CHAPTER 71

4.3K 182 0
                                        

Aku bangun dari tidur pulasku. Alias aku juga telah sadar dari mimpi indahku yang begitu menyenangkan hati. Ya, sebenarnya kalau saja angin pagi kota Venesia tidak memasuki kamarku dan menyentuh kulit ku dengan lembut, aku tidak akan terbangun.

Sebentar. Apa aku mengatakan 'angin pagi kota Venesia yang memasuki kamarku'? Sepertinya iya. Ya! Tentu saja aku mengatakannya. Bagaimana bisa angin memasuki kamarku? Padahal kamarku adalah kamar yang sangat tertutup. Apa mungkin Leandro?

Aku bangkit dari posisi baring dan memutar pinggangku ke kiri dan ke kanan secara pelan. Telingaku menangkap suara retakan kecil. Ah, itu pasti dari tulangku. Hahaha.

"Apa kau su-"

Ucapanku terpotong saat melihat sosok Leandro tidak ada lagi di sampingku. Aku terkejut. Aku mencari sosok Leandro ke seluruh penjuru kamar, tapi tetap tidak ada. Apakah dia sudah pulang? Jika iya, maka aku akan bersenang hati. Akhirnya aku bisa merasakan kesendirian di rumah. Tetapi, sebagin hatiku, tidak rela jika ia sudah pulang.

Dan, jika Leandro sudah pulang, siapa yang membuka jendela? Apa dia membukanya, lalu pergi begitu saja setelah apa yang ku lakukan tadi malam? Ya, aku merawatnya dan itu adalah sebuah tindakan.

"Ah sudahlah. Lebih baik aku turun dan sarapan."

Sambil mengikat rambut ku menjadi satu, aku pun beranjak dari ranjang dan berjalan menuju keluar kamar. Pintu kamar ku tutup agar nyamuk tak memasukinya. Aku tidak suka jika ada nyamuk yang masuk ke dalam kamarku. Itu mengundang penyakit untuk ku.

Saat menuruni anak tangga dengan pelan karena nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, aku di kejutkan dengan sosok seorang pria bertelanjang dada alias dia hanya memakai celana panjang saja, yang duduk santai di sofa ruang tengah. Bisa di tebak oleh kalian. Dia Leandro, okey.

Diatas meja ruang tengah, ada satu nampan yang berisikan semangkuk bubur dan segelas teh hangat. Dan keduanya masih utuh. Untukku? Atau bukan? Semoga saja untukku. Sejak malam, perut ku terasa kosong. Well yeah, aku belum mengisinya sejak Leandro datang.

"Akhirnya kau bangun," ujar Leandro. Aku tersenyum tipis dan menghampirinya.

"Kau yang membuatnya?" tanyaku sambil melirik dua benda dalam nampan.

Leandro mengangguk. "Just for you," katanya. "Aku tahu, kau belum makan sejak kemarin. Sejak aku datang. Kau terlalu fokus mengurus diriku yang sakit daripada mengurus dirimu sendiri. Kau tahu? Aku tak menyukainya jika kau tak peduli dengan tubuh kurusmu itu," omelnya yang menurutku terkesan lucu.

Aku terkekeh mendengar omelannya yang panjang lebar itu. "Terima kasih, Lean," ucapku.

Wait. Aku.. memanggilnya.. Leandro dengan sebutan Lean? Kenapa bisa itu tercetus begitu saja dari mulutku? Astaga, Kaylie. Kau bisa membuat Leandro menjadi tergila-gila padamu jika kau menyebut sepenggal depan namanya. Ku lihat Leandro yang sama terkejutnya denganku.

"Wow. I was surprised to hear that," ucap Leandro yang seakan-akan itu sebuah keajaiban dimatanya.

Aku hanya memutar bola mataku sembari mendenguskan nafas dengan kasar. Lalu, aku mengambil mangkuk bubur itu dan mengaduknya. Aku pun menyantapnya dengan lahap. Mataku melirik kearah Leandro yang saat ini tengah menatapku dengan seksama. Entah apa yang dilihatnya.

"Ehm. Apakah ada yang aneh denganku? Hm?" tanyaku. Aku menoleh kearahnya dan memiringkan kepalaku.

"Kau.. tampak seperti seekor babi yang kelaparan," jawabnya tanpa dosa.

Aku melototkan mataku kearah Leandro, terkejut atas jawabannya. Sialan.

"Brengsek!" umpatku.

"Jangan mengumpat, sweetie," tegurnya.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang