Hari kesatu tanpa adanya Sakura, haha.
Aku menuju ruang tengah untuk menonton televisi. Di jam segini, biasanya ada film drama yang bagus. Ku harap begitu.
Aku duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan televisi, lalu menghidupkan layar kecil itu dengan satu remote.
Setelah berpindah-pindah channel televisi untuk mencari film yang akan ku tonton, akhirnya aku lebih memilih mematikan televisi tersebut. Tidak ada film yang menarik. Semuanya tampak membosankan di mataku.
"Lebih baik aku bermain laptop saja atau ponsel saja," ujarku pada diri sendiri.
Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarku. Aku mencari ponsel dan laptopku di tempat biasa ku menaruh. Setelah mendapatkannya, aku langsung membawanya keluar kamar dan menuju ruang tengah lagi.
Ku letakkan laptop diatas meja ruang tengah yang memang terletak di tengah-tengah antara sofa dan televisi. Sementara ponsel ku taruh di sebelahnya.
Aku memilih duduk di bawah dengan bantalan sofa sebagai alasnya karena rasanya tidak enak jika duduk tanpa alas apapun.
"Apa yang akan ku lakukan dengan laptop ini?" tanyaku pada diri sendiri alias aku sedang bermonolog random.
Aku terdiam sejenak, memikirkan apa yang harus ku perbuat.
"Ah! Lebih baik ku lanjutkan saja naskahku yang belum selesai," kataku akhirnya setelah mendapatkan ide.
Sebenarnya menyelesaikan naskah itu bukan ide sih menurutku, lebih tepatnya memang harus di lakukan tanpa niat. Naskah selesai dengan cepat, maka buku ku juga akan terbit dengan cepat.
Ditengah-tengah diriku yang sedang sibuk mengetik naskah, seseorang mengetuk pintu rumahku dengan begitu kencang. Aku menghentikan kegiatanku dan menoleh kearah pintu.
"Orang gila mana, ya, yang datang ke rumah tanpa memberitahuku?" gumamku dengan heran.
Sepagi ini saja sudah ada tamu. Apa guna coba datang ke rumah orang pagi-pagi begini?
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan itu membuyarkan lamunan ku dan itu membuatku langsung bergegas menuju ruang tamu.
Saat ku tarik kenop pintu, sesosok pria tampan berpakaian formal dengan kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya muncul di hadapanku. Senyum tipis yang sangat ku kenali dan aroma parfum mahal yang juga sangat ku kenali ini, membuatku terkejut bukan main.
"Halo, calon istriku!" sapa pria tampan itu.
Ya, dia adalah Leandro Alcander. Si tampan namun berhati iblis. Si tampan yang nama nya sangat terkenal. Si tampan yang akan menjadi suamiku kelak.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyaku dengan nada tak suka.
Sekelebat bayangan malam itu, saat aku bersamanya di Hotel Rosemary, kembali muncul sekilas di benakku. Rasa takut dan waspadaku kembali muncul. Tanganku yang sudah keringat dingin, mencengkram erat gagang pintu.
"Apa kau berniat untuk menjadi pusat perhatian orang-orang?" tanya Leandro dengan suara beratnya.
Aku terdiam dan memandang ke sekitar komplek perumahan tempatku tinggal selama di Venesia. Aku langsung menariknya masuk, kemudian menutup pintu.
"Kau ingin minum apa?" tanyaku berusaha ramah. Dia adalah tamuku dan tamu harus diperlakukan layaknya Raja. Moto itu sudah di tanamkan sejak dahulu kala.
"Air ludahmu," jawab Leandro yang berniat menjahili diriku.
Ku lemparkan tatapan tajam kearahnya, lalu berdecak kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE IS TERRIBLE [ END ]
Romance[ 01 Juli 2019 - 10 Januari 2021 ] Ini tentang Amoureyza Kaylie yang harus menerima perjodohannya dengan Leandro Alcander, seorang pria yang memiliki berbagai perusahaan dimana-mana dan banyak wanita yang menyukainya. Demi perusahaan keluarganya. Na...
![MINE IS TERRIBLE [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/192551428-64-k502273.jpg)