Hari minggu yang cerah digunakan Varsha untuk berolahraga. Gadis itu telah siap membawa sepeda miliknya berjalan-jalan. Perlahan, Varsha mengayuh sepedanya keluar dari rumah. Kedua telinganya tersumpal earphone. Sepanjang jalan, Varsha tidak henti-hentinya bersenandung. Sesekali tersenyum dan menyapa orang yang dilaluinya.
Menyusuri jalan di dekat kompleks perumahan tempatnya tinggal, Varsha tanpa henti mengayuh sepeda berwarna hitam miliknya. Hangatnya sinar mentari yang menerpa punggung membuat Varsha semakin bersemangat.
Merasa aneh, Varsha menghentikan laju sepeda. Dia menoleh ke belakang. Entahlah, namun firasatnya mengatakan ada yang tengah mengikutinya.
Varsha mengedikkan bahu tak acuh. Mungkin dia salah.
Varsha kembali menjalankan sepeda miliknya. Mulutnya kembali bersenandung. Kepalanya menoleh ke kanan kiri melihat aktivitas di sekitarnya, mulai dari yang tengah membuka toko, berjalan ke pasar, dan lainnya.
“Pa! Aku mau balon!”
Pandangan Varsha beralih pada seorang anak perempuan kecil digendongan lelaki dewasa yang merupakan ayahnya. Anak perempuan itu merengek sambil menunjuk balon yang terikat di sepeda penjualnya.
“Iya, sayang. Kamu mau yang mana?” tanya ayah anak itu sambil mengusap rambut putrinya.
“Yang gambar doraemon!”
Varsha tersenyum miris. Entah kapan terakhir kali Varsha pergi bersama daddy. Entah kapan terakhir kalinya Varsha merengek meminta barang kepada daddy. Entah kapan terakhir kalinya Varsha bisa memeluk daddy. Daddy terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai tidak ada waktu untuknya.
Mengabaikan semua itu, Varsha menarik senyum di kedua ujung bibirnya.
Varsha mengusap peluh yang mengalir di pelipisnya dengan menggunakan punggung tangan. Varsha menatap jam tangannya. Tanpa Varsha sadari ternyata sudah satu jam dia bersepeda.
Varsha mempercepat laju sepedanya hingga ke sebuah warung tepi jalan. Setelah memarkirkan sepedanya di depan warung, Varsha masuk ke dalam.
“Eh, Neng Varsha. Mau sarapan?” tanya ibu-ibu pemilik warung ketuka melihat kedatangan Varsha.
“Iya, Bu. Yang kayak biasa ya.”
“Siap, Neng!”
Varsha mencuci tangannya di wastafel yang tersedia di pojok warung lantas duduk di kursi kayu panjang di depan lemari kaca berisi aneka macam makanan.
“Ini, Neng.”
Varsha berdiri untuk mengambil makanan pesanannya yang diulurkan ibu pemilik warung di atas etalase kaca. “Makasih, Bu.”
Varsha mulai menyantap sarapan paginya. Nasi setengah porsi dengan telur kecap dan sayur kangkung. Varsha seringkali makan di warung tersebut, setiap kali dia bersepeda di sekitar sana.
Beberapa menit berlalu, makanan Varsha tinggal seperempat. Tapi, lagi-lagi dia terasa ada yang tengah mengawasinya. Menoleh ke luar melalui kaca jendela warung tersebut. Nihil, tidak ada orang.
Varsha segera menghabiskan makanan miliknya kemudian meneggak segelas air. Varsha beranjak. Dia meletakkan gelas dan piring kotor yang dia gunakan di atas etalase makanan. Tak lupa uang untuk membayar sarapan di sampingnya.
“Ini, Bu. Saya pamit dulu.”
“Iya, Neng. Makasih.”
Varsha mengangguk singkat. Sekeluarnya dari warung, Varsha terus mengedarkan pandangan. Tidak menemukan apapun, Varsha segera melajukan sepeda untuk segera pulang. Cukup merasa paranoid dengan firasatnya sendiri. Varsha mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi. Sesekali menoleh ke belakang.
“Meong!”
Dua ekor kucing melesat di depan sepeda Varsha. Mau tak mau, Varsha menarik habis rem sepedanya. Tak ayal, sepeda itu terjatuh begitu juga pemiliknya. Varsha jatuh terduduk.
Varsha menepuk kedua telapak tangan yang terkena debu dan kerikil kecil.
“Lo nggak papa?”
Varsha menoleh ke samping. Seorang cowok berjongkok di sampingnya.
“Al?” Kedua alis Varsha menukik. Heran.
Al tersenyum tipis.
“Lo nggak papa?” ulang Al.
“Eh eng-enggak. Aku nggak papa kok.” Varsha tersenyum.
Al mengangguk singkat. Kepalanya menoleh pada sepeda Varsha yang tergeletak begitu saja. Matanya tertuju pada rantai sepeda Varsha yang putus.
“Rantainya putus,” ucap Al pelan.
“Kamu kok ada di sini?” Varsha tidak dapat lagi menahan rasa penasarannya. Rumah Al cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang.
“Kebetulan lewat.”
Tak puas dengan jawaban Al, Varsha menatap Al curiga. Keningnya berkerut. “Yakin? Nggak ngikutin aku dari tadi?”
Al terdiam sebentar. “Nggak.”
Kening Varsha semakin berkerut. “Yakin?”
“Nggak,” decak Al.
Varsha menunduk. “Iya iya percaya. Mana mungkin kamu ngikutin aku, buat apa. Lagian kamu bukan aku yang suka ngikutin orang.” Varsha menoleh pada Al lantas menunjukkan deretan bibirnya.
Al tidak menghiraukan ucapan Varsha. Dia beridri lantas mendirikan sepeda Varsha. Varsha bangun sendiri.
Teringat sesuatu, Varsha menatap jam tangannya.
“Aku harus pulang sekarang,” ucap Varsha.
“Kenapa?”
“Ada photoshot bentar lagi. Aku harus cepet-cepet mandi terus pergi.” Varsha melirik sepedanya. “Pake putus lagi rantai sepedanya.”
Al mengedarkan pandangannya lantas berhenti pada sebuah toko di seberang jalan. Tanpa mengatakan apapun, Al membawa sepeda itu ke sana. Varsha hanya mengikuti Al lewat tatapan matanya.
Al terlihat berbincang dengan pemilik toko. Setelah itu, menelpon seseorang. Semuanya tak luput dari tatapan Varsha. Al kini kembali menemui Varsha.
“Ikut gue.” Al berjalan menuju motornya yang terparkir tak jauh di belakang Varsha. Varsha mengikutinya.
Al menaiki motornya lantas menoleh pada Varsha yang terdiam di sampingnya. “Ayo naik.”
Varsha mengulum bibir bawahnya sendiri lantas menggeleng pelan. “Aku bau loh, Al. Keringetan. Belum mandi,” ucap Varsha sambil menunduk.
Al menghela napas pelan. Cuma keringet, kan? Bukan kena bangke?
“Nggak masalah. Ayo naik, katanya buru-buru,” ucap Al.
“Beneran?” tanya Varsha memastikan.
“Iya, Varsha. Ayo, keburu telat.”
Varsha mengangguk pelan. Dia segera duduk di belakang Al.
***
Sesampainya di depan teras rumah Varsha, Varsha turun dari motor Al. Senyum tercetak jelas di bibir Varsha. Iris mata hitamnya tertuju penuh pada Al.
“Makasih ya, Al, udah mau anterin aku pulang,” ucap Varsha ceria.
Al hanya mengangguk singkat.
“Aku masuk dulu ya,” ucap Varsha yang lagi-lagi diangguki oleh Al.
Varsha berjalan memasuki rumah. Setelah pintu tertutup, Varsha berlarian menaiki tangga marmer spiral menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Buru-buru, Varsha membersihkan badannya di kamar mandi.
Setelah beberapa menit bersiap, kini Varsha berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Menatap pantulan tubuhnya yang dibalut dress navy selutut berlengan pendek dengan dipadukan hells yang cukup tinggi. Tak lupa riasan di wajahnya.
Varsha tersenyum melihat penampilan dirinya yang sudah sempurna.
Varsha menyambar tas di meja rias. Dia berjalan cepat keluar dari kamarnya.
“Non, Non Varsha sudah sarapan?” tanya seorang perempuan dewasa yang merupakan asisten rumah tangga di rumah Varsha saat Varsha berada di anak tangga terakhir.
“Udah, Bi, tadi di warung. Varsha pergi dulu ya.”
Art tersebut tersenyum mengiyakan. Varsha kemudian berjalan meninggalkan art tersebut.
Sebelum membuka pintu rumah, Varsha membuka resleting tas miliknya. Sembari mencari kunci mobil di dalam tasnya, Varsha membuka pintu. Varsha tidak menghentikan langkahnya.
Setelah menemukan kunci mobilnya, Varsha mendongak. Keterkejutan tidak dapat disembunyikan Varsha lagi saat melihat Al masih berada di teras. Dia duduk di atas motornya sendiri.
“Loh Al? Kok kamu masih ada di sini. Aku kira kamu udah pulang.”
Al terdiam. Jujur, dia bingung mau menjawab apa.
“Kenapa masih ada di sini?”
Al masih saja diam. Masih tidak tahu harus menjawab apa.
DrrttDrrtt
“Bentar.” Varsha mengambil ponsel yang berada di tas lantas mengangkat sambungan telepon yang masuk ke ponselnya.
“Halo… Iya iya, ini udah mau jalan. Bentar lagi nyampe,” ucap Varsha. Sesaat kemudian, sambungan itu terputus. Varsha menoleh pada Al.
“Al, maaf ya, aku harus pergi sekarang,” ucap Varsha.
“Gue anter ya,” ucap Al.
“Ha?” Varsha menatap Al cengo. Varsha mengerjapkan mata beberapa kali. Matanya mengerjap menggemaskan.
“Kamu mau anter aku?” tanya Varsha memastikan. Dia heran.
Al mengangguk dan mengulurkan tangannya. “Gue aja yang bawa mobil.”
Ragu-ragu, Varsha menyerahkan kunci mobilnya. Otaknya masih loading. Bingung.
Kesadaran Varsha baru kembali saat Al berjalan mendekati mobilnya yang terparkir di depan rumah. Tanpa dapat Varsha cegah, senyumnya mengembang.
Dengan langkah pelan, Varsha memasuki mobilnya. Setelah memberitahu alamat yang hendak Varsha tuju, Al melajukan mobilnya. Sepanjang perjalanan, senyum Varsha tidak kunjung pudar. Kepalanya terus menoleh ke samping. Menatap Al yang fokus menyetir. Hati Varsha terasa begitu hangat.
***
See u
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvarsha
FantasíaSetelah kedatangan Varsha Callista Valencia, Alfarellza Keandre Asvathama harus terjebak dengan gadis cantik yang terus mengejar dirinya tanpa malu tapi sialnya gadis itu justru selalu membuat hatinya menghangat. Tapi Al tetaplah Al. Bagi dirinya...
