Disinilah Jilan berada. Di rumah sakit. Setelah melalui perdebatan yang diakibatkan oleh Riana-si tua bangka. Riana lah yang menyuruh agar Jinan dirawat di rumah saja. Namun, Jilan yang tak tahan melihat wajah kesakitan Jinan membawa kembarannya itu langsung menuju mobil tanpa persetujuan Sofyan sekalipun. Jilan tak peduli, kalau terjadi apa-apa pada Jinan emangnya Riana mau tanggung jawab?
Dan didepan ruang rawat Jinan, cewek itu sedang diperiksa. Sedari perjalanan kesini pun Jinan selalu memegang dadanya seraya berucap 'lailaha illalah.' Jilan pun yang mendengarnya naik pitam, ia kira Jinan akan pergi.
Sekilas Jilan melirik kearah mamanya yang menangis di pelukan Sofyan. Wanita itu hanya memandang kosong kedepannya dengan air mata yang terus mengalir seolah nggak bisa di kondisi kan.
Riana, wanita itu sok-sokan khawatir. Jilan menatapnya jengah. Coba saja kalau Jinan tidak dibawa ke rumah sakit hanya untuk mengikuti ucapan si tua bangka itu, pasti sudah terjadi apa-apa pada Jinan.
Malam sudah datang, Juna pun sudah tertidur di atas kursi yang disediakan. Jilan jadi takut. Ada apa dengan Jinan yang sebenarnya? Akhir-akhir ini, Jilan melihat Jinan yang mudah lelah dan sakit di bagian dadanya. Jilan pikir itu hanya biasa namun, mengingat kondisinya yang tadi, Jilan tak tega.
"Pak, gimana keadaan anak saya?" Saking asyiknya melamun Jilan tak sadar kalau dokter yang menangani Jinan sudah keluar.
"Bisa kita berbicara secara bersama?" Ochi dan Sofyan kompak mengangguk lalu berdiri mengikuti langkah sang dokter.
Jilan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Kenapa harus seperti itu? Kenapa tak to the point saja? Jilan juga ingin mendengar kabar kembarannya itu. Gimana keadaan Jinan? Sebab jika nanti Jilan bertanya pada Ochi maupun Sofyan keduanya tak akan menjawab alias menyembunyikannya.
"Apa lihat-lihat?" Jilan mencolokkan matanya pada Riana yang menatapnya sinis.
"Yang sopan kamu jadi cucu."
***
Sekujur bada Jilan terasa remuk. Tak terasa ternyata sudah pagi saja. Jilan mengedarkan pandangannya ke seluruh lorong rumah sakit. Ternyata ia dan Juna tertidur di kursi rumah sakit. Jilan teringat disaat mama dan papanya dipanggil dokter, Jilan bahkan rela menunggu nya berjam-jam. Namun, kantuk datang tak bisa mengalahkannya dan terpaksalah Jilan tertidur di atas kursi di samping Juna.
Jilan menggoyangkan badan Juna yang masih saja ngebo di waktu yang tak tepat. Berulang kali Jilan membangunkan nya masih belum ada tanda bangun dari Juna. Kemana si tua bangka? tanya Jilan dalam hati. Perasaan saat Jilan tertidur si tua bangka masih disini.
Penuh kesabaran, Jilan kembali menggoyang tubuh Juna yang tertidur seraya memeluk tangannya. "Bangun deh, Jun!" Kalau berteriak Jilan takut karena ini di rumah sakit, bukan di rumah mereka.
"Engh, apa sih Kak?" tanya Juna kesal mengucek matanya yang memerah.
Jilan berdecak, diliriknya jam tangan yang melilit di pergelangan tangan Juna. Pukul 06.05 pagi. Apakah Jinan bersekolah? Kalau boleh memilih Jilan ingin bolos.
"Jinan udah sadar?"
"Lah, kan Kak Jinan nggak pingsan. Dia sadar-sadar aja kan semalam?" tanyanya balik.
Jilan menggeram kesal. Percuma tanya sama orang tolol! "Mama dimana?"
"Kan gue baru bangun!" jawab Juna kesal.
Pintu ruangan Jinan terbuka, terlihatlah Ochi dengan wajah yang sembab, ada bekas air mata di pipinya. Ada apa dengan Jinan? Apakah kembarannya baik-baik saja. Walaupun Jilan selalu kesal dengan Jinan, tetapi jauh dari lubuk hati terdalam ia sangat menyayangi Kakak kembarnya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIFFERENT TWINS [ END ]
Fiksi RemajaJilan Agatha. Sifatnya susah diatur dan tak mau diatur, berbanding terbalik dengan kembarannya. Jilan panggilannya, kelakuannya jauh dari kategori 'baik.' Pulang malam sudah menjadi rutinitas rutin dalam hidupnya. Mempunyai saudari kembar yang tak...
![DIFFERENT TWINS [ END ]](https://img.wattpad.com/cover/251565503-64-k922166.jpg)