CHAPTER 85

3.4K 137 1
                                        

Tak membutuhkan waktu lama, kami pun sampai di sebuah gedung pencakar langit yang tampak megah. Aku terpukau memandang gedung pencakar langit tersebut. Wow.

"Sudah sampai," ujar Leandro memberitahu.

Leandro turun dari mobilnya, kemudian memutar bagian depan mobil. Dia membuka pintu mobil untukku.

Pria tampan itu mengulurkan tangannya dan aku meliriknya bingung. Kepalanya seperti memberi kode sesuatu yang baru saja ku pahami lima menit setelahnya.

Aku menyengir, lalu meraih uluran tangannya dan saling bergenggaman.

Beberapa wanita yang lewat terpukau memandang Leandro dan terkejut atas kehadiran diriku yang... mungkin tampak elegan? Entahlah.

Sepanjang jalan, terutama di kiri kanan kami ada banyak pengawal khusus.

Mungkin untuk mengatur keamanan dan kenyamanan.

Banyak wanita yang mulai menyeru-nyerukan nama Leandro dengan alunan nada suara yang berbeda.

Dari yang histeris sampai yang paling menjijikkan pun ada.

Yang menjijikkan ku maksud adalah dia memanggilnya seperti seorang jalang yang sedang menyebutkan nama lawan mainnya.

"Leandro!! Aku mencintaimu!!"

"Mari kita bercinta malam ini, Leandroo!!"

"Leandro Alcander!"

"Ouhh, God! He's handsome and elegant!"

"Aloha, Leandro!! I'm from Hawaiian! Love you!!"

Dan berbagai seruan lainnya lagi. Okey, rasanya aku ingin menjambak dan menampar wanita yang menyerukan kalimat vulgar kepada calon suamiku yakni Leandro.

Apakah mereka sudah tidak ada harga dirinya saking terpesonanya pada pria psikopat ini?

Astaga. Menyedihkan sekali.

"Ku rasa mereka sudah tidak waras lagi.." gumamku tanpa sadar.

"Aku tahu, kau sedang cemburu," bisik Leandro.

Aku mendelik tajam kearahnya. Dengan geram, aku meninju lengannya lalu berjalan mendahuluinya menuju studio photo yang sudah di sediakan melalui bantu petugas disana.

Sepanjang jalan, aku merasa wajahku memerah. Siapa yang tidak cemburu apabila calon suaminya di cat calling oleh wanita lain? Ku rasa dia wanita yang tangguh jikalau ada.

Aku berhenti sebentar untuk menoleh ke belakang dan mendapati Leandro tengah tersenyum kecil sambil melambai kepadaku.

Aku memalingkan wajahku lagi dan masuk ke dalam studio photo. Kemudian Leandro masuk juga.

Sang pemilik studio sekaligus sang pengatur semuanya bertanya.

"Kalian ingin menggunakan konsep apa?" tanyanya.

"Kau ingin konsep yang bagaimana?" tanyaku pada Leandro.

"Terserah," jawabnya singkat.

Aku memandang kearah sang pemilik lalu mengatakan bahwa kami terserah pada dia saja. Dia mengangguk paham.

Setelah itu, sang pemilik menyuruh kami untuk segera bersiap-siap. Aku maupun Leandro diurus oleh penata rias dan busana disana. Tentunya di ruangan yang sama.

Ketika aku memasuki ruangan riasan dan busana tersebut, aku merasa sedang berada di sebuah kerajaan. Sangat indah dan menawan. Gaun-gaun serta pakaian lainnya berderet rapi.

Sejam lebih mengurus segala pemotretan untuk konsep pernikahan kami, akhirnya pun aku dan Leandro pulang ke rumah. Ya, kerumah ku tentunya.

Oya, ini adalah salah satu foto pre wedding kami.

Oya, ini adalah salah satu foto pre wedding kami

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Malam harinya.

Aku sekeluarga tengah makan malam di ruang makan. Tiada percakapan selain mendengarkan suara dentingan antara sendok dan piring. Pernikahanku dengan Leandro akan terjadi beberapa hari lagi. Aku harus mempersiapkan diri sebagus mungkin di altar Gereja agar tidak memalukan siapapun.

Apa aku harus berlatih? Tapi dengan siapa? Dengan Mama? Ah tidak, itu sangat memalukan, tolong.

"Jika saja ada Sakura disini..."

Ah, Sakura! Ya! Apa kabar dengan dirinya? Aku harus segera menelponnya. Aku berjalan meninggalkan balkon, lalu mengambil ponselku. Tepat saat ku mengambilnya, nama Jidzik tertera jelas di layar ponselku.

"Jidzik..." gumamku. Apa yang dia inginkan lagi?

Aku menjawab telponnya dan menunggu ia berbicara. Tiada jawaban, selain hembusan nafas yang terdengar seperti terpacu cepat. Ada apa dengan dia?

"Apa yang kau inginkan?" tanyaku to the point.

"Oh? Kau sudah mengangkatnya? Syukurlah..." sahut Jidzik dari sebrang sana. "Kudengar kau akan merayakan pesta pernikahanmu dengan Leandro minggu depan. Apa aku boleh datang?" tanyanya dari sana dengan kekehan.

"Kurasa kau dan keluargamu tidak pantas datang ke acara pernikahanku. Kalian. Keluarga. Sialan." Aku mengucapkan kalimat itu dengan penuh penekanan.

"Justru karena keluargaku sialan, aku harus datang. Aku ingin memberimu hadiah pernikahan dengan tulus hati," tukas Jidzik.

"Tulus hati? Hahaha, sejak kapan kau pandai bermain kata-kata manis ini, Jidzik? Kata tulus tidak pantas ada dalam hidupmu!" ujarku.

"Haha, kau benar. Oke, selamat tinggal Kaylie. Tunggu aku di hari pernikahanmu!"

Tut.

Telepon mati secara sepihak. Jantungku berdegup kencang. Aku takut apa yang dikatakan Jidzik itu benar adanya. Aku takut ia mengacaukan pesta pernikahanku nanti. Ah, semoga saja itu tidak terjadi.

Aku pun beranjak menuju ranjang tidurku dan segera tidur nyenyak untuk menyambut esok harinya.

Seketika aku lupa untuk menelpon Sakura.

*****

To Be Continued.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang