CHAPTER 79

2.7K 167 7
                                        

"Aku belum berpamitan dengan Arthur Napoleon," jawabku.

Leandro mengernyitkan keningnya sebentar, lalu kembali normal. Dia mengangguk dan mengulurkan tangannya.

"Kau ingin aku berjabat tangan?" tanyaku polos.

"Aku ingin menggandengmu," ujar Leandro. Masih dengan tangan yang terulur.

Aku melengos. "Aku bukan orang buta yang harus bergandengan tangan untuk berjalan, bodoh. Aku bisa berjalan sendiri," tolakku.

Aku pun berjalan memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Begitu pula dengan Leandro. Leandro juga sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga rumahku selama aku di Boston, karena kemungkinan besar aku juga akan kembali berkunjung ke sini. Aish.. Lama-lama satu dunia ini akan menjadi milik Leandro.

Sebenarnya aku tahu bahwa maksud Leandro tadi menggandengku agar terasa romantis saja. Namun saat ini aku sedang memendam marah, kemudian membalaskannya dengan sedikit keangkuhan. Yap, keangkuhanku karena tidak ingin di gandeng olehnya. Biarkan saja dia ditertawakan atau diledek oleh pengawalnya.

Mobil pun berjalan meninggalkan rumahku selama di Venesia dan menuju kantornya Arthur.

*

Sesampainya di kantor kebesaran Arthur.

Mobil pribadi milik Leandro menyita perhatian para pegawai kantor Arthur sebab mereka mengenal mobil ini. Ah, aku semakin takut untuk keluar. Aku takut di cap sebagai wanita murahan. Padahal kenyataannya, aku hanyalah korban perjodohan yang kemudian pada akhirnya akan jatuh cinta pada psikopat tampan itu.

"Kau tunggu saja disini. Aku sendiri yang akan menemui Arthur," pesanku sambil bersiap keluar dari mobil.

"Tidak. Aku akan bersamamu," tolaknya.

Aku berdecak. "Kau berdiam saja disini dan jangan banyak membantah ucapanku. Aku hanya ingin waktu berdua dengan Arthur. Apa kau mengerti maksudku? Aku hanya ingin privasi antara aku dan Arthur!" jelasku kesal.

"Bagaimana mungkin aku membiarkanmu berduaan dengan pria lain, bodoh!?" tanyanya geram.

"Aku tidak akan mengkhianatimu, sialan! Tenanglah dan diamlah, atau aku akan membatalkan semua perjodohan ini!"

"Terserah."

Aku tersenyum penuh kemenangan dan berjalan keluar dari mobil. Keluarnya diriku dengan pakaian terbuka seperti itu mampu menarik perhatian para pegawai kantor Arthur.

"Bukan kah itu mobil Tuan Leandro? Bagaimana mungkin kau bisa bersamanya, Moure?" tanya seorang pegawai.

"Kami akan menikah," jawabku jujur.

"Apa kau bercanda padaku?" tanya pegawai itu. Dia satu-satunya pegawai yang dekat denganku karena ia fasih dalam berbahasa Inggris sepertiku.

Aku menghela nafas. "Aku dengannya merupakan calon perjodohan, Helena," jelasku lagi.

"Sejak kapan?" tanyanya.

Fyi, Helena adalah pegawai kantor yang memang akrab denganku karena fasihnya dia dalam berbahasa yang sama sepertiku. Helena juga merupakan asisten Arthur yang sebenarnya, hanya saja aku sesekali menggantikannya dan menemani Arthur hadir dalam beberapa acara formal. Helena tidak keberatan, malahan dia merasa senang sekali.

"Sejak sepuluh tahun yang lalu," kataku.

Helena menatapku tidak percaya. Ya, sebagian orang tidak akan percaya dengan hal yang ku katakan.

"Jika aku menceritakannya, kau tidak akan mengerti karena ini terlalu rumit, kawan. Ya sudah, aku akan mendatangi Arthur dan mengucapkan salam perpisahan padanya!" pamitku ketika pintu lift sudah terbuka.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang