15. Buka Hati?

1.3K 175 12
                                        

Bohong jika Al tidak merasa bersalah setelah mengatakan kalimat menyakitkan beberapa waktu yang lalu pada Varsha. Nyatanya, selain rasa bersalah ada rasa lain yang terasa di hatinya, rasa sakit yang seharusnya tidak dia rasakan.

Mata hazel milik Al menyorot lurus ke bawah dimana Varsha tengah berjalan bersama Salsa, Vela, dan Gisel. Mereka berjalan di sisi lapangan sambil mengobrol.

Mata Al menyipit melihat senyuman yang Varsha tampilkan saat mengobrol dengan teman-temannya. Senyuman seperti biasa yang Varsha tunjukkan seakan dia baik-baik saja.
Padahal beberapa menit yang lalu, Varsha baru saja menangis. Dan itu karena dirinya.

Yang berkata kasar pada Varsha itu Al. Yang merasa sakit hati juga Al. Apa yang terjadi pada Al?

"Nih."

Sebuah kaleng minuman disodorkan di depan Al. Al melirik orang yang memberikan minuman itu lantas mengambilnya.

Ares. Cowok itu membuka penutup kaleng lantas menenggak isinya. Begitu juga dengan Al.

"Lo sendiri yang ngerti gimana perasaan lo sama Varsha," ucap Ares. Sama seperti Al, kini mata Ares juga menyorot pada Varsha yang masih sibuk mengobrol sambil berjalan.

"Jangan selalu menyangkal perasaan lo sendiri."

"Gue nggak suka sama Varsha," ucap Al dingin.

"Lo yakin?" Mata Ares memicing tak percaya. Al terdiam.

"Gue takut nggak bisa bahagiain dia."

"Lo nggak akan tau sebelum lo nyoba. Kesempatan nggak akan datang dua kali. Perbaiki sekarang sebelum lo nyesel nantinya."

"Izinin Varsha buat masuk ke hati lo."

"Bener tuh! Lo itu sebenernya suka sama Varsha, cuma lo-nya aja yang nggak izinin dia buat masuk lebih dalam ke hati lo," sambung Erlang yang sudah berada di sisi Al bersama dengan Azzam.

"Nguping lo," ucap Ares.

"Kan, gue punya kuping, sayang kalo nggak dimanfaatin."

"Terserah," ucap Ares malas. Dia berjalan memasuki kelasnya yang berada tepat di belakangnya.

Erlang menatap ke arah Varsha sesaat sebelum gadis itu lenyap tak terlihat lagi karena memasuki koridor bawah.

"Cewek kayak Varsha itu limited edition tau. Sayang kalo dilewatin."

"Heh, lo nggak naksir dia, kan?" tanya Azzam.

"Nggaklah! Gue nggak suka main tikung!"

Azzam menoleh pada Al. "Lagian lo sukanya yang kayak gimana? Amara ditolak Varsha ditolak. Lo nggak homo, kan?"

"Nggaklah!" decak Al.

"Mana buktinya?" Azzam tersenyum miring. Al sendiri hanya terdiam.

"Mending lo akuin aja, Al. Tiati kena karma," ucap Erlang.

"Ntar giliran lo nyadar, Varsha udah sama yang lain." Azzam terkekeh pelan.

"Al."

Al, Azzam dan Erlang mengalihkan pandangan mendengar suara yang memanggil nama Al. Amara berjalan mendekati Al sambil tersenyum manis.

Erlang menepuk bahu Al lantas berlalu meninggalkan Al bersama Amara. Begitu juga dengan Azzam.

"Al, lo sibuk nggak?" tanya Amara yang kini sudah berada di depan Al.

"Kenapa?"

"Gue ada ulangan fisika tapi mendadak gue lupa. Bisa ajarin gue sebentar nggak?"

Al mengangguk.

AlvarshaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang