Jam 7 malam.
Boston, Massachutes.
Hanya ada dentingan antara sendok dan piring yang terdengar. Papa, Jack dan Jace fokus pada makanannya (ah, mereka memang tidak terlalu peduli padaku -_-) sementara Mama terus menyuruhku makan yang banyak. Sudah dipastikan dia merasa senang atas kehadiranku dan sehabis ini aku akan di terkam satu keluarga dengan berbagai pertanyaan.
Mungkin saja. Dan, yeah, aku harus menyiapkan jawaban yang tepat untuk mereka. Tidak mungkin 'kan, aku mengatakan bahwa aku kabur karena Leandro psikopat dan memilih menyelamatkan Azkeh—ah, wanita itu dari rengkuhan Leandro.
Selesai semuanya makan, aku langsung di seret oleh Jack ke ruang tamu. Jace dan Papa menyusul. Mama juga. Disana, aku duduk di sofa dan mereka memandangku dengan tatapan yang penuh banyak pertanyaan.
"Apa?" tanyaku bingung.
"Ceritakan bagaimana bisa kau berpikir untuk kabur dari rumah sejak sepuluh tahun yang lalu!" perintah Papaku dengan tangan yang terlipat. Dia duduk di sofa single yang terletak di kiri sofaku.
Aku menggaruh tengkuk yang tidak gatal. Sementara Mamaku sudah duduk di sebelah kiriku dan Jace di sebelah kananku. Sementara Jack duduk di pinggiran sofa sebelah Jace. Astaga Tuhan. Situasi macam apa ini? Aku merasa sedang berada di ruang sidang.
"Gimana ya.. eum.. gini.."
Aduh. Bagaimana aku akan menceritakannya? Aku melirik Jack. Meminta bantunya. Ya, sebelumnya aku sudah berbicara pada Jack dan hanya dia yang tahu kenapa aku bisa kabur dari rumah kala itu.
Kau tahu apa respon Jack? Dia hanya mengangkat kedua bahunya saja! Argh, adik tidak tahu diuntung.
"Ya.. Aku kabur kala itu karena sebuah permasalahan kecil yang mungkin tidak akan bisa kalian terima, bahkan aku-pun tidak bisa menerimanya. Lagipula itu sudah berlalu, apa gunanya kita membahas sekarang, Pa? Itu sudah tidak menguntungkan bagimu, bukan?" tuturku.
Terdengar helaan nafas dari Papaku. Dia memijat keningnya tanda dia pusing. Ya, semoga saja dia menerima jawabanku ini.
"Sepuluh tahun kau pergi dan selama itu juga, Mama-mu bertingkah gila. Untungnya dia tidak menjadi orang gila. Setiap hari, Mama-mu harus meminum pil penenang agar ia tidak terus menghisteriskan dirimu!" tutur Papa yang membuatku terkejut bukan main.
Aku menoleh pada Mama, sementara Mama melayangkan tatapan tajamnya kepada Papa.
"Apa yang kau katakan, Abbaron!?" tanya Mama.
"Apa!? Itu kebenaran, Acheva! Kita harus memberitahunya agar dia tidak bertingkah seenak jidatnya!" Papaku membela diri.
"Apa kau sudah gila!? Ck!" sinis Mama. Papaku hanya membuang wajahnya.
Astaga.
Ternyata aku sejahat dan sebodoh itu ya? Bagaimana bisa dulu aku kabur karena masalah kecil tanpa memikirkan dampaknya pada keluargaku? Aku merasa amat bersalah kepada Mama. Aku memandangnya dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku. Aku.. tidak tahu.. ini akan terjadi.. seperti ini, kepada kalian..," ucapku penuh sesal. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku dan siap untuk jatuh bak air terjun yang jatuh dari ketinggian.
"Hey.. No.. No.. Kau tidak salah, sayang. Tidak apa. Mungkin memang harusnya jalan takdir kita seperti ini. Sudah, jangan menangis!" ujar Mama. Ia menarikku ke dalam pelukannya. Aku terisak.
"Tidak, tidak. Aku salah. Aku yang salah! Seharusnya aku tidak bertingkah kekanak-kanakkan seperti itu!" Aku bersikukuh.
"It's okay. No problem. Aku memaafkanmu! Yang terpenting, kau sudah ada disini, Kaylie..," kata Mama sambil menenangkan diriku.
Dalam pelukannya, tangisanku deras bukan main. Aku merasa sangat bersalah kepadanya. Mungkin memang seharusnya saat itu aku tidak pergi begitu saja yang membuatnya mau tak mau harus meminum pil penenang diri selama 10 tahun. Mungkin memang benar apa kata Papaku. Seharusnya aku tidak boleh bertingkah seenak jidat atau bertingkah tanpa memikirkan dampaknya kepada yang lain.
"Sudahlah. Berhenti menangis! Aku tidak mau melihat putri mahkotaku menangis lagi!" perintah Mama. Ia melepaskan pelukannya, lalu melihat wajahku yang tampak buruk karena menangis. Sambil tertawa, ia mengelap air mataku yang masih mengalir.
"Sebaiknya kau segera tidur. Kau pasti kelelahan selama perjalanan tadi bukan? Ayo tidur! Aku akan menceritakan sebuah dongeng dari Skotlandia kepadamu. Bagaimana menurutmu, Kaylie?" tawar Mama sambil tersenyum.
Aku mengangguk kecil, lalu aku dan Mama pun berjalan menuju kamarku yang terletak di lantai dua. Ditengah tangga, aku memandang Jack, Jace dan Papaku sedang memandang kami berdua. Hanya saja mereka memiliki pandangan yang datar alias tanpa ekspresi. Ah, terkecuali Jack. Wajahnya selalu saja jenaka, tidak pernah berubah sedikitpun.
Sesampainya di kamar, aku terkesiap memandang isinya. Masih.. tampak.. sama.. seperti kamarku 10 tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah, kecuali beberapa barang-barangku yang masih berserakan di lantai. Aku terlalu lelah untuk mengemaskannya pada hari ini.
Ya, semenjak aku datang tadi, aku tidak ada memasuki kamar. Yang menaruh barang-barangku di kamar tadi adalah Jack dan Jace. Sementara Mama mengajakku mengobrol terus. Melepas rindu istilahnya.
Aku dan Mama telah berbaring bersebelahan di tengah ranjangku. Ia sudah mulai menceritakan sebuah dongeng dari Skotlandia yang pernah ku dengar saat mengikuti seminar dongeng anak-anak di Venesia. Ya, aku mengetahui dongeng Skotlandia tersebut hanya saja tidak secara spesifiknya karena waktu seminar dongeng anak-anak, saat itu kami hanya mengulas isinya saja. Dan aku memperhatikannya kurang baik. Hehe.
Belum sampai sejam, mataku sudah terasa berat dan tubuhku mulai melemah. Aku terasa mengantuk. Tak lama kemudian, semuanya tampak gelap dan sunyi.
***
Jam 8 pagi.
Keesokan harinya...
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan yang nyaring itu berhasil membuatku terbangun dari mimpi yang sangat indah menurutku.
Di mimpi itu, aku menjadi seorang dewi dalam mitologi Yunani. Yaitu Dewi Athena.
Astaga. Terlalu tinggi ya mimpiku itu.
Aku bangun dengan perasaan kesal. Sinar mentari bahkan telah lolos memasuki kamarku melalui ventilasi udara di kamar. Udara pagi di kota Boston yang sejuk pun sudah mengisi ruang kamarku.
Saat ini sedang musim semi dan itu sangat menyenangkan sebenarnya bagiku. Tapi rasanya aku ingin bermanja saja hari ini. Akhirnya, aku memilih mengabaikan ketukan pintu tersebut dan bersembunyi di balik selimut tebalku.
Dan sepertinya aku memang orang yang berdosa. Baru kemarin aku membuat Papa marah dan aku juga merasa menyesal, tetapi hari ini aku mulai berlayak tidak tahu diri. Jangan contoh sikapku, ya? Aku memang orang gila.
Tak lama kemudian, aku merasa ranjangku bergoyang. Ah, bukan bergoyang, tetapi ranjangku seperti bergerak begitu walau kecil rasanya. Lebih baik ku cuekkan saja.
"Apa kau akan terus tertidur seperti putri tidur dalam dongengnya?" tanya seseorang yang membuat ranjangku bergerak.
Siapa dia? Kenapa suaranya terasa familiar di telingaku. Ku singkap selimut yang menutupi seluruh tubuhku, lalu memandang si pemilik suara walau terasa samar dalam mataku.
"Siapa kau? Dan apa yang kau lakukan di kamarku?" tanyaku pelan. Nyawaku belum terkumpul sempurna.
"Kekasihmu," jawabnya.
Aku terdiam. Kekasih? Siapa? Aku tidak pernah menjalin hubungan sebelumnya. Aku berpikir keras siapa yang dimaksudnya. Hingga akhirnya satu nama tertera jelas di pikiranku.
"Leandro..?"
*****
To Be Continued.
Halo semuanya. Aku lagi ulangan umum nih, doain semoga nilaiku bagus-bagus semua, ya! Untuk kalian yang juga lagi ulangan, semoga nilai kita semua bagus dan diatas ketuntasan semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
MINE IS TERRIBLE [ END ]
Romance[ 01 Juli 2019 - 10 Januari 2021 ] Ini tentang Amoureyza Kaylie yang harus menerima perjodohannya dengan Leandro Alcander, seorang pria yang memiliki berbagai perusahaan dimana-mana dan banyak wanita yang menyukainya. Demi perusahaan keluarganya. Na...
![MINE IS TERRIBLE [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/192551428-64-k502273.jpg)