah minimalis tersebut Karen teringat memiliki janji dan menyuruh Jeje untuk masuk kemudian melihat-lihat sendiri.
Awalnya Jeje tak enak memasuki rumah orang sembarangan namun rasa penasaranya membuang jauh-jauh rasa tidak enak tersebut.
Jeje memasuki rumah tersebut dengan hati-hati, sesampainya di dalam Jeje terkagum melihat banyak hiasan serta pajangan antik. Setelah menelusuri lantai bawah, Jeje membaranikan diri menaiki lantai atas rumah tersebut, sesampainya di lantai atas Jeje terkejut melihat Pak Bayu yang masih tertidur di atas ranjang.
Hitungan detik Jeje sadar bahwa dirinya hanya berdua di dalam ruangan ini, Jeje langsung bergegas turun ke lantai satu namun dia mendengar suara berat memanggil namanya.
"Jenifer," ucap Pak Bayu dengan suara serak, awalnya Jeje mengira itu hanya efek bangun tidur, Tetapi setelah menyadari wajah Pak Bayu yang pucat dan juga terlihat lemas . Jeje sangat yakin itu bukan suara khas bangun tidur Pak Bayu.
Dengan hati-hati Jeje mendekat ke arah Pak Bayu kemudian Jeje memberanikan diri untuk memeriksa suhu tubuh Pak Bayu dengan cara menempelkan telapak tanganya,"
Dan benar saja dahi Pak Bayu terasa sangat panas, Jeje berniat untuk turun ke bawah untuk memberi tau tante Shinta, namun Tiba-tiba dia merasakan ada yang menggenggam tanganya.
"Jangan pergi," ucap Pak Bayu sambil mengeratkan genggaman tanganya.