27. HAMPIR

123K 14.2K 2K
                                        

DARREN sudah siap dengan jaket yang melekat di tubuhnya, malam ini cowo itu terlihat sangat tampan. Meski setiap hari memang tampan, senyuman terukir di wajahnya. Ia sudah tidak sabar untuk menjemput Stella, untung saja gadis itu mengiyakan ajakannya.

Ia melihat jam tangannya, sudah pukul 7 malam. Darren bergegas untuk cepat-cepat menuju rumah Stella, ia takut telat dan Stella berubah pikiran nanti.

Langkahnya terhenti saat suara berat seseorang terdengar. Darren mendengus di buatnya.

"Waww, ada ape nih, kenapa nih?"

Darren berbalik dan melihat Ayahnya yang menatap curiga dengan senyuman gelinya.

"Darren mau ngedate," balas Darren.

Geo menatap penampilan Darren, cukup keren. Seperti dirinya waktu muda dulu. Geo menganggukan kepalanya. "Punya duit gak?"

Darren mencibik kesal. "Bukannya Ayah cuman ngasih 20 ribu doang?" dengusnya.

Geo tersenyum geli, aslinya ia tidak sepelit itu. Hanya saja melatih anaknya agar berhemat, jangan mentang-mentang kaya malah ngamburin duit.

"Kasihan cewenya kalo ngedate sama kamu, pasti di ajak makan cilok." Geo berpura-pura dramatis.

Darren memutar bola matanya malas. "Bukan cilok, tapi di kolong jembatan," jawab Darren tersenyum paksa.

Geo terkekeh melihat putranya, ia membuka dompet dan memberikan 5 lembar uang 100 ribuan. Otomatis bola mata Darren berbinar senang, ternyata Ayahnya perngertian.

"Buat Darren yah?" Darren memekik senang.

Geo mengangguk. "Biar gak malu-maluin Ayah."

"Yes!"

Setelah pamit ke Geo, Darren melangkah keluar. Lagi-lagi langkahnya terhenti.

"KEMBALIANNYA JANGAN LUPA YA DARREN!" teriak Geo.

Sudah ku dugong.

***

Ara sibuk membaca novel yang tadi siang ia beli bersama Arya, entah kenapa ia tersenyum-senyum sendiri membacanya.

"Nice." Ara terkekeh sendiri, sudah persis orang yang tidak waras sekarang.

Fokusnya terpecah saat Ara mendengar suara ketukan dari balkonnya, gadis itu berdecak. Lantas melangkah pelan kearah balkon, alisnya berkerut saat melihat Arya yang berdiri menatap datar kearahnya.

Arya masuk kedalam tanpa menunggu Ara mempersilahkan. "Gue boleh masuk?" kata Arya tak tahu malu. Padahal sudah jelas-jelas cowo itu rebahan di queen size nya sekarang.

"Gii bilih misik?" Ara menye-menye.

Arya tertawa lepas, lucu sekali melihat wajah Ara yang seperti itu.

"Ngapain kesini?" tanya Ara menaikan sebelah alisnya.

Arya tidak menjawab, malah menepuk tangannya di queen size Ara. Menyuruh Ara untuk ikut duduk di dekatnya. Ara yang memang tipikal tidak peka pun hanya mengerutkan dahinya bingung, gadis itu menggaruk rambut layaknya orang bodoh.

"Apaan Ar?" Ara bertanya.

Arya berdecak kesal. "Sini, deketan," dengusnya.

Meski malas, Ara tetap menuruti Arya. Gadis itu naik keatas queen size, Ara duduk sedangkan Arya menidurkan tubuhnya. Ara jadi salah tingkah saat Arya menatap intens ke arahnya.

"Ekhem. Kenapa lo bisa masuk kesini? Bukannya ada abang gue ya." Ara berujar untuk mencairkan suasana. Demi apa, di tatap seperti itu oleh Arya tidak baik untuk kondisi jantungnya.

ARYA [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang