CHAPTER 64

4.9K 224 17
                                        

Siapa yang kangen dengan ceritanya?

Ada yang kangen dengan Leandro-Kaylie?

Ada yang kangen dengan Leandro?

Ada yang kangen dengan Kaylie?

Hayo loh, ngaku! Hahahahaa. Dahlah, pasti gada yang peduli. Dah, selamat membaca ya!

*****

"Apa yang akan kau lakukan, Leandro? Jangan aneh-aneh!" teriak Kaylie takut.

"Aku hanya ingin mengukir namaku di kaki indahmu," jawab Leandro santai.

"Apa kau gila!? Jangan!" teriak Kaylie marah.

"Aku gila? Oh, tidak, Kaylie. Aku tidak gila. Aku hanya ingin memasang namaku saja di kakimu. Supaya kau hanya untukku. Selamanya!"

"AKU TAK MAU BERSAMAMU, BAJINGAN!"

Aku tersadar dari mimpiku. Bulir-bulir keringat telah membasahi seluruh wajahku, walau memakai AC. Nafasku terengah-engah.

Bayangan kejadian kemarin malam, terus menghantui diriku. Setiap saatnya, aku selalu terbayang-bayang.

"Brengsek!" umpatku.

Aku beranjak dari ranjang tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Disana, aku memandang pantulan wajahku yang tampak berkeringat sebab mengalami mimpi buruk, di cermin yang tersedia.

"Setelah hidup lama, baru kali ini ngerasain mimpi buruk. Dan itu merupakan mimpi yang sangat menegangkan," ucapku.

"Kenapa bayang-bayang 'malam' itu selalu terputar terus-menerus di otakku? Padahal aku sudah berusaha menghilangkannya, tetapi tidak berhasil." Aku mencengkram erat pinggiran wastafel dan menundukkan kepala.

Setelah sekitar dua menit dalam posisi seperti itu, aku pun kembali memandang pantulan wajahku di cermin.

"It's okey, Kaylie. Kau harus kuat. Kau tidak boleh lemah. Kau harus hilangkan bayang-bayang sialan itu. Kau harus melupakan semuanya. Kau pasti bisa!"

Setelah mengucapkan rentetan kalimat ikrar pribadi itu, aku pun bergegas mandi dan bersiap untuk makan malam.

Dan, tentu saja aku memakai baju polos lengan panjang dan celana training lagi. Guna untuk menutupi luka-luka sialan itu, yang ada di kulitku.

Aku tak mau Sakura dan Azkeh mengetahuinya, lalu mengkhawatirkan diriku. Yang berdampak pada pekerjaan pribadi mereka.

Ah, aku tak tahu harus sampai kapan begini. Suatu hari nanti, pasti ini semua akan ketahuan dengan sendirinya.

Entah kapan.

***

Ruang tengah.

Aku, Sakura dan Azkeh saat ini sedang berkumpul bersama di ruang tengah, di temani segelas anggur manis. Sudah menjadi kebiasaan kami.

Hanya judulnya saja yang 'berkumpul' nyatanya kami sibuk dengan urusan masing-masing.

Sakura sibuk dengan pekerjaannya di laptop, Azkeh sibuk berbincang ria dengan manajernya dan aku sibuk dengan naskahku di laptop. Hanya ada suara bising dari Azkeh yang sedang menelpon, terkesan seru.

"Apa kau jatuh cinta pada manajer mu sendiri, Azkeh?" tanya Sakura, saat Azkeh mematikan ponselnya.

"Apa?" Azkeh memandang Sakura bingung.

"Kurasa aku tak perlu mengucapkannya dua kali, karena pasti kau mendengarnya dengan jelas, Az," jelas Sakura.

Dia yang memakai kacamata, langsung melepaskan kacamatanya dan mengaitkannya di kerah baju kaosnya.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang