CHAPTER 35

5.9K 224 12
                                        

"Ya, kami memang mempunyai hutang. Lebih tepatnya hutang budi."

Aku memandang kedua orang tuaku yang telah membesarkanku hingga aku saat ini dengan susah payah. Aku menatap mereka meminta penjelasan lebih.

"Dulu perusahaan kita pernah di tipu oleh perusahaan Akinwole, keponakan Mamamu dan tentunya sepupumu juga. Mereka mengatakan akan bekerjasama dengan perusahaan kita, tentunya kami senang. Dan singkat cerita, ternyata kerjasama itu tak pernah terjadi. Mereka mengkhianati kita dan lari ke Mesir," cerita Papa dengan nada yang santai. Seperti tak ada nada sesak. Mungkin dia sudah bisa menerima semua ini.

"Kami tak mungkin memberitahukan kepada kalian," timpal Mama.

"Karena perusahaan akan bangkrut, Papa meminta bantuan keluarga Leandro untuk menaikkan masa kejayaan perusahaan. Tentunya mereka membutuhkan sebuah imbalan. Mereka meminta agar aku menikahkanmu dengan Leandro," tambah Papa.

Aku terdiam dan menatap iba kearah Mama dan Papaku. Aku tersenyum dan memeluk mereka berdua. Oh, aku tak bisa harus marah atau pun merasa kecewa kepada mereka.

"Aku tau ini suatu hal yang berat bagi Mama dan Papa," bisikku.

"Thank you, my princess," balas Mamaku sembari mengelus pelan rambutku.

Oh, good. Aku tidak bisa marah kepada orang tuaku.

"Ehm.."

Sebuah suara dehaman terdengar begitu jelas ditelinga kami bertiga. Kami pun menyudahi acara berpelukan dan melihat sosok Jace sedang memandang kami dengan tatapan datar. Always. Diikuti sosok wajah jenaka Jack di belakang Jace.

"Kalian bisa melanjutkan acara berpelukan itu nanti. Lebih baik temui tamu kalian dahulu," ujar Jace.

"Guest? Who are they?" tanyaku penasaran. Aku, Mama dan Papa saling memandang satu sama lain. Tebakanku mengarah kepada...

"Guest of honor. They are Alcander's family," jawab Jace sambil berlalu dari hadapan kami.

Aku memasang wajah datar. Sudah kuduga pasti keluarga itu lagi. Pasti mereka akan membahas tentang pernikahanku dengan Leandro. Argh, apakah aku bisa menghilang dari dunia ini? Jika bisa, aku akan pergi ke tanah Mesir saja.

"Oh, damn!" umpatku dengan kecil.

Tanpa disuruh, aku balik ke kamarku. Sementara, kedua orangtuaku menyambut tamu kami di ruang tamu. Hm, aku sangat penasaran apa yang akan mereka bahas.

Aku mengganti pakaianku menjadi yang lebih layak, karena pakaian yang kupakai untuk kuliah tadi, sudah terlihat kucel dan tak layak untuk menemui tamu.

"Sempurna," gumamku ketika aku mematut diriku didepan cermin besar. Aku juga mencuci wajahku sebelumnya, agar terlihat lebih fresh. Sangat tidak sopan jika aku menemui tamu dengan wajah kucel.

Ah, maksudku bukan menemui secara sengaja. Mungkin saja ketika aku menguping, tiba-tiba orang tuaku memintaku untuk ikut dalam pembicaraan itu.

Kemudian aku pun berjalan keluar kamar dan berjalan dengan langkah yang pelan agar tidak ketahuan. Disaat aku menuruni tangga dengan pelan, suara Jack dan Jace dari arah belakangku membuatku sontak terkejut.

"Apa yang kau lakukan, Kaylie?"

"Kau terlihat seperti maling, girl!"

Aku menghentikan langkahku dan menghembuskan nafas panjang. Aku menoleh ke belakang dengan datar dan mengangkat satu alisku. Sudah bagus niatku berjalan dengan pelan, dan dengan mudahnya, mereka menghancurkan rencanaku. Dasar kembar sialan.

"Kalian menghancurkan misiku," cibirku.

Aku pun berjalan dengan langkah normal menuju ruang tengah. Untungnya ruang tengah dan ruang tamu terletak berdekatan.

Aku menghempaskan bokongku di sofa ruang tengah dan meraih remote televisi yang terletak diatas meja. Aku menggonta-ganti siaran televisi.

Ah, kenapa tidak ada channel yang seru dan mengesankan sih!? Kenapa semuanya beritaaa!? Seketika aku mempunyai impian untuk membeli semua siaran televisi dan menyiarkan film Drama Korea atau pun film animasi.

"Sepertinya kau sangat bosan," timpal Jack yang baru saja datang dan membawa segelas teh es serta setoples kue. Dia meletakkannya diatas meja.

Aku hanya berdeham, kemudian mengambil toples berisi kue tersebut dan membuka penutupnya. Aku pun menyantap kue-kue tersebut.

Samar-samar aku mendengar pembahasan keluarga Leandro dan keluargaku tentang pernikahan kami kelak.

"Apakah Kaylie sudah siap untuk menikah dengan putraku, Leandro?" tanya seorang wanita dengan lembut yang kuduga pastinya Mamanya Leandro alias Mama Sonya.

"Ya, siap tidak siap, dia harus menikah," jawab Mamaku.

"Bagaimana kalau kita percepat pernikahan mereka menjadi minggu depan?" tawar Mama Sonya.

Uhukk! What.. the.. f*ck..? They're kidding me!?

*****

To be continued.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang