04. MAU BOLOS BARENG?

220K 23.4K 4K
                                        


TERIK matahari tepat mengenai kepala Ara, matanya mengerjap silau. Banyak yang menatap Ara saat ini, sudah biasa jika dirinya dihukum. Ara mengusap keringat yang menetes dari dahinya, panas matahari begitu membakar kulit putihnya.

Para sahabatnya malah asik-asikan duduk dibawah pohon sambil makan cemilan, dikira dirinya tontonan gratis apa. Bukannya nemenin malah tertawa di atas penderitaannya. Ingetkan Ara untuk membalaskan kekejaman mereka semua.

Dari koridor Arya menatap datar kearah Ara, ada rasa kasihan di hatinya melihat gadis itu kepanasan. Kakinya melangkah kearah ruang bk, saat sudah sampai di ruangan bk. Arya langsung menemui Pak Didit. Pak  Didit dibuat bingung atas kedatangan murid nakal versi cowok ini.

"Pak, saya mau dihukum," ujar Arya datar.

Pak Didit tercengang mendengar ucapan muridnya yang satu ini. Memang benar para muridnya tidak ada yang waras, dimana-mana yang dihukum ingin bebas dari hukumannya. Nah ini, Arya malah mengajukan diri ingin dihukum.

"Loh? Emang kamu punya masalah apa hari ini?" tanya Pak Didit sambil membenarkan letak kacamatanya.

Arya menggeleng. "Ingin di hukum saja," katanya santai.

Pak Didit menggelengkan kepalanya sabar. "Emang kamu mau dihukum apa sama bapak?" dengan senang hati dirinya menyetujui permintaan Arya, kapan lagi bisa menghukum muridnya dengan kemauan murid itu sendiri?

"Hormat di tiang bendera," jawabnya santai.

Pak Didit mengerutkan dahinya. "Loh ... bukannya Ara juga lagi dihukum? Atau jangan-jangan kamu mau ngajakin Ara bolos? Kalau begitu gak bapak ijinin."

"Terserah, saya mau tetap dihukum. Terimakasih." Arya melenggang pergi membuat Pak Didit mengelus dadanya sabar. Ia sudah tua tapi masih saja di beri cobaan mendapat murid yang nakalnya seperti Arya dan Ara.

"Sabar Dit ...."

***

Ara menatap kesamping saat sinar matahari sudah tidak mengenai dirinya. Alisnya terangkat saat disampingnya sudah ada Arya yang hormat kearah bendera merah putih.

"Ngapain lo disini?" tanya Ara menatap wajah tampan Arya.

Arya menunduk, menatap Ara yang tingginya hanya sebahunya. "Gak lihat? Gue juga dihukum," jawabnya santai.

Ara menatapnya tajam tak percaya. "Emang lo buat salah apaan?"

"Buang sampah sembarangan, banyak bacot lo." Ara mendengus mendengar jawaban tidak masuk akal dari Arya. Jikalau Ara cewek yang peka, pasti tahu maksud Arya itu apa. Arya ingin melindungi Ara, tapi memang Ara yang lemot jadi tidak mempermasalahkan ucapan Arya.

Hingga akhirnya keduanya memilih diam, Ara sesekali mengusap keringat di dahinya. Segala gerak-geriknya tak luput dari penglihatan Arya, diam-diam Arya memperhatikan semua gerakan Ara. Dari menguap, sampai menggurutu sendiri. Gadis itu memang aneh.

Hingga satu jam berlalu, koridor sudah sepi karna pelajaran sudah berlangsung Kembali dari 45 menit yang lalu. Ara menghela nafasnya lega, dia meregangkan otot lengannya yang pegal karna hormat 1 jam di bawah panas teriknya matahari.

"Cape banget gue," ucap Ara sambil menatap manik tajam Arya.

"Udah tau cape, tapi suka buat masalah," sinis Arya.

ARYA [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang