CHAPTER 22

6.3K 226 4
                                        

Leandro POV.

Setelah mengantarkan kekasih kecil ku pulang, aku pun bergegas kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus aku urusi. Dan mungkin aku akan bergadang lagi hari ini.

Sungguh, rasanya sangat melelahkan sekali harus mengurusi perusahan besar ini. Belum lagi aku harus mengurusi pernikahanku kelak dengan Kaylie.

Ting!

Ah, sebuah notifikasi pesan. Aku segera mengambil ponselku dan melihat siapa yang mengirim pesan kepadaku malam-malam begini.

"Kaylie!?" pekikku dengan tertahan. Empat pesan baru dari dirinya membuatku langsung membukanya.

Kaylie : Leandro!
Kaylie : Hey, aku membutuhkan bantuanmu.
Kaylie : Jemput aku di pos satpam perumahan. Aku akan mengatakannya di mobil.
Kaylie : Cepatlah!
Leandro : Hey, apa yang terjadi?
Kaylie : Cepatlah, pria tua! Aku tidak akan memaafkanmu jika terlambat!
Leandro : Dasar bocah! Tunggu aku disana!

Dasar bocah kecil ini. Sudahlah dia meminta bantuan kepadaku, tetapi malah menghina ku.

Tetapi anehnya, kenapa aku menurutinya? Kenapa aku merasa dia.. seseorang yang dikirim Tuhan untuk ku? Kenapa aku merasa senang jika dia mencariku?

Apakah aku jatuh cinta padanya?

Ah sudahlah, tidak usah dipikirin. Sebaiknya aku segera menuju tempat Kaylie si bocah kecil yang akan menjadi istriku kelak.

Leandro POV end.

***

Argh, pria tua ini sangat lambat. Apakah begini cara dia memperlakukanku seorang wanita? Dasar tidak berperikemanusiaan!

Setengah jam aku menunggu kedatangan Leandro. Jika ku tau dia orang yang telat, lebih baik memesan taksi.

Tin. Tin. Tin.

Sebuah mobil sedan berhenti tepat didepanku. Kaca mobil tersebut di turunkan oleh pengemudinya dan menunjukkan wajah Leandro yang begitu menyebalkan bagiku.

"Mau kemana, Tuan Putri?" tanya Leandro dengan nada bicaranya yang terdengar serak.

"Tidak usah banyak menggoda diriku. Lebih baik kita segera pergi," kataku judes sembari masuk kedalam mobilnya.

Leandro pun mengemudikan mobilnya menuju jalan raya kota Boston.

"Apa yang terjadi, Kaylie? Kenapa kau memintaku untuk menjemputmu malam-malam begini?" tanya Leandro penasaran.

Aku memandang kearah Leandro, kemudian menghela nafas panjang.

"Ketika aku masuk kerumah, Ibu bertanya keberadaan Jack. Dia berkata bahwa Jack tidak ada dirumah. Dan aku pun berkata bahwa aku dan Jack terpisah di mall. Seperti yang kau tau, aku denganmu dan Jack dengan temannya."

Aku menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya.

"Singkat cerita, aku menelpon Jack. Awalnya tidak diangkat olehnya, kemudian aku menelpon lagi dan... diangkat olehnya."

Entah kenapa rasanya berat untuk melanjutkan cerita ini. Aku memandang Leandro dengan wajah cemas. Leandro yang kebetulan sedang memandangku langsung melayangkan tatapan penuh tanda tanya.

"Dan kau tau, apa yang kudengar saat Jack mengangkat telponku?" tanyaku.

"Apa?" tanya Leandro balik.

"Desahan seorang gadis. Dia dan perempuan asing itu sepertinya.. sedang bermain diranjang," ujarku.

"Terus? Kau juga menginginkannya? Oh, ayolah, babe. C'mon sayang, kita belum sah dan aku tidak bisa merusakmu sebelum waktunya!" timpal Leandro tanpa beban.

Ekspresi wajahku berubah dan kurasa pipiku memerah karena perkataan Leandro.

"Hey bukan itu maksudku, sialan! Maksudku kita harus segera menggebraknya!" bentakku dengan wajah memerah. Leandro yang melihatku langsung tertawa kecil.

"Santai, babe. Okey, sekarang kita akan kemana?"

"Hotel Archer."

*****

Wahhh ternyata Kaylie bisa merona juga ya gara-gara Leandro. Teruskan Leandro, buat kekasih kecilmu semakin merona, hahahahaha.

To be continued.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang