CHAPTER 48

5.5K 204 4
                                        

Setelah mengatakan bahwa aku sudah memutuskan untuk kabur ke Eropa, Sakura terus-terusan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan. Azkeh yang mengetahui negara mana yang akan kami tinggali hanya bisa diam dan menuruti.

"Kenapa harus Eropa? Memangnya kau bisa bahasa Eropa? Memangnya ada kerabatmu disana? Dan, apa kau hapal tempat-tempat di Eropa? Dan, negara mana yang akan kita datangi?" tanya Sakura bertubi-tubi.

Aku yang sedang mengemaskan koperku sebab baru saja aku mengobrak-abriknya mencari pakaian santai untuk berpergian, langsung mendengus kesal mendengar pertanyaan Sakura yang tiada habisnya.

"Oke, kita akan.. Azkeh, kau dengarkan aku dulu!" tegurku pada Azkeh yang sedang asik bermain hamster peliharaan Sakura, yang sekarang dimana hamster itu sedang berlarian dalam roda kecil di dalam kandang kecilnya.

"Aku selalu mendengarkanmu, Kaylie," sahut Azkeh.

Aku memutar bola mataku malas dan melanjutkan perkataanku, "Eropa adalah negara yang sangat minim adanya anak buah maupun kerabatnya Leandro."

"Kita akan ke negara Venesia, negara yang pernah menjadi tempat tinggalku sewaktu kecil. Aku lupa sewaktu aku berumur berapa," sambungku yang menjadi alasanku memilih Venesia sebagai tempat persembunyian kami.

Sakura mengangguk-angguk tanda paham. Ya, setidaknya itu bisa mengusir rasa penasarannya. Untungnya dia segera mengemas semua pakaiannya dan pakaian kepunyaan Azkeh.

Sakura selesai dari acara kemas-mengemasnya, begitu juga dengan aku dan Azkeh.

"Sudah siap?" tanya Sakura memastikan kesiapan kami. Aku dan Azkeh mengangguk mantap.

"Kita menuju bandara, saat ini juga," kata Sakura. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya dengan menempelkan telapak tangannya di tengah pintu. Pintu pun terbuka otomatis.

Tampak tiga orang pemuda tampan, salah satunya Pengawal Yuan, berdiri menyambut kami. Sakura memerintahkan kedua pengawal lainnya membawakan koper milikku dan milik Azkeh. Sementara, Pengawal Yuan membawa koper milik Sakura.

"Kalian berdua gunakan lift pegawai. Pengawal Yuan ikut denganku!" titah Sakura yang langsung di laksanakan, ketika kami sudah berada didepan lift.

Kedua pengawal itu pun memasuki lift pegawai. Sementara, kami berempat-aku, Sakura, Azkeh, dan Pengawal Yuan-menggunakan lift majikan mungkin sebutannya.

"Yuan, pesan tiket pesawat kelas VVIP. Penerbangan menuju Venesia, Eropa. Atas nama Uzume, Artemis, dan Hathor," pinta Sakura.

"Kenapa harus memakai nama samaran, Nona?" tanya Pengawal Yuan.

"Untuk kabur dari monster besar di Boston. Sembunyikan semua identitas kami. Hapus semua jejak tentang kami!" perintah Sakura lagi.

"Hei, nama samaran yang waras sedikitlah! Kenapa harus memakai nama dewa-dewi, Sakura? Orang-orang akan merasa aneh dengan nama kita yang seperti dewa-dewi terdahulu!" protesku.

Sangat tak masuk akal memakai nama-nama dewa-dewi terdahulu. Ralat, hanya nama seorang dewi. Aku mengetahuinya bahwa itu adalah nama seorang dewi sebab aku penyuka sejarah kuno.

"Sudahlah, demi identitas juga. Sesampainya di Eropa, kita akan cari nama yang baru lagi," tukas Sakura.

"Terserah padamu saja!" finalku.

"Anggap saja bahwa kita adalah keturunan dewa-dewi," sahut Azkeh. Aku menoleh kearahnya dan memutar bola mataku dengan malas.

"Aku menyukaimu, teman," tukas Sakura dengan senyuman lebarnya.

Akhirnya, kami pun sampai di lantai dasar villa dan menunggu mobil disiapkan oleh Pengawal Yuan.

"Nona, tiket pesawat sudah saya pesan dan mobil siap mengantar Nona dan teman-teman Nona ke bandara saat ini juga," ujar Pengawal Yuan.

Kami pun berpamitan dengan pengurus villa kemudian masuk kedalam mobil. Pengawal Yuan menjadi pengantar kami.

"Kita berangkat, Para Nona!" ucap Pengawal Yuan memberitahu. Kami mengangguk bersamaan dan mobil pun berjalan menuju jalan raya kota Springfield.

Tidak ada percakapan diantara kami. Semuanya larut dalam pemikiran masing-masing, kecuali Sakura yang sedang tertidur pulas dan dia larut dalam mimpinya.

***

To be continued.

MINE IS TERRIBLE [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang