CHAPTER 54

5.3K 236 12
                                        

Jangan lupa berikan vote dan tinggalkan jejak komentar. Oh ya, jangan lupa bagikan cerita ini ke teman-teman kalian!

Happy reading!

*****

Azkeh sudah pergi bekerja sejak dua jam yang lalu. Dan kini, yang tersisa di rumah hanyalah aku dan Sakura. Entah apa yang dilakukannya di rumah.

Sekali waktu, aku pernah bertanya kenapa dia tak bekerja dan alasannya sangat simpel. Capek. Alasan macam apa itu? Alasan yang sama sekali tak ada logikanya.

"Kau tak bekerja, Sakura?" tanyaku membuka percakapan daripada tak ada percakapan sama sekali diantara kami.

"Aku bekerja dari rumah," jawab Sakura santai. Aku hanya memutar bola mataku dan kembali terpaku dengan naskah ceritaku di laptop.

Takk.

Secangkir kopi tergeletak di sebelah laptopku. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat Sakura yang tersenyum memandangku.

"Terima kasih," ucapku.

Ketika jariku menyentuh badan cangkir, rasa panas mulai menelusuri tulang-tulangku. Aku terkejut dan menarik tanganku.

"Ah, panas!" pekik ku sedikit keras.

"Tentu saja. Aku baru saja membuatnya," ucap Sakura kesal.

"Kenapa tidak kau berikan es batu ke dalamnya?" tanyaku.

"Mengapa aku harus menurutimu?" balas Sakura. Aku memandangnya dengan datar.

Dia pun berjalan menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Aku mendenguskan nafasku dan bangkit dari posisi duduk ku. Aku berjalan menuju dapur, kemudian menghampiri kulkas.

Ketika ku buka kulkas, hawa dinginnya menyentuh kulit wajah ku dengan lembut. Oh, aku sangat menyukai ini, teman. Rasanya seperti sedang berada di Antartika atau mungkin sedang dalam musim dingin. Oke, aku mulai melantur yang tidak-tidak.

Aku mengambil botol yang berisikan air dingin dan membawanya menuju tempatku sebelumnya. Sesampainya, aku menuangkan air dingin tersebut ke dalam cangkir kopiku.

Yeah, setidaknya itu bisa menghilangkan sedikit rasa dinginnya daripada tidak. Mungkin kedengarannya tidak baik untuk kesehatan atau aku terlihat aneh, tapi percayalah, itu sangat betul.

Apalagi aku ini tipe orang yang menyukai minuman dingin daripada tidak. Kecuali sedang dalam kondisi tak sehat, barulah aku menyukai minuman berhawa panas atau pun hangat.

Aku kembali duduk dan fokus dengan naskah cerita yang tertulis di laptopku.

Yeah, dalam minggu ini, aku harus menyelesaikan naskahku. Di bulan ini, sekiranya aku harus menerbitkan buku kelimaku. Sebagian naskahku kemarin sudah ku berikan pada Arthur. Dan sebagiannya sedang dalam proses.

Ayolah, menulis naskah tidak semudah membalikkan telapak tanganmu, teman. Butuh ketelitian dan imajinasimu. Tidak ada imajinasi, naskah berhenti. Sampai imajinasimu muncul lagi.

Drrrttt. Drrrrttt. Drrrrtttt.

Ponselku bergetar hebat sebab ada seseorang yang menelpon. Aku melirik dan nama Arthur yang tertera di layar ponselku. Ada apa dengannya sehingga harus menelponku pagi hari?

Karena penasaran, aku meraih ponselku dan menerima telepon dari pria tampan berdarah Eropa itu.

"Well, aku sedang sibuk. Katakanlah, ada apa?" Aku mengapit ponselku dengan telinga dan bahu, kemudian melanjutkan mengetik di laptop.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang