Rangga berjalan mondar-mandir di depan rumah Amara. Amara belum pulang. Rangga khawatir dengan Amara. Bodohnya, tadi dia tidak langsung menyusul Amara sehingga harus kehilangan Amara.
Rangga terdiam melihat taksi yang berhenti di depannya. Amara turun dari taksi tersebut. Al sendiri tadinaya berniat turun, namun melihat ada Rangga, Al mengurungkan niatnya.
Dengan cepat, Rangga mendekati Amara. Dia memegang kedua lengan Amara yang masih menunduk.
"Mara, lo darimana? Gue khawatir nungguin lo. Sorry, gue nggak ada maksud nampar lo tadi."
Amara memeluk Rangga. Kembali menangis.
Al tersenyum di dalam taksi lantas meminta sopirnya untuk pergi.
"Maaf, Ngga," ucap Amara dengan suara parau.
Rangga mengusap lembut punggung Amara. "Jangan ulangi lagi ya. Gue khawatir, gue nggak mau terjadi sesuatu sama lo. Untung tadi Lova liat lo pergi, jadi gue bisa susulin. Coba kalo nggak, gue nggak tau apa yang terjadi sama lo di sana."
"Hiks mama... papa... Al..."
"Ssttt.... gue ngerti lo lagi kacau. Udah ya. Mending sekarang lo ke rumah gue aja, ya."
Amara mengangguk pelan. Tanpa melepaskan pelukannya pada Rangga, mereka berdua berjalan menuju rumah Rangga.
***
Varsha berjalan pelan memasuki rumahnya. wajahnya sendu. Rasanya masih sangat sakit. Mengingat Al masih sangat perhatian ada Amara padahal dirinya sekarang adalah pacar Al.
Sesampainya di kamar, Varsha langsung mandi untuk menyegarkan hati dan pikirannya tapi semua itu percuma. Bukannya sembuh, nyeri di hati Varsha justru semakin menjadi-jadi. Memori itu terus terputar di otaknya.
Varsha mendongak ke atas mencegah air mata yang sudah berada di pelupuk matanya jatuh. Namun gagal. Air mata itu tetap jatuh. Dengan cepat, Varsha segera menghapusnya.
“Sha, jangan cengeng.”
Tar!
Varsha terdiam mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Petasan. Varsha beranjak dari tempat tidur yang sedari tadi didudukinya lantas membuka pintu balkon. Varsha berjalan menuju balkon menatap langit yang kini bertabur cahaya warna-warni yang berasal dari petasan.
Tanpa sadar senyum Varsha mengembang. Sudah lama Varsha tidak melihat petasan dan itu sangat indah. Mata Varsha terus tertuju pada petasan yang memberikan warna di langit.
Varsha mendesah kecewa ketika petasan itu habis. Varsha berniat kembali ke dalam kamar namun urung karena sebuah lampion terbang tepat di depannya. Pada lampion itu tertulis kata ‘maaf’.
Varsha membiarkan lampion itu terus terbang ke langit. Kepalanya kini menunduk ke bawah menatap seorang cowok yang berdiri di bawah dengan kepala mendongak menatapnya. Al.
Al tersenyum tipis. Dia menggerakkan tangannya memberitahu Varsha untuk turun. Varsha mengangguk lantas memasuki kamarnya untuk turun menemui Al.
“Al?” panggil Varsha ketika telah sampai di hadapan Al. Dia berjalan mendekati Al.
Al menatap lekat mata Varsha masih masih terlihat merah akibat menangis. Nyeri terasa di hatinya. Tangan Al bergerak menangkup pipi Varsha membuat gadis itu menegang sejenak.
“Plis jangan nangis.”
Varsha tersenyum. Dia memegang tangan Al yang menangkup pipinya. “Aku nggak papa.”
“Tadi gue liat Amara jalan sendirian. Dia keliatan kacau. Gue nggak tega makanya gue samperin. Pipinya merah dan kata Amara, dia ditampar Rangga. Gue nggak tega, Sha, biarin dia pulang sendirian dalam keadaan kayak gitu,” jelas Al. “ Lo ngerti, kan?”
“Iya, aku ngerti kok.” Varsha tersenyum tulus.
“Gue punya sesuatu buat lo.” Al melepaskan tangannya dari pipi Varsha lantas merogoh saku celananya. Al mengambil sebuah kalung liontin berbentuk lingkaran kecil dari sana.
Senyum Varsha mengembang ketika kalung itu melayang tepat di hadapannya. Tangan Varsha menyentuh bandul kalung itu. Bandul kalung itu bergerak berbalik menunjukkan sebuah tulisan di belakangnya.
“Alvarsha,” ucap Varsha membaca tulisan itu. Varsha menatap Al lantas tersenyum.
“Gue pakein,” ucap Al.
Varsha mengangguk. Dia menyampingkan rambutnya sedangkan Al melepas kaitan kalung itu. Setelah itu, Al memasangkan kalung itu ke leher Varsha.
Varsha hanya bisa tersenyum. Tidak ada lagi yang bisa gadis itu lakukan selain tersenyum. Varsha sangat bahagia. Dia menatap wajah Al yang tampak serius memasangkan kalung di lehernya. Al menatap Varsha lantas tersenyum tipis.
“Makasii,” ucap Varsha setelah Al selesai mengaitkan kalung liontin itu di lehernya.
Al mengangguk singkat. Dia berjongkok mengambil dua buah petasan yang diletakkan di bawahnya. Al menunjukan petasan itu pada Varsha. “Mau main petasan?”
Varsha mengangguk semangat. Al memberikan satu petasan itu pada Varsha. Tangan Al menggenggam tangan Varsha lantas menarik lembut gadis itu ke tempat yang lapang untuk bermain petasan. Taman rumah Varsha.
Varsha berteriak kegirangan ketika petasan itu meledak di angkasa. Bukan hanya bermain petasan yang membuat Varsha senang tapi juga karena Al yang bermain petasan bersamanya.
Rupanya, bukan hanya petasan yang dibawa Al, tapi ada juga kembang api. Al begitu niat mengajak Varsha bermain di malam hari. Senyum di wajah Varsha tidak kunjung pudar. Dia bahkan sudah melupakan jika beberapa menit yang lalu dia baru saja menangis karena Al.
Al menyalakan dua buah kembang api panjang yang dipegang Varsha. Percikan api tercipta di kembang api itu. Varsha tersenyum. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, berputar-putar, menggerakan kedua tangannya. Menari-nari di bawah langit malam dengan memegang kembang api di kedua tangannya.
Al tersenyum bahagia melihat itu. Senyum lebar yang jarang dia tunjukkan pada orang lain. Al ikut menyalakan kembang api lantas menggerak-gerakkannya. Namun, Al tidak menari seperti Varsha.
Lelah terlalu lama menari-nari, kini Varsha mendudukkan tubuhnya di samping Al yang lebih dulu duduk di rerumputan. Varsha menoleh ke samping. Menatap Al yang tengah menatapnya lekat.
“Makasii buat malam ini,” bisik Varsha.
***
Varsha berjalan memasuki kamarnya dengan senyuman di wajahnya. Rasa bahagia itu masih dapat Varsha rasakan. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kedua tangan yang direntangkan. Senyuman masih tercetak jelas di wajah Varsha.
DrrttDrrtt
Varsha meraih ponselnya yang berada di atas nakas ketika mendengar getaran ponselnya. Ada pesan masuk dari Al.
Al : Sha, kerjain soal ini. Besok kasih tau gue
Al : Sebuah benda memiliki luas penampang 25 m^2. Berapakah gaya yang diperlukan benda itu untuk mendapat tekanan sebesar 3649 Pa?
Al : Selamat mengerjakan Varsha
Varsha tersenyum lantas menjawab pesan dari Al. Setelah itu dia memutar otaknya.
“Ini materi apaan ya?”
Varsha berdcak sebal lantas menuju meja belajar dengan malas-malasan. Gadis itu membuka buku cetak fisika lantas membuka lembaran buku itu satu persatu untuk mencari rumus yang dia perlukan. Setelah beberapa menit, Varsha menemukan rumus singkat yang dibutuhkannya. Varsha mengambil sebuah kertas hvs dan juga pensil.
“Tekanan rumusnya gaya dibagi luas penampang,” ucap Varsha sambil menggoreskan pensil ke kertas hvs.
“Jadi, kalau nyari gaya gimana caranya?”
Diam beberapa saat, Varsha bingung harus mengapakan soal itu. Varsha memejamkan matanya lantas menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Pindah ruas. Operasinya diganti berlawanan,” gumam Varsha. Dia mengetukkan pensilnya ke dagu. “Jadi, kalo nyari gaya rumusnya tekanan dikali luas penampang.”
Varshe menjentikkan jarinya. “Ah, kalo gitu sih gampang. Jadi, jawabannya 3649 dikali 25, jawabannya… hp mana kalkulator!”
Varsha beranjak dari tempatnya untuk mengambil ponselnya. Setelah itu, dia kembali duduk dan mulai mengetikkan angka itu di ponselnya. “3649 dikali 25 hasilnya… 91225. Nah ketemu. Tumben Al ngasih soal gampang?”
***
“Al!” panggil Varsha saat mendapati Al yang tengah berjalan di koridor keesokan harinya. Al berhenti lantas menoleh menatap Varsha.
“Al, aku udah nemu jawabannya!” seru Varsha senang.
Gadis itu mengeluarkan kertas hvs yang semalam digunakannya lantas memberikannya pada Al tanpa peduli mereka masih berada di koridor.
“Bener, sekarang, lo artiin.”
“Ha?” Varsha menatap Al cengo.
Al terkekeh. Dia menarik lembut Varsha menuju kursi panjang di depan salah satu kelas.
“Gimana artiinya, Al?” tanya Varsha.
“Gini kalo angka satu itu a, dua b, tiga c, sampe seterusnya.”
Varsha manggut-manggut. Gadis itu mengeluarkan pensil lantas kembali menulis angka 91225. Di bawahnya, Varsha menulis hurufnya.
“9i 1a 2b 2b 5e. Iabbe.” Varsha menatap Al heran.
Al tersenyum kecil. Dia membuat slash di antara angka 9 dan 1 dan angka 2 dan 2.
“Cari lagi.”
Varsha kembali menghitung angka tersebut menggunakan jarinya lantas menuliskannya di kertas tersebut.
“9i 12l 25y. Ily.” Varsha mengusap tengkuknya. “Maksudnya?” Varsha mendongak menatap Al yang tersenyum tulus padanya.
“I love you.”
***
See u
KAMU SEDANG MEMBACA
Alvarsha
FantasySetelah kedatangan Varsha Callista Valencia, Alfarellza Keandre Asvathama harus terjebak dengan gadis cantik yang terus mengejar dirinya tanpa malu tapi sialnya gadis itu justru selalu membuat hatinya menghangat. Tapi Al tetaplah Al. Bagi dirinya...
