23. DIFFERENT

129K 14.7K 3.6K
                                        

WAJAHNYA terlihat kusut, sesekali menguap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


WAJAHNYA terlihat kusut, sesekali menguap. Ara menyeret tasnya malas ke dalam rumah yang selalu sepi setiap hari.

Matanya berair, tanda bahwa Ara mengantuk sekarang. Itu juga karena ia kelelahan membersihkan toilet tadi, membuat tubuhnya butuh istirahat sekarang.

"Non cape?"

Suara cowok terdengar, Ara tidak memperdulikannya. Ia tetap berjalan tanpa menengok keasal suara.

"Heem bi." Ara menutup mulutnya lagi, bahkan matanya sesekali tertutup.

Cowok itu tersenyum geli. "Mau saya pijitin?"

Ara menggeleng tanpa melihat siapa orang yang mengajak dirinya berbicara.

"Nggak usah, bi."

Matanya terbuka lebar saat mengingat bahwa yang berbicara tadi adalah suara cowok. Sejak kapan suara bi Darmi cosplay jadi cowok?

Tubuhnya berbalik slowmo, seketika mulutnya tercengang melihat siapa di depannya.

"BANG VANOO!!"

Ara berlari memeluk Vano erat, cowok itu mengelus rambut Ara pelan. Rasa rindu kini telah terobati.

"Abang kapan pulang?" wajah Ara telihat lebih segar dari sebelumnya.

Vano melepas pelukannya, lantas menyelipkan anak rambut Ara yang berantakan.

"1 jam yang lalu mungkin?" Vano menaikan alisnya.

Tangan Ara mengadah. "Oleh-oleh?" polosnya.

Vano terkekeh kecil, lantas matanya menatap kebelakang Ara. Vano memberikan kode agar gadis itu berbalik, tapi memang dasarnya Ara yang tidak peka membuat Vano mendengus.

"Kenapa bang? Mata lo cacingan?"

Vano menjitak dahi Ara, gadis itu mengaduh kesakitan. "Enak aja kalo ngomong!"

"Sakit bang!"

"Coba lihat kebelakang." Vano tersenyum geli.

Akhirnya Ara mengikuti apa kata Vano, gadis itu berbalik dengan tatapan kaget.

"Jamaludin ngapain disini?!" pekik Ara senang.

Orang itu mendengus. "Anak siapa sih lo?" ketusnya.

Ara menaikan alisnya menggoda. "Anak bapak Jamaludin!"

"Bocah edan!"

Pletak!

Kevin mengaduh kesakitan saat mendapat timpukan dari sang istri. "Itu anak kamu mas."

Ara berlari memeluk bundanya, sudah lama sekali dia tidak melihat wajah bundanya secara langsung. Biasanya hanya lewat Video Call.

"Bunda, kenapa baru pulang? Gatau apa anaknya rindu." manja Ara menyemberutkan bibirnya.

ARYA [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang