Chapter 28. Akhir Pertandingan

176 24 2
                                    

Napas yang tidak teratur terdengar dengan sangat jelas dari Feri. Tangan yang tadinya berwarna putih, kini sudah berubah menjadi merah akibat hantaman terus-menerus. Keringat mengalir di tubuhnya, membasahi seragam putih abu-abu. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. Ia sangat tidak menyangka ini akan terjadi.

Lima belas menit yang lalu, Devan masih terkapar di tanah. Ia mengerang kesakitan karena pukulan keras pada pipinya. Feri juga mematahkan tiga tulang rusuknya. Itu seharusnya menekan paru-paru atau jantungnya. Seharusnya, Devan tidaklah sanggup lagi. Mungkin seharusnya ia sudah tewas ketika Feri mematahkan tulang kakinya. Namun, itu tidaklah terjadi. Malahan, itu adalah kebalikan dari seharusnya.

Ketika Feri menginjak-injak tubuh Devan, kakinya digenggam oleh Devan. Genggamannya sangat erat sehingga hampir mematahkan tulang kering kaki Feri. Padahal, tulang kaki Feri seharusnya sekeras berlian. Namun, itu dengan mudahnya diremukan dan hampir dihancurkan oleh Devan. Benar-benar di luar akal manusia. Tidak, sejak awal ini memanglah di luar akal sehat yang bisa diterima manusia.

Setelah menggenggam kaki Feri, Devan bangkit dari tanah. Membuat Feri langsung tersungkur ke tanah karena kakinya masih digenggam oleh Devan. Kepalanya langsung terbentur oleh beton lapangan. Itu cukup keras sehingga membuat darah keluar dari kepalanya.

"Sejak kapan aku menjadi tuanku?" tanya Devan dengan nada yang sangat dingin.

Matanya menatap Feri dengan sinis. Itu adalah tatapan mengerikan dan penuh teror yang berisi amarah dan kebencian. Ekspresinya juga menunjukan rasa benci dan amarah kepada Feri. Tidak, itu lebih ke ekspresi yang menunjukan rasa jijik terhadap Feri. Memandang Feri layaknya kotoran yang dikeluarkan hewan. Menjijikan dan tidak sedap dipandang. Begitulah Devan memandang Feri.

Dengan tulang pipi yang remuk dan tiga tulang rusuk yang patah, Devan berjongkok di hadapan Feri. Ia melepaskan kaki Feri yang sedari tadi digenggamnya. Tangannya meraih kerah dasi yang terpasang di leher Feri. Menariknya hingga membuat Feri sesak napas.

"Bajingan! Sejak kapan aku menjadi tuanmu?!" tanya Devan lagi dengan nada yang sinis. Ekspresinya nampak tidak menunjukan rasa ampun terhadap Feri. Ia hanya ingin menyiksanya atas segala yang terjadi. "Jawab atau kau kubunuh!"

Nada dingin dan penuh kebencian itu membuat bulu kuduk Feri merinding. Kali ini, ia sadar kalau dirinya sudah melakukan kesalahan. Seharusnya, ia sama sekali tidak memancing amarah dari Devan. Ia sadar kalau Devan merupakan tuannya.

"Jawab, Brengsek!" teriak Devan mengepalkan tangan kanannya. Ia mengangkat tangannya dengan sangat tinggi. Membuat tangannya seakan menjadi bom atom yang siap untuk dijatuhkan di atas kota.

Buk!

Sebuah pukulan yang sangat keras mendarat di pipi Feri. Itu adalah hantaman yang sangat keras. Membuat tulang pipi Feri hancur dan bahkan mematahkan tulang hidungnya. Darah keluar dengan deras dari hidungnya itu. Bibirnya juga sobek dan mengeluarkan darah.

Setelah memukul Feri, Devan berdiri. Ia masih memandang Feri dengan tatapan dinginnya. Ekspresinya bahkan tidak berubah sama sekali. Tidak ada pengampunan bagi Feri. Devan bukanlah karakter yang pemaaf. Ia tidak akan dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Setidaknya, ia akan membalas hingga dirinya puas.

Jika kehidupannya tidak diusik, mungkin ini tidak akan terjadi. Ia masih bersabar hingga kemarin. Menghadapi ketujuh orang yang mengacaukan kehidupannya yang damai. Membuatnya merasa terganggu. Pada akhirnya, ia tidak bisa bersabar lagi. Itu tepat ketika Feri menantang dirinya. Benar-benar waktu yang sangat tepat sekali. Membuat Devan berpikir untuk melampiaskannya ke Feri. Lagipula, Feri merupakan yang terkuat di anatara mereka bertujuh.

"Berdiri! Bukankah kau menantang diriku? Aku menerima tantangan darimu. Aku tidak akan membuatmu menyerah begitu saja ketika sudah menantang diriku!"

Feri yang mendengar itu, tidak mempunyai pilihan lain. Ia berdiri sembari memegang pipinya yang lebam. Karena tulang keringnya remuk, ia tidak bisa berdiri dengan benar. Itu sangat menyakitkan bagi Feri. Rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ini adalah kesalahan Feri. Jadi, dirinya harus bertanggung jawab sepenuhnya.

Tuanku benar-benar kuat.

Senyuman tidak sempurna karena pipi lebam muncul. Ia tidak lagi takut. Malahan, dirinya merasa senang. Sangat jarang bagi Feri untuk berhadapan langsung dengan tuannya. Apalagi, tuannya menghadapinya dengan sangat serius. Ini juga sebagai bentuk hukuman baginya karena telah melakukan dosa. Ia harus menebus dosanya. Itu untuk membuatnya tidak merasa bersalah. Walau begitu, Feri masih sedikit merasa bersalah.

"Kau benar-benar kuat ya, Devan." Feri harus memuji tuannya. Itu adalah wajib bagi pelayan seperti dirinya. "Aku akan mulai serius sekarang!"

"Sampai kapan kau bisa menunjukkan sikap sombong itu? Aku akan mematahkan rasa sombongmu itu."

Tidak, Tuan. Sejak awal, anda telah mematahkan kesombongan diri saya.

Apa itu kebanggan diri?

Itu adalah pertanyaan yang kembali muncul di hatinya. Jawaban atas pertanyaan itu hingga kini belum didapatkan oleh Feri. Pertanyaan yang diajukan oleh tuannya dulu, hingga kini belum bisa dijawab oleh Feri. Itu mungkin akan membutuhkan waktu seumur hidupnya untuk mencari jawaban. Karena dirinya abadi, ia mendapatkan banyak waktu untuk menjawab pertanyaan itu.

Namun, kini Feri sudah mendapatkan jawabannya.

"Kebanggan diri adalah ketika kau bisa menerima dirimu apa adanya dengan perasaan bangga. Begitu juga kau menerima orang lain. Tidak merendahkan yang lain adalah bentuk kebanggan diri," gumam Feri dengan suara pelan. Itu tidak akan sampai ke telinga Devan.

Dengan begitu, pertarungan yang sesungguhnya dimulai. Feri dengan pengalaman berjuta-juta tahun dengan Devan yang tanpa pengalaman. Mereka berdua beradu tinju. Saling mendaratkan tinju ke tubuh masing-masing.

Jika dilihat, itu adalah pertarungan yang seimbang. Tapi, itu bukanlah kenyataannya. Feri sudah terpojokan sejak membentrokan dirinya. Ia hanya bisa menahan dengan sekali-sekali mencuri kesempatan untuk menyerang. Tidak ada kesempatan untuk menang bahkan satu persen pun. Ia sudah kalah semenjak beradu tinju.

Untuk tidak mengecewakan Devan, ia berusaha menahan serangan Devan sekuatnya. Ia mencoba untuk tetap bertahan dari serangan itu. Itu membuat tulang kering di kedua lengan Feri remuk. Tulang keringnya sudah pada tahap akan hancur jika begini terus.

Kondisinya sangat buruk. Tulang kering kaki dan tangannya remuk, lima tulang rusuknya patah, tulang pipinya hancur, dan hidungnya patah. Darah juga keluar dengan deras dari tubuhnya. Menetes ke beton lapangan yang panas itu. Feri sudah sangat lelah. Jika ia hanyalah manusia biasa, dirinya sudah tewas sejak lima belas menit yang lalu. Ia bersyukur karena dirinya adalah iblis.

Selama lima belas menit berlansung, Devan menyerang dan Feri bertahan. Itu nampak sangat sengit. Belum ada yang tumbang, membuat pemenangnya masih abu-abu. Namun, sudah jelas Devan lah yang memenangkan pertarungan itu.

Buk!

Pukulan itu mendarat dengan keras di pipi Feri. Membuatnya tumbang seketika. Ia tidak mampu lagi bertahan. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah. Kesadarannya mukai menghilang. Dan pertarungan selesai.

Pemenangnya adalah Devan

Ketika melihat Feri ambruk, seluruh orang yang menonton itu langsung bersorak-sorai. Pertarungan yang di luar akal itu berakhir dengan kemenangan Devan. Lapangan yang baru diperbaiki itu kini berceceran darah merah mereka berdua. Walau begitu, semuanya telah berakhir.

Devan mengangkat kepalanya. Ia memandang langit yang sedang berawan. Dirinya berhasil mengalahkan Feri, itu membuatnya lega. Namun, itu tidak sepenuhnya. Karena jika Devan berhasil mengalahkan Feri yang merupakan manusia terkuat saat ini, itu semakin memperkuat bukti kalau dirinya adalah Raja Iblis. Itu membuatnya tidak senang. Karena Devan hanyalah siswa SMA yang memiliki kehidupan klise.

Apakah benar aku adalah Raja Iblis?
-----------------------------------
Dengan begini, Arc pertama, yaitu Arc Pembuktian, sudah selesai. Arc selanjutnya adalah Arc Dunia Para Pahlawan.

Bagaimana Mungkin Aku Adalah Raja Iblis?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang