CHAPTER 62

5.3K 215 12
                                        

Kaylie POV.

Aku membuka mataku dengan perlahan. Tubuhku masih lemah. Selimut tebal menutupi sekujur tubuhku. Bayang-bayang kemarin masih terlintas di kepalaku. Badanku kembali bergetar ketakutan.

Ketika aku ingin menyentuh perutku yang telah terukirnya namaku dan Leandro, aku merasakan ada sebuah tangan kekar melingkar di perutku.

"Tangan?" gumamku.

Kemudian, aku merasakan tubuhku sedikit hangat dan hembusan nafas yang hangat menyentuh puncak kepalaku juga. Ketika aku mendongak, ternyata..

"APA YANG KAU LAKUKAN DI SEBELAHKU!?" teriakku refleks, sebab melihat wajah Leandro.

Aku menjauh darinya, hingga ke pinggir ranjang. Kami masih berada di Hotel Rosemary. Rasa takut dan jijik mulai menyelimutiku. Aku menarik selimut hotel dan menutupi tubuhku. Ya, meskipun aku mengenakan piyama bermodelkan seperti kimono.

"Enghh.." ringis Leandro.

Yep, dia sudah terbangun dari alam mimpinya. Dia membuka matanya dan memandangku yang sudah menjauh darinya.

Diotak ku, bayang-bayang yang kemarin terekam ulang. Saat itu juga, aku merasa jijik dan dengki. Biarkan saja kemarahan menyelimutiku. Aku tak peduli.

Tanpa sadar, air mataku mengalir pelan, membasahi pipi mulusku.

"Kenapa kau menangis?" tanya Leandro bingung. Suaranya terdengar lebih serak dari yang biasanya. Aku melototkan mata.

"Kenapa? 'Kenapa' katamu!? Ini semua gara-garamu, Leandro! Kau memakai pisau untuk merusak kulitku! Dan sekarang, kau malah mengeluarkan pertanyaan bodoh! Pertanyaan yang seolah-olah kau tak tahu apa yang terjadi!" tuturku dengan nada yang meledak-ledak.

Air mataku semakin tak terbendung. Dia keluar tanpa ku minta. Aku menutup kedua wajahku dan menangis deras.

"Don't cry, Kaylie," tegur Leandro lembut.

Tanpa ku sadari, dia meringsut kearahku dan menarikku ke dalam pelukannya. Dan, yeah, tangisanku semakin menjadi.

"Kau jahat..! Hikss.., hikss, hikss..," kataku dengan terisak-isak. Tanganku bergerak memukul-mukul dada bidangnya.

Apakah kalian berpikir, kenapa aku tidak memberontak dari pelukannya?

Karena, entah kenapa, pelukannya terasa nyaman dan hangat. Meski dia-lah yang membuatku seperti ini.

"Tidak, aku tidak jahat. Aku hanya ingin menunjukkan diriku. Aku hanya ingin menaruh namaku di tubuhmu, agar orang-orang tahu, bahwa kau hanya milikku seorang saja!" tutur Leandro.

Tangan kekarnya bergerak mengusap surai rambutku dengan lembut. Aku tidak mau munafik. Aku membalas pelukannya dan mencengkram punggungnya dengan erat. Tak peduli dia meringis kesakitan.

"Ka-kau.., m-moo.., mons...terr..," ucapku dengan sesegukan.

"Jangan menjulukiku seperti itu, sayang," tegur Leandro.

Kemarin dia bersikap kasar kepadaku dan sekarang bersikap lembut. Apa mau mu? Dasar keparat. Seketika, aku menyesal telah menerima permintaanya agar kami saling bertemu.

Setelah menangis cukup lama dalam pelukan Leandro, akhirnya aku pun terdiam dan melepaskan pelukannya. Aku mendorongnya dengan kasar, agar menjauh dariku.

"Jangan bicara padaku!" perintahku, seraya beranjak dari ranjang.

"Barusan kau ber-" Ucapan Leandro terpotong olehku.

"Jangan katakan apa pun!" perintahku ketika berbalik badan untuk menatapnya.

Serupa dengan bocah polos, Leandro mengangguk-angguk. Aku pun berjalan menjauhi ranjang dan menuju balkon kamar hotel tersebut. Ku biarkan angin pagi menerpa kulitku.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang